k3qj7

Bawalah Kami ke Jalan yang Benar

Apa yang tergambar dalam benak dan laku para pejabat dan para penguasa padasaat menerima amanah? Kita tidak dapat menebak karena itu adalah masalah hati,bersifat rahasia di antara dirinya dan Allah Swt. Akan tetapi, Allah yang MahaBerkuasa menunjukkan melalui perilaku pejabat itu, penguasa itu. Amanah dapat dimaknaisebagai pertanggungjawaban terhadap pihak yang memilihnya. Dengan demikian,pejabat dan penguasa yang benar akan selalu menanyakan setiap langkah dankebijakan yang diputuskan kepada pihak yang memilihnya. Pemilihannya tentu sajaberdasarkan kriteria tertentu. Seseorang diamanahi sebagai Menteri Pendidikandan Kebudayaan karena dipercayakan untuk menjalankan berbagai kebijakan presidendi bidang pendidikan dan kebudayaan. Presiden tentu sebaiknya dan seharusnyatelah meraba dalam dirinya apa yang dibutuhkan rakyat dan apa yang diperlukanuntuk memartabatkan di bidang pendidikan dan kebudayaan. Jadi, terjadi kesalingkaitan.,tidak bisa mandiri, kebebasan terbatas. Terbatas dalam menentukan pilihan dankebebasan dalam menerapkan kebijakannya.

Para kepala daerah yang diamanahi para rakyatnya semestinya telahmengetahui secara mendalam apa kehendak rakyatnya, bagaimana kehidupan rakyatsekarang dan apa yang harus dilakukannya agar kehidupan rakyat menjadisejahtera, aman, dan nyaman. Kehendak rakyat itu sederhana, bawalah kami ke jalan yang benar dengan carayang benar. Permintaan sederahana ini susah untuk diterjadikan. Beberapakepala daerah mampu menjalankannya dengan baik. Mereka mengabdi pada rakyatdengan menjalankan program prorakyat. Rakyat mengelu-elukannya dengan semangat dan memercayai pada periodeberikutnya. Akan tetapi, banyak kepala daerah yang lupa janji, lupa diri, matirasa. Mereka asyik dengan rencana sendiri yang telah disiapkan sejak dini,sebelum terpilih jadi kepala daerah atau anggota dewan. Janji masa kampanyehanya sebagai pembuka untuk menutup niat sesungguhnya yang tersembunyikan.

Ke manakah mata, telinga, dan hati para pejabat dan penguasa yang selamaini tidak ada di tengah-tengah rakyat?Pejabat dan penguasa yang seperti iniasyik dengan gayanya sendiri. Mereka asyik dengan narkoba, dengan gaya hidup mewah,dengan mengambil hak rakyatnya, memerkaya diri tanpa kerja lelah dan keras,sibuk mengedarkan proposal, sibuk meminta proyek. Apa yang terjadi di lapanganditinggalkan begitu saja, tidak pernah ditengok, ditanya. Waktu mereka habisuntuk menjalankan segala hal yang akan berdampak pada kehidupan dirinya dankeluarganya serta lingkungan yang mendukungnya. Pikiran tentang rakyatnya tidakdimunculkan karena tertutup dengan kepentingan dirinya. Bahkan kepentingandirinya tidak pernah selesai. Oleh karena itu, KPK atau BNN yangmenyelesaikannya.

Mementingkan diri sendiri memang tidak akan pernah selesai. Diri sendiriyang dibiarkan berjalan seiring dengan nafsu cenderung tidak terkuasai. Hatidan pikiran tidak sejalan. Apa yang terjadi pada masa yang akan datang padadirinya dihiasa dengan kekuasaan, keenakan, keinginan menguasai orang lain demikepentingan dirinya, nafsu dilayani lebih besar dibandingkan dengan keingianmelayani. Padahal mereka adalah pelayan rakyat yang semestinya mengabdi padakepentingan rakyat.

Peristiwa yangsekarang terjadi sangat memprihatinkan. Peristiwa korupsi betul-betul di luarnalar kita yang berpikiran sederhana. Peristiwa pejabat militer, bupati yang terkenanarkoba mencengangkan rasa kita. Keinginan para pejabat berganti mobil dinasjuga menghenyak naluri yang sedang asyik merenungi hidup. Mau dibawa ke mananegeri ini? Apa yang salah dengan negeri ini? Apakah kita kurang bersyukur?Apakah kita salah menerapkan sistem? Apakah kita salah menempatkan pikir danhati dalam tubuh ini?Apakahkita tidak berbuat apa-apa? Kita dapat menyusun sekian pertanyaan tentangkondisi negeri tercinta kita.

Rakyat tidak akan pernah mengajukan keinginan secara nyata, berterusterang. Ia akan menyikapi dengan diam. Akan tetapi, sebagian rakyat menyatakandengan lantang kehendak melalui berbagai media. Pernyataan kehendak berubahbanyak disuarakan akademisi, tokoh penting negeri. Akan tetapi, memang banyakyang tidak mau berubah karena telah memeroleh kenyamanan dalam kondisi kini.Kita khawatir bahawa pernyataan itu sekedar pada surat kabar, pada berita.Tampaknya banyak pejabat atau penguasa yang tidak akrab dengan bacaan, denganberita. Banyak di antara mereka yang tidak mengetahui bahwa teman-teman pejabatdan pengausa ditangkap KPK karena pada hari berikutnya dialah yang ditangkapKPK, yang ditangkap BNN, yang dibicarakan para ahli. Setiap hari dimuattulisan-tulisan kritik-positif-konstruktif pada surat kabar tentang berbagaikebijakan pemerintah dan peristiwa yang berlangsung, masih aktual. Tentangkondisi sosial yang berkembang dan tulisan itu berkehendak ke arah yang baik.Analisis para ahli cukup tajam dan beralasan. Kritikan yang dimuat melalui mediaelektronik juga cukup baik, cukup tajam dan sebentulnya dapat dijadikan sebagaipengingat. Para pejabat dan penguasa itu terkadang hilang ingatan. Pada saatmasa kampanye fasih melafalkan janji dan kelu mulut pada saat diminta janji.

Ada di manakah para pejabat atau penguasa pada saat berita disiarkan dankoran diedarkan. Kepekaan para pejabat dan penguasa tampaknya telah terkikis. Kondisimasyarakat, negara, dan bangsa tidak menjadi perhatian untuk diselesaikan.Bagaimanakah membayangkan anggota dewan menerima uang 1 miliar, 2 miliar secaratunai. Bagaimanakah membayangkan annggota partai meminta jatahsekian persen dari proyek yang digarap. Apa yang terjadi dengan hati mereka.Perhatikan pada saat koruptor itu keluar dari kantor KPK, tidakada tampak sesal, masih bisa senyum, masih dapat mengatakan (Silakan tanyakan kepada pengacara saya).Bagaimana membayangkan koruptor menyatakan bahwa yang terjadi pada dirinyaadalah takdir. Apa yang mereka tahu tentang takdir. Allah adalah Mahabaik (Wahai orang-orang yang beriman, makanlah makanan yang baikdari rezeki yang Kami berikan kepada kalian (Q.S Al Baqoroh:172).Pada saat tertangkap selalu ada pihak yang disalahkannya. Dijadikankambing hitam. Kata-kata yang meluncur dengan mudahnya tidak dipikirkanmaknanya. Perilaku ini sebenarnya bagian dari pribadinya yanng sebenarnya,bahwa pada umumnya pejabat yang korup itu tidak melandaskan perbuatannya padakekuatan kata dan iman. Mereka melakukan segala halyang dapat memberikan keuntungan kepada dirinya. Hidupmereka hanya mencari keuntungan, kelebihan dengan tidak mempertimbangkan baikdan buruknya. Perhitungan halal dan haram tidak digunakan meskipun sebetulnyamereka mengetahuinya.

Berbuatmesti dimulai dengan kemampuan memahami jalan yang akan ditempuh. Kita yakin bahwapara koruptor itu mengetahui korupsi itu merugikan rakyat, tidak sesuai denganhukum. Pencandu narkoba itu tahu bahwa perbuatan itu salah, menyalahi aturan,menyiksa dirinya, merugikan orang lain. Mengapa mereka berbuat juga? Logikamereka tidak bersambung dengan hati. Perhitungan mereka miring ke kiri,keinginan keuntungan sendiri, tidak memerhatikan kondisi yang bakaldialami orang lain.Mereka takut tidak dapat menjalankan hidup denganbaik tanpa harta yan banyak. Mereka tidak mengkhawatirkan kehidupan orang lain.Perihal hidup orang lain bukan bagian dari rencananya menjadi pejabat ataupenguasa.

Perubahan orientasi dapatdijalankan dengan begitu mudahnya oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawabterhadap dirinya dan orang lain. Jabatan bagi mereka adalah menaikkan peringkatsosial dalam pandangan masyarakat. Mendapat posisi yang memudahkan melakukansegala hal yang diinginkannya, dapat merancang program yang dapat membahagiakandirinya dan kelompoknya, dapat membelokkan program untuk keuntungan dirinya.Jabatan tidak dipandang sebagai media pengabdian, sebagai ibadah untukmengumpulkan bekal kelak di akhirat. Mereka sibuk dengan membekali dirinyauntuk kehidupan selanjutnya, kehidupan setelah selesai menjabat. Kata selesaibagi mereka sangat penting, karena berhubungan dengan waktu. Perburuan kekayaanmesti dilakukan. Tampaknya tujuan hidup bagi orang-orang seperti ini adalahmembahagiakan dirinya di dunia semata. Orientasi ini menjadikan hidup merekapendek, pikiran dan hati sempit, tidak menyisakan bagi rakyatnya yang banyakberharap.

Para pejabat yang korupmemberitahukan kepada kita sebagai rakyat untuk berhati-bati dalam menentukanpilihan. Begitu banyak orang yang mencalonkan kepala daerah atau anggota dewandengan tujuan yang sangat jelas pada keinginan menduduki jabatan saja tanpamengetahui apa yang harus dilakukan dalam jabatan tersebut. Berapa banyakpejabat yang berhasil menjalankan tugasnya? Tidak terlalu banyak dan lebihbanyak yang tidak berhasil. Mereka hanya bangga disebut sebagai pejabat tanpamengenal karakter daerahnya serta kondisi rakyatnya. Apa yang mereka lakukanselama satu periode adalah mencari bekal untuk menutup dana kampanye atau  untuk menyiapkan dana kampanye berikutnya.

Dana menjadi pemimpin itumenjadi alasan bagai pejabat dan angota dewan berperilaku mengumpulkandibanding dengan mengabdi, memerhatikan kehidupan rakyatnya. Sistem kita memaksa para calon kepala daerah atau calon anggota dewanmenyiapkan dana sebelum menduduki jabatan itu. Jadi, jabatan itu berharga sertamempunyai harga. Ia harus dibeli dengan usaha dan uang. Orang-orang cerdas,jujur, dan berkaraktei  tidak serta mertaakan jadi kepala daerah atau anggota dewan tanpa didukung dengan dana yangcukup besar. Dengan sistem ini tidak dapat dihindari jabatan sebagai bagiandari nafkah. Berbakti dengan memeras tenaga dan pikiran tidak menjadi alangandibayar karena aturannya jelas. Akan tetapi, tidak boleh membayangkan bahwadengan jabatan itu kekayaan akan bertambah. Akan tetapi,  pada kenyatannya banyak pejabat bertambahkekayaannya berlipat. Penambahan kekayaan sering kali tidak masuk akal, tidaksejalan dengan gaji yang diterimanya. Pada banyak kasus kekayaan ini diperolehmelalui korupsi. Oleh karena itu, banyak pejabat dan para anggota dewan yangtertangkap KPK.

Tampaknyakita harus menarik orang-orang yang cerdas untuk membantu mengembangkan negaradengan mempertimbangkan kesejahteraan rakyat sebagi tujuan utamanya. Orng-orangcerdas, bertanggung jawab, berkarakter masih banyak, masih bertebaran di negarakita. Kita dorong orang-orang yang bekepekaan tinggi untuk menduduki jabatankepala daerah atau anggota dewan. Kita ketuk hati rakyat, hati kita untukmendanai menuju jabatan tertentu. Kitaharus mengapresiasi teman-teman di Jakarta dan di Yogyakarta. Mereka telahmemerlihatkan kepekaan dan kepedulian terhadap kondisi bangsa ini. Kita yakinbahwa bangsa dan negara ini akan maju bila kepala daerah dan anggota dewanbersepakat untuk memajukan rakyatnya, bukan memajukan dirinya. Insya Allahbangsa kita adalah bangsa yang mampu bergotong royong dalam kebaikan jika adatokoh yang memerlihatkan kepeduliannya. Tokoh pengerak yang kini kurang. Kitabelum mempunyai tokoh ikhlas yang memerlihatkan kepedulian terhadap kemajuanbangsa. Kita harus yakin bahwa tokoh ituada. Kita harus mencari bersama-sama. Tokoh yang terbebas dari rasa inginmemiliki kekayaan berlebihan, mementingkan kesejahteraan rakyat, tidak akanpernah menyentuh narkoba, benci pada ketidakadilan, tidak takut pada preman,hanya takut pada Allah semata. Pemimpin memang harus diberikan kepada orangyang dipilih karena memenuhi kriteria, Ketika sahabat NabiSAW, Abu Dzarr, meminta suatu jabatan, Nabi saw bersabda: “Kamu lemah, danini adalah amanah sekaligus dapat menjadi sebab kenistaan dan penyesalan dihari kemudian (bila disia-siakan)”. (H. R. Muslim). Sikap yangsama juga ditunjukkan Nabi saw ketika seseorang meminta jabatan kepada beliau, dimanaorang itu berkata: “Ya Rasulullah, berilah kepada kamijabatan pada salah satu bagian yang diberikan Allah kepadamu.”Maka jawab Rasulullah saw: “Demi Allah Kamitidak mengangkat seseorang pada suatu jabatan kepada orang yangmenginginkan atau ambisi pada jabatan itu”.(H. R. Bukhari Muslim).

Semoga Allah memberikan petunjuk kepada kita dalam menentukan pilihan pada pemilu dan semogaAllahmenyadarkan pejabat dan anggota dewan untuk selalu mendahulukan kesejateraan rakyat sesuai dengan amanahyang diembannya. Amin.

12/4/16. Dimuat pada Radar(Selasa, 12 April 2016)

Abdul Rozak, Guru Besar pada FKIP-Unswagati Cirebon.