KEKUASAAN YANG MENOLONG

Sebelum pemilihan berseliweran ajakan, informasi, dan desakan untuk memilih calon tertentu dengan alasan tertentu yang subjektif. Pilihannyalah yang terbaik. Pilihan memang tidak pernah objektif. Sulit menentukan dasar pilih dengan keterbukaan, dengan keyakinan bahwa pilihannya akan membawa kesejahteraan, bahwa pilihannya memang mempunya kelebihan dalam berbagai hal. Setiap orang mempunyai kemungkinan berbuat baik dan berbuat salah. Para pendukungnya yang membesarkan kelebihannya (menurut pendukungnya) dan meniadakan kelemahannya. Kampanye selalu mengarah kepada hal-hal baik yang akan dilakukan. Janji yang diucap begitu saja seketika dengan harapan rakyat memilihnya. Target peserta pilkada bertujuan bagaimana agar terpilih. Mereka melakukan berbagai cara yang mungkin atau tidak mungkin, yang baik atau agak buruk, yang irrasional di antara yang rasional.

Kampanye adalah hak peserta dan pendukungnya. Tujuan pencalonan selalu ditekankan pada kemenangan. Oleh karena itu, jalan berkampanye selalu cenderung pada pencarian jalan menang. Mereka sulit menerima kekalahan. Kekalahan harus dihindari dengan berbagai cara. Tekanan ini dipahami berhubungan dengan dana kampanye yang besar (mungkin lebih besar daripada penghasilan selama 5 tahun, jika terpilih). Dana yang telah dikeluarkan untuk kampanye dan lain-lain tidak boleh sia-sia. Jika tidak menang dana itu tidak akan kembali. Banyak  kasus bahwa calon bangkrut ketika kalah dalam pemilihan. Kekayaannya habis, utang menumpuk, terkadang teman-teman juga menjauh karena mereka menduga calon yang kalah itu tidak lagi mempunyai kekayaan, tidak memberikan keuntungan.

Apa yang diharapkan rakyat setelah pemilihan itu? Pada umumnya, mungkin rakyat tidak mempunyai harapan, atau harapannya tidak pernah dimunculkan. Rakyat memercayai bahwa demokrasi ini akan membawa kesejahteraan atau setidaknya proses yang akan mengubah kondisi menjadi lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Rakyat mengharapkan perubahan positif yang terjadi dan diterjadikan para pemimpin terpilih. Mungkin pada suatu saat kita mendapatkan pemimpin yang mempunyai tingkat tinggi kepedulian terhadap harapan rakyat.

Pergerakan tingkah laku pemimpin dipengaruhi banyak hal di samping peraturan yang mengikat. Pengaruh yang terkuat seharusnya niat. Niat ini yang beragam, tidak dapat ditebak, berubah-ubah mengikuti kondisi yang terjadi dan orang kuat. Padahal niat diri yang seharusnya dilekatkan pada Allah yang Mahakuasa. Jika pemimpin yang terpilih itu mencalonkan karena Allah, Insya Allah akan membantu orang yang memerjuangkan kebenaran. Pandangan terhadap jabatan merupakan titik awal perilaku penjabat dalam menjalankan kekuasaannya. Bagaimanakah karakter kekuasaan itu. Pertama, kekuasaan terbatas.  Peraturan membatasi gerak penguasa. Periode berkuasa 5 tahun dan boleh bertanding lagi pada periode kedua. Perilaku dalam menentukan kebijakan harus sesuai dengan SOP. Pelanggaran terhadap aturan dikenai sanksi. Pada posisi inilah banyak penguasa yang sengaja melanggar aturan karena desakan dari berbagai pihak, terutama kelompok yang mendukung, yang menagih. Pada posisi inilah seharusnya penguasa sejak awal mempunyai kemandirian dalam segala hal. Kemandirian yang sesungguhnya adalah taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Inilah kemerdekaan yang hakiki, tidak tunduk terhadap kemauan orang lain dan terhadap nafsunya. Gejala ini yang tampak menggejala di negara kita, kecuali sebagai kecil penguasa yang berpendirian kuat mengikuti aturan. Keterbatasan ini seharusnya digunakan untuk merancang program tepat sasaran. Batas itu seharusnya mendorong bergerak dengan kecepatan tinggi. Batas itu yang seharusnya program dilaksanakan tepat waktu, tidak ada penyia-nyiaan segala hal. Penguasa terkadang lupa mencantumkan masa kekuasaannya dalam jadwal kerjanya. Penguasa yang baik mesti ingat akan waktu. Dai tidak akan memasukkan dirinya ke dalam manusia yang merugi karena menyia-nyiakan waktu.

Kedua, kekuasaan perlu dipertanggungjawabkan. Sejak dilantik penguasa bertanggung jawab terhadap rakyat dalam segala perilaku dan peri kata terutama kebijakan yang ditetapkannya. Rakyat akan memerhatikannya tanpa memberi tahu. Rakyat menyimak setiap gerak. Rakyat membaca bukti yang telah dibuat penguasa. Infrastruktur, harga pasar, keamanan, kenyamanan, layanan administrasi, layanan kesehatan, kemudahan mengakses segala hal yang dibutuhkan rakyat. Rakyat akan memutuskan pada pemilihan berikutnya. Penguasa harus mempertanggungjawabkan segala urusannya kepada pihak yang berwenang (DPRD, misalnya). Penguasa yang menyadari adanya pihak lain yang memerhatikan gerak geriknya, akan menyusun segala hal dengan dasar hukum sesuai dengan aturan yang berlaku. Jika langkah ini diambil, ketenangan akan mendekapnya, ketakutan akan sirna karena di bertindak benar. Semua akan mendukung karena benar, bukti terjelaskan. Tanggung jawab itu mudah dilaksanakan dengan keterbukaan. Semua pihak bisa melihat, bisa memeriksa dengan mudah. Tanggung jawab yang berat adalah terhadap Allah Subhanawataala. Jika semua penguasa telah terhubung  ke kondisi akhirat yang diinginkan, Isya Allah semua tertib dan tentram karena jangkauannya melampaui dunia.

Ketiga, kekuasaan itu amanah. Amanah bermakna segala hal yang tercantum dalam jabatan itu harus dijalankan. Jabatan itu sesungguhnya amanah untuk menjalankan perintah sesuai dengan isi jabatan itu. Sebagai kepala daerah (bupati, walikota), dia harus menjalankan segala perintah, seperti mengatur kota/kabupaten dalam berbagai hal sehingga rakyat dapat menjalankan hidup dengan baik, lebih berkualitas dari sebelumnya dengan anggaran yang tersedia. Penguasa yang amanah takut memerkaya sendiri dan kelompoknya. Kebijakannya mesti diarahkan kepada kepentingan rakyat. Dia khawatir akan dosa. Dalam pikirannya hanya ada kata rakyat dan takut dosa. Oleh karena itu, semua instruksinya kepada seluruh stafnya menjalankan tugas dengan baik dan dengan bersih, tidak boleh menyakiti rakyat. Kebahagian rakyat tujuan utamanya karena dalam rasa dan pikirnya kebahagian rakyat adalah kebahagiannya dan keluarganya, karena dia adalah rakyat yang sedang dipercaya, yang didudukkan rakyat sebagai penguasa daerah.

Keempat, kekuasaan itu menjalankan ragam kepentingan. Penguasa cerdas selalu menggabungkan berbagai kepentingan yang melekat pada dirinya menjadi kebijakan yang sejalan dengan kepentingan orang banyak dan tidak menyalahi aturan. Berbuat seperti ini sangat sulit. Memang menjadi penguasa, sesungguhnya adalah memecahkan kesulitan menjadi kemudahan. Penguasa bukan orang biasa, bukan orang kebanyakan. Dia orang pilihan yang telah melalui proses panjang dan rumit. Penguasa yang terpilih hanya karena mempunyai jalur, mempunyai dana, mempunyai keinginan meningkatkan kekayaan akan terjerumus. Dia akan mencelakakan dirinya. Betapa banyak kepala daerah yang telah tertangkap tangan oleh KPK. Penguasa seperti ini tidak cerdas. Mereka mendahulukan kepentingan diri dan kelompoknya. Rakyat dijadikan nomor kesekian, hanya sebagai ganjalan agar program kepentingannya berjalan dengan baik. Kecerdasan penguasa terletak pada kemampuan membaca rinci semua yang terjadi di masyarakat. Dia menjabarkannya dalam program yang dapat dibaca rakyat. Unsur keterbukaan dia pegang yang digabungkan dengan unsur kesiapan menerima masukan dari siapa saja yang peduli terhadap kemajuan daerahnya.

Kelima, kekuasaan itu mempunyai kekuatan dan kelemahan. Kekuasaan memberikan harapan dan ketakutan. Penguasa yang menyadari ini akan berhati-hati. Dia akan melangkah dengan penuh perhitungan. Kekuatannya dijadikan sebagai penutup kelemahan-kelemahannya. Dia tidak akan bersedih jika targetnya tidak tercapai sempurna. Kesempurnaan bagi dia adalah menjalankan kekuasaan sesuai dengan aturan yang beraku dan rakyat mendukungnya atas dasar kecintaan. Kecintaan inilah yang dia ingin raih. Kekuasaan tidak akan dia cintai, tetapi dengan kekuasaan ini dia mempunyai sarana mencintai rakyatnya. Dengan kekuasaan itu dapat dibuat kebijakan yang menyejahterakan rakyat dan dengan kekuasaan itu dapat membelokkan segala hal menuju kesenangan sesaat dirinya, keluarganya, dan kelompoknya. Kelemahan itu hanya dapat ditutupi dengan kekuatan dan itu terletak pada hati penguasa. Ke manakah hati bergerak menentukan masa arah kekuatan atau kelemahan.

            Keenam, kekuasaan itu bermartabat. Kekuasaan itu membawa martabat. Pandangan orang berbeda terhadap penguasa. Orang meninggikan karena jabatannya. Hormat berbeda karena pengaruh kekuasaan. Orang mengharapkan terjadi sesuatu pada lingkungan kekuasaan. Banyak keinginan ditanamkan pada diri penguasa. Jika banyak hal baik terjadi martabat kekuasaan itu melekat pada penguasa. Pada akhirnya penghormatan itu berbalik pada aktivitas dan kebijakan yang dilahirkan penguasa. Pengausa yang terkena kasus hukum tertentu membuat dirinya hancur, martabatnya tidak lagi menempel dan kekuasaan tetap ada menunggu. Jadi, sesungguhnya martabat itu terletak pada perilaku penguasa, pada orangnya. Orang bermartabat tidak tergantung pada kekuasaan. Pada saat ia kembali sebagai rakyat martabat itu tetap melekat pada dirinya. Orang tetap menghormatinya.

Ketujuh, kekuasaan itu tiket ke surga atau ke neraka. Niat berkuasa menentukan pilihan. Penguasa yang memanfaatkan dirinya untuk kebahagiaan orang lain, Insya Allah menuju jalan ke surga. Dia hanya peduli terhadap kebahagiaan rakyatnya. Pikiran dan perasaannya ada pada kebahagiaan rakyatnya. Pertanyaan bangun tidur  adalah apakah rakyatnya bisa tidur dengan nyenyak hari ini, apakah rakyatnya bisa makan hari ini, apakah anak-anak dapat bersekolah. Pertanyaan-pertanyaan penguasa akan menjadi dasar kebijakan melalui program-progam sebagai jawaban. Penguasa yang tidak bertanya tidak akan mencari jawaban. Segalanya dianggap selesai, tidak ada masalah. Hidupnya untuk diri sendiri.

Pada akhirnya kita berharap semua penguasa yang terpilih menggunakan kekuasaanya untuk menolong; menolong dirinya mengaktualisasikan kemampuannya; menolong rakyat menuju kesejahteraan dunia dan akhirat. Para penguasa terpilih masuk dengan cara yang benar.“Ya, Rabbku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan kelaurkanlah  aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong” (Al-Israa (17):80)

Cirebon, 25/6/2018

Abdul Rozak, Guru Besar pada FKIP-Unswagati Cirebon.

 

 

KEPEDULIAN PEMIMPIN DALAM KERAGAMAN

Hubungan selalu dibangun dengan dasar saling membutuhkan. Kita pada umumnya akan memertahankan keterpeliharaan hubungan karena sesungguhnya dalam hubungan itu terdapat kekuatan yang terbangun. Putusan yang dibangun dengan kebersamaan akan mudah dijalankan atas dasar kesepakatan di antara yang terlibat. Setiap orang selalu berusaha agar hubungan tetap terjaga dan selalu berusaha tidak pecah. Keterjagaan hubungan dalam situasi berkomunikasi bergantung kepada niat awal dibentuknya hubungan itu. Pihak-pihak itu menentukan terjaganya hubungan. Salah satu tidak mengindahkan akan terjadi perpecahan  yang berakibat pada putusnya hubungan dengan tidak diawali dengan kesadaran bersama.

Hubungan komunikasi terjadi secara sengaja, karena ada perjanjian awal yang di antara yang terlibat dan menyepakati butir-butir tertentu. Para unsur yang terlibat di dalamnya harus mengikuti apa yang telah dinyatakan dalam perjanjian, tertulis ataupun tidak tertulis. Di samping itu secara otomatis terjadi hubungan antara orang yang sebenarnya tidak saling mengenal, tidak ada perjnajian awal, tidak ketentuan tertulis di antara yang telibat. Akan tetapi, secara otomatis memang terdapat hubungan, manusia yang masuk ke dalam satu masyarakat,  karena merupakan bagian dari kesepakatan wilayah tertentu yang tidak saling mengenal seluruh anggotanya. Wilayah luas, seperti negara, kabupaten, atau kota sesungguhnya merupakan wilayah komunikasi. Di antara kita sesungguhnya terjalin hubungan tanpa saling memberi tahu, tetapi di antara kita saling tahu dan bersuara pada saat terjadi sesuatu yang mengganggu  terhadap hubungan yang lebih besar. Hubungan dengan ikatan kesepahaman inilah sebenarnya yang rumit tetapi jelas pada saat menyatakan kebersamaan. Kesatuan rasa dan keinginan terjaganya prinsip yang dipandang benar memudahkan dipertemukan dalam satu kegiatan. Banyak contoh menjelaskan kepada kita; peristiwa unjuk rasa, misalnya adalah contoh nyata dari ribuan orang yang tidak saling mengenal, tetapi disatukan dengan keinginan yang sama, memperjuangkan keinginan baik. Peristiwa perjuangan bangsa kita pada saat melawan penjajah. Para pahlawan bangsa itu berjuang di daerahnya masing-masing dengan tidak saling mengenal. Inilah komunikasi batin yang muncul dari rasa bersih, hati nuarani berbasis ikhlas hanya karena Allah. Para pahlawan memperjuangkan kesamaan kehendak,yaitu merdekan dari segala penjajahan.

Komunikasi itu penting dalam hal saling menjaga dan saling peduli. Kepedulian itu dimunculkan dalam perilaku yang tidak menyakiti pihak lain. Pemahaman terhadap posisi kita masing-masing akan terlihat dalam implementasi laku-kata. Pihak-pihak yang terlibat dalam berkomunikasi berjenjang karena sistem seperti tingkat atas, menengah, dan lapisan bawah (rakyat yang jumlah sangat banyak, mayoritas, tetapi tidak mempunyai kekuatan rutin). Kepala negara, para menteri, gubernur, wali kota, anggota dewan adalah pihak-pihak yang dapat menentukan arah kebijakan negara. Rakyat pada umumnya menjalankan (baca menerima) kebijakan negara; mungkin menyenangkan, mungkin juga sebaliknya. Rakyat menjadi objek dan kadang-kadang menjadi subjek pada saat-saat tertentu. Pada saat pemungutan suara rakyat menjadi subjek yang mempunyai kebebasan memilih sesuai dengan keinginan dan keinginan itu sering  bergantung kepada siapa yang memberikan kontribusi kepada dirinya dan kepada wilayahnya, kepada bangsa dan negaranya. Kebebasan itu tidak menjadi pokok pada saat pilihannya tidak menjadi bagian dari kemenangan. Pada umumnya rakyat bermimpi pada saat memberikan hak suara, haknya juga diperhatikan oleh yang terpilih. Hubungan mereka tidak sekedar pada saat kampanye.

Komunikasi antara rakyat dan para pemimpin terputus pada saat usai pemilihan. Calon pemimpin gencar turun ke lapangan pada saat kampanye. Mereka menyapa rakyat dengan sopan, dengan membawa angin segar, dengan menggambarkan program jika terpilih. Rakyat mendengar dengan baik, hanya mendengar karena kurang yakin jika menang akan menenangkan rayat. Komunikasi yang seharusnya terjalin adalah bagian batin. Para pejabat memahami keinginan rakyatnya. Mereka tidak berperilaku dan berperikata yang menyebabkan rakyat bereaksi. Ucapan-ucapan yang dilontarkan pada berbagai acara dan diberitakan melalui media massa atau kicauan melalui medsos diperhatikan rakyat, berjalan begitu saja tanpa kendali.

Di samping ucapan para pejabat, ucapan orang biasa atau luar biasa pun harus menentramkan rakyat. Setiap kata akan dicerna dengan berbagai makna dan kepentingan. Kata-kata yang terucapkan dengan pikiran dan timbangan rasa, Insya Allah tidak akan memunculkan reaksi tidak baik. Apa yang baru-baru ini terjadi (tentang puisi Sukmawati) harus menjadi perhatian para pejabat, apra tokoh, atau pada umumnya kita. Kita tidak sendirian di dunia ini. Segala hal gerakan kita diperhatikan. Oleh karena itu, kita berusaha untuk bertindak yang tidak mengundang perhatian dari masyarakat banyak. Mengapa tidak menggunakan kata yang menyejukan alih-alih menggunakan kata yang memancing “kemarahan”. Jika kata telah diucapkan, kata maaf memang dapat disampaikan, tetapi tidak menyelesaikan masalah karena masalahnya telah terlanjur ada. Orang bijak akan selalu memertimbangkan segala akibat yang ditimbulkan dengan munculnya kata-kata itu. Bahasa akan selalu membawa dampak; positif atau negatif. Oleh karena itu, mengapa tidak dirasakan sendiri sebelum orang lain merasakan.

Setiap orang memeroleh hak kebebasan bersuara dalam bentuk apa pun. Tulisan esai, deskripsi, eksposisi, narasi atau dalam bentuk syair (puisi). Kebebasan itu dalam arti yang sebebas-bebasnya tidak mungkin ada. Batasan di luar keinginan diri selalu ada. Orang bebas berpakaian, tetapi dibatasi dengan tata sopan pada saat berinterkasi dengan orang lain, pada saat ada hak orang lain yang harus dihargai. Gagasan seseorang dapat saja disajikan melalui berbagai cara dan media, tetapi harus diingat pada kata-kata itu memiliki kemampuan bermakna yang luas dari segi wilayah dan kepastian dari segi makan, meskipun orang yang berkepentingan memaknai sendiri. Kata  bisa lepas dari makna semula, makna yang direncanakan pengujar.  Kata memang netral, niat yang megendalikan dan niat terkadang bisa dibelokkan pada saat terkena kendala.niat terkadang ditafsrikan ornag lain yang mempunyai niat lain terhadap niat seseorang. Alasan dimunculkan untuk menutupi niat. Padahal niat itu dapat diketahui para pembaca/pendengar melalui rangkaian kata. Kata-kata itu sinyal yang memuat gagasan. Apakah orang sengaja menggunakan kata tertentu atau muncul begitu saja tanpa dipikirkan.

Bahasa itu olahan berbagai unsur yang saling berkaitan. Bahasa hanya sebuah media yang dikendalikan pengguna, tetapi pada saat tertentu akan membalik, meminta pertangungjawabn pengguna. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. (Q.S. Qaf:18). Berhati-hati pada saat mengucapkan kata,  karena itu menunjukkan dasar kuat dalam hal pengetahuan, perasaan, dan kepedulian. Pertimbangan hubungan dalam banyak hal menggambarkan kedewasaan. Prediksi terhadap segala hal yang akan terjadi pada masa depan sesungguhnya selalu menjadi perhatian bagi kita. Bahasa yang telah dipublikasikan akan cepat meluas tanpa kendali karena ia telah menjadi milik publik. Orang baijka tidak pernah berpikir apa yang diucapkannya hanya milik sekitar pada saat ucapan itu dikeluarkan. Bahasa (mulut dan kata) itu mampu menembus batas-batas wailayah fisik, mendunia. Semua orang berhak mendengarnya dan mengomentarinya jika bersentuhan dengan dirinya, bersentuhan dengan kelompok yang bergabung atas nama pribadi dalam satu keyakinan. Contoh telah banyak memberi tahu kita bahwa ketersentuhan masalah keyakinan, misalnya membangkitkan kesatuan tanpa  kenal nama, wilayah, suku dan pendidikan. Mereka menyatukan dalam satu keinginan untuk mempertanyakan, untuk mempertegas bahwa ada yang salah, bahwa ada yang harus diluruskan, bahwa yang harus diberitahukan, bahwa harus berhati-hati menyentuh wilayah yang sudah pasti. Ucapan yang ditujukan pada lingkup terbatas tidak dapat dibatasi karena ucapan adalah bunyi yang bebas mengudara, masuk ke telinga terbuka, membangun pikiran, perasaan dan tekad untuk merespons. Kondisi ini menuntut kita harus berhati-hati menggunakan bahasa. Banyak pertimbangan yang harus dilakukan dengan matang, dengan kedewasaan, dengan pengetahuan dan pengalaman serta perasaan yang melingkupi semua kepentingan. Pertimbangan dilakukan agar tidak menyinggung perasaan pihak lain, yang kenal maupun tidak. Pertimbangan jangkaun bahasa tidak dapat dilalukan karena tidak dapat dibatasi. Bahasa tidak mengenal batas wilayah. Bahasa dikenal langsung oleh pendengar yang berkepentingan atau menjadi berhubungan karena ada koneksi atas dasar tertentu yang tersentuh oleh bahasa.

Persentuhan antara pihak yang berkomunikasi terjadi. Hubungan diri, gagasan, dan itikad terjadi dalam silang kata bermakna. Semua ucapan merupakan wakil diri yang memberitahukan pikiran dan perasaan. Persentuhan itu diharapkan membawa kebaikan dan perbaikan bagi semua yang terlibat dalam wilayah komunitas. Dalam bentuk apa pun ungkapan dinyatakan seharusnya mewakili niat baik dan dinyatakan denagan cara yang terbaik. “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk” (An-Nahl: 125). Cara menentukan tersampaikannya tujuan secara mudah atau susah atau mungkin tujuan tidak tercapai. Apa yang dikatakan berhubungan dengan bagaimana mengatakannya. Orang bijak selalu mengedapankan penghormatan, pendugaan bahwa pihak yang ditujunya cerdas, mempunyai pengetahuan. Orang bijak tidak akan menyamakan orang lain dengan dirinya dalam hal tertentu, tetapi menyamakannya dalam hal umum; orang sakit bila disakiti, orang senang bila dihormati, orang senang bahagia, dan seterusnya. Oleh karena itu, ucapan sejuk, penuh makna menutupi ucapan kasar dan suwung makna.

Apa yang harus diberi tahu jika kita tidak tahu. Apakah orang akan menjadi tahu, jika kita tidak tahu? Mengapa ketidaktahuan itu harus diungkapkan dengan membandingkan yang tidak sejajar yang justru menjauhkan dari maksud? Jika tidak tahu, kewajiban kita mencari tahu, mencari ilmu. Ucapan ketidaktahuan tidak selalu bijak ditutupi dengan yang diketahui. Cara ini tidak menyelesaikan masalah. bahkan memunculkan masalah baru yang tidak diperkirakan muncul lebih besar. Perbincangan di wilayah bebas selalu terjadi. Semua orang seolahterlibat, seolah tahu tentang berbagai hal, seolah mempunyai kuasa untuk mengatakan apa pun menurut versinya dan menyebarkannya karena mengenal beberapa orang, karena mempunyai kelompok tempat berbagi. Percekcokan akan selalu terjadi selama kita tidak menyadari batas wilayah jangkauan dan kepedulian terhadap tetangga, terhadap keluarga, dan negara. Rasa hormat terhadap sesama dapat membuat kondisi komunikasi kondusif, perbincangan membangunkan kedewasaan, ucapan pemnuh hikmah. Semua ihak yang terlibat dalam komuitas itu bahagia karena menjaga mulut dan tanggnya. Kedua unsur itu hanya digunakan untuk saling menjaga, menghormati, dan membahagiakan. Ucapan yang mengjak kepada kebaikan. “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi shodaqoh atau berbuat ma’ruf atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.” (Annisa: 114)

Dimuat pada Kabar Cirebon, 17 April 2018

Abdul Rozak, Guru Besar pada FKIP-Unswagati Cirebon.

Mengukur Saja Tidaklah Cukup

Baru-baru ini, siswa Singapura memperoleh nilai teratas dalam tes global untuk matematika, ilmu pengetahuan dan membaca dalam Programme for International Student Assessment (PISA). Sambil kita merayakan keberhasilan ini, kami juga harus meluangkan waktu untuk mempertimbangkan apakah pengukuran kuantitatif ini cukup untuk mengukur potensi pelajar.

Penilaian terhadap siswa umumnya dikaitkan dengan tes dan ujian formal, tetapi terlalu berlebihan menyandarkan penilaian pada ukuran kuantitatif tersebut dapat menyebabkan kita melupakan apa yang bernilai dalam pendidikan. Kami berbicara kepada Dosen National Institute of Education (NIE) Singapura Dr. Tay Hui Yong dalam rangka menambah wawasan para guru demi meningkatkan pembelajaran terhadap siswa terkait penilaian.   

Di Singapura di mana penerimaan siswa sekolah yang kompetitif sebagian besar didasarkan pada hasil siswa, nilai-nilai ujian merupakan komponen penting dari penilaian terhadap siswa. Tetapi nilai-nilai ujian tersebut tidak harus menjadi segalanya.

Mengukur Apa yang Kita Nilai

mengukur-saja-tidak-cukup

Tay Hui Yong ingin agar guru tahu bahwa mereka memiliki otonomi dan kekuatan untuk melakukan lebih dari sekedar membawa siswanya sukses pada ujian nasional.

“Sementara sekolah memiliki perhatian kepada apakah siswanya belajar, pertanyaannya adalah apakah bukti belajar hanya terletak pada pengukuran, terutama oleh nilai tes,” kata Hui Yong, yang berasal dari Kelompok Akademik Kurikulum, Pengajaran dan Pembelajaran serta melakukan penelitian di bidang penilaian (assessment).

Ketika pengukuran kuantitatif seperti yang telah ada dilaksanakan apa adanya, kita menjalankan risiko mereduksi belajar siswa hanya ke nilai angka-angka belaka. Sebaliknya, nilai ujian harus dilihat sebagai indikator kapasitas siswa saat ini untuk membantu guru merefleksikan bagaimana mereka dapat lebih membantu siswa tumbuh dalam potensinya.

“Kita kadang-kadang begitu sibuk dengan skor akademik sehingga kita lupa bahwa belajar tidaklah mudah untuk diukur,” kata Hui Yong. Ada juga kecenderungan faktor-faktor lain yang tidak ada dalam pengukuran – seperti karakter – untuk dapat diabaikan, sehingga pengukuran menghasilkan gambaran yang sempit tentang perkembangan anak.

“Guru harus berlatih melakukan penilaian tentang hal lain yang penting dan terlepas dari rubrik pengukuran yang saat ini digunakan,” kata Hui Yong. Mengajar yang baik membutuhkan kesadaran bahwa ada lebih banyak hal untuk dinilai daripada sekedar pengukuran kuantitatif.

“Kita tidak bisa mengajar dengan baik jika kita tidak bisa menilai dengan baik,” tambahnya.

Menilai Siswa dengan Baik

Ini berarti bahwa guru perlu bertanya: Apa makna dari skor? Apakah siswa saya berjuang keras (pada ujian) karena kurangnya latihan? Apakah mereka memiliki kesalahpahaman konsep?

Langkah berikutnya dalam menilai yang baik adalah untuk menentukan bagaimana membawa seorang siswa dari posisinya saat ini ke tempat ia seharusnya berada (dalam pembelajaran). “Diskusinya adalah tentang bagaimana cara untuk membantu siswa memaksimalkan potensi mereka,” kata Hui Yong.

Salah satu cara melakukannya adalah dengan membuat kriteria keberhasilan untuk tugas secara jelas kepada siswa sebelum mereka mulai mengerjakannya. Misalnya, jika tugas ini adalah untuk menulis komposisi, maka siswa harus menyadari hal apa saja yang membuat komposisi yang baik dan apa penanda keberhasilannya.

Hal ini memungkinkan siswa untuk menilai diri mereka sendiri dan menemukan solusi mereka sendiri untuk masalah baru. “Pada akhirnya, kita tahu anak-anak telah belajar ketika mereka mampu melakukan semua ini sendiri,” jelas Hui Yong.

Mendorong Belajar Mandiri

Menghadapi tantangan mempersiapkan para pemuda untuk dunia yang semakin kompleks dan tidak pasti, Hui Yong merasa bahwa peran guru saat ini lebih besar dari hanya mempersiapkan siswa untuk ujian.

“Saya sering mengatakan kepada guru bahwa mereka memiliki otonomi, mereka memiliki kekuatan dan yang lebih penting, mereka memiliki tanggung jawab untuk melakukan lebih dari sekedar menyiapkan siswa untuk ujian nasional,” katanya. “Guru yang baik di sekolah-sekolah sudah melakukan hal ini pada kegiatan sehari-hari.”

Membantu setiap siswa menjadi pembelajar mandiri adalah tujuan akhir. Siswa harus menjadi peserta aktif dalam pembelajaran mereka sendiri – secara aktif terlibat mengajukan pertanyaan untuk memahami konsep-konsep kunci dan ide-ide.

Untuk mencapai hal ini, umpan balik ketika melakukan penilaian harus membantu siswa dalam mengarahkan pembelajaran mereka sendiri dan mengembangkan kapasitas mereka sebagai yang memutuskan (hakim) pembelajaran mereka (Boud & Molloy, 2013).

“Umpan balik yang paling efektif adalah memberikan petunjuk atau penguatan kembali yang menunjukkan siswa bagaimana melakukan tugas lebih efektif,” kata Hui Yong. Tergantung pada kemampuan siswa, guru mungkin memutuskan untuk mengomentari apakah tugas dilakukan dengan benar atau salah, atau menggunakan petunjuk untuk meminta siswa, bukan untuk berpikir dengan cara tertentu.

Tingkat yang berbeda dari Umpan balik (Feedback) dan Bagaimana Dampaknya terhadap Pembelajaran

Bentuk umpan balik siswa dapat mempengaruhi sikap mereka terhadap tugas-tugasnya. Sebaiknya, umpan balik guru dapat membantu memperkuat self-efficacy dan berpikir kritis di kalangan siswa. Hui Yong berbagi empat tingkat umpan balik yang umum digunakan di kelas (Hattie & Timperley, 2007).

Personal: Tidak merujuk langsung ke tugas itu sendiri (seperti perkataan pujian), "Usaha yang Bagus!" Umpan balik pada tingkat pribadi jarang efektif.

Tugas: Memberitahu siswa secara langsung apa yang benar atau salah dan apa yang harus diperbaiki. Misalnya, "Di mana faktor ketiga?"

Proses: Memberitahu siswa bagaimana melakukan tugas lebih baik. Misalnya, "Harap mendukung poin dengan bukti dari teks." Umpan balik tersebut mengarah pada pembelajaran yang mendalam yang dapat diterapkan untuk tugas berikutnya.

Self-regulation: Anjuran kepada pelajar untuk membuat penilaian atas karyanya sendiri melalui pertanyaan-pertanyaan seperti, "Bagaimana Anda bisa menampilkan hubungan yang lebih jelas antara dua paragraf?".

Umpan balik pada self-regulation mengarah ke peningkatan self-efficacy dan keterlibatan.

Umpan balik juga dapat ditingkatkan melalui dialog yang melampaui suatu subyek untuk memasukkan tujuan-tujuan lain dimana anak dapat kerjakan. “Idealnya, ini juga harus menjadi semacam umpan balik yang masuk ke dalam buku laporan,” kata Hui Yong.

Untuk mendiagnosa dan memberikan jenis yang tepat dari umpan balik untuk setiap siswa, dia telah membantu guru membingkai ulang peran mereka, menekankan bahwa untuk menjadi guru yang baik, mereka perlu untuk memeriksa kemajuan siswa mereka secara teratur di dalam kelas. Guru yang baik juga bekerja untuk mengembangkan peserta didik menjadi mandiri.

Dia berbagi, “Saya selalu bertanya kepeda guru: Ketika Anda tidak ada, apakah Anda memiliki keyakinan bahwa siswa Anda akan dapat mengatasi dengan caranya sendiri?” Karena bahkan tanpa guru, siswa mandiri akan dapat menilai di mana dia dan mencari tahu bagaimana untuk mendapatkan apa yang ia perlu dan dimana mencarinya.

Diterjemahkan dari majalah Singteach issue 59 Desember 2016 (*wh)

Baca sumber asli artikel

 

Obituari Djakaria Machmud (1946 – 2017)

Disiplin adalah Nafasku

Selepas salat Magrib, Selasa (10 Januari 2017) pesan pendek masuk. Isinya membuat saya tetegun, tidak bisa berkata. Setelah itu informasi berhamburan melalui WhatsApp. Isinya senada, yaitu mengucapkan doa untuk kebahagian di akhirat, guru kami, keluarga kami, sahabat kami, bapak kami; Djakaria Machmud. Beliau dipanggil Allah pada Selasa, 10 Januari 2017 pukul 18.25. Nama ini menempati lokus tertentu dalam hati saya. Saya hanya tertegun membaca pesan pendek itu. Saya belum membalas informasi itu karena ingin yakin. Saya kontak beberapa pihak tertentu. Berita itu menghambat langkah berpikir. Rasanya baru kemarin berbincang panjang di RSCM. Perbincangan kangen karena sekian lama tidak berbincang dari dekat. Selepas beliau menyelesaikan tugas sebagai rektor, kami sibuk dengan masing-masing kegiatan. Batin tetap berhubungan meski tanpa kata. Kaitan sekian lama masih tertancap. Nasihat yang diutarakan sambil gurau dan tawa serta keseriusan menjadi bagian berganti cara dalam kepemimpinan beliau. Berita yang menyesakkan dada itu muncul seketika. Memang begitulah kematian itu.

Kematian memang tidak pernah berkompromi. Ia siap membawa manusia menuju keabadian. Apa pun yang direncanakan pada awalnya, salalu berakhir pada ketentuan Allah Subhanahuwataala yang Mahakuasa. Kekuatan kita karena Allah yang memberinya. Kekayaan, kekuasaan ada pada kita sebagai titipan yang pada saatnya akan diambil, akan dipertanggungjawabkan. Kita hanya bagian kecil dari kekuasaan Allah yang Mahabesar, tak terbatas. Oleh karena itu, kita sangat rugi pada saat sempat tidak dimanfaatkan, pada saat sehat tidak digunakan dalam perilaku kebermanfaatan, pada saat berkuasa tidak berbuat untuk kemaslahatan, pada saat kaya tidak sempat berbagi dengan sesama. Insya Allah beliau telah menunaikan tugasnya dengan baik, dengan selalu mendahulukan kepentingan umat, dengan selalu berpedoman pada ketentuan Allah.

Banyak gagasan yang beliau lontarkan untuk kemajuan Unswagati. Saya teringat pertemuan intensif, komprehensif, dan kondusif dengan beliau pada tahun 2005. Obrolan yang kian ke mari berakhir pada permintaan agar saya membantu dari dalam. Saya diminta menjadi kepala sekretariat. Kepala sekretariat adalah gagasan beliau. Saya ditugasi untuk mengelola berbagai aktivitas beliau dan keuniversitasan. Pikiran kebirokratan berpengaruh terhadap perilaku kebijakan dalam mengelola ragam akademik. Tindak laku sehari-hari beliau menggambarkan kecepatan dalam menentukan dan melakukan kebijakan. Menjadi kepala sekretariat pengalaman yang menempa saya memahami bekerja mengikuti alur menuju target yang telah ditentukan. Saya harus tahu banyak hal tentang apa saja yang berkembang di sekitar kampus.

Beliau pekerja keras. Setiap pekerjaan harus diselesaikan tepat waktu dengan benar. Jika dapat diselesaikan hari ini,mengapa menunggu besok. Ini adalah prinsip yang pada mulanya menyusahkan kami sebagai staf rektorat. Terkadang saya pulang pada saat kantor telah sepi. Sering kali sebelum jam kantor saya diminta ke rumah untuk menyiapkan agenda hari itu. Kebiasaan bekerja secara teratur ternyata membuat saya merasa nyaman dan bahagia karena segalanya ada ukuran. Saya menjadi tahu apa yang harus dilakukan dan apa yang seharusnya tidak muncul. Saya menjadi tahu bagaimana cara berkomunikasi dalam lingkar birokrat. Kekakuan pada akhirnya saya tahu bukanlah ciri khas birokrat. Birokrat adalah keberjenjangan yang harus dilakukan untuk tertib perilaku administrasi dan akuntabilitas. Pengalaman ini yang tidak mungkin saya peroleh tanpa bersentuhan dengan aktivitas beliau, tanpa diajak bersama mengelola unversitas.Ilmu praktik dengan cara teladan lebih cepat menerap dalam diri dan hati.

Kebersamaan adalah perilaku yang sangat menonjol pada beliau. Perbincangan selalu mengawali segala tindakan. Kami sering berkumpul membicarakan langkah, masalah, dan segala hal untuk kebaikan dan kemajuan Unswagati Cirebon. Sering kali kami serius. Paling sering diselingi tersenyum dan tertawa. Beliau adalah teman bicara yang menyenangkan. Banyak cerita baru bagi saya. Pengalaman beliau yang beragam menjadi menarik untuk didengar. Gaya bercerita tidak membosankan. Cerita panjang sebagai birokrat selalu menarik saya. Bermula di Cirebon menuju Gedung Sate, terus ke Tangerang dan akhirnya kembali ke tanah kelahiran, menjadi Rektor Unswagati Cirebon selama 2 periode (2005 – 2013) adalah rangkaian kegiatan yang menarik. Kami senang mendengarkannya karena cara beliau bercerita. Nasihat-nasihat diselipkan tanpa terasa. Saya banyak berkaca pada pengalaman beliau. Banyak bekal yang saya terapkan dalam mengelola diri dalam kebersamaan.

Kami sering makan bersama-sama di rumah makan yang sederhana dan juga di rumah makan yang berkelas. Makan bersama menjadi momen untuk saling sapa, menyampaikan rasa tanpa merasa mencari kesalahan. Beliau selalu mengingatkan dengan cepat bila ada kesalahan yang akan mengganggu keberhasilan program. Beliau menegur seketika. Pada mulanya saya kaget. Setelah saya pelajari, banyak hikmah yang diperoleh. Saya selalu berhati-hati dalam bertindak. Komunikasi adalah kunci yang selalu beliau ingatkan dan jalankan. Putusan rektor telah dibicarakan berulang dan jika ada kesalahan, tidak pantang untuk diperbaiki, tidak malu untuk mengakui bahwa di satu sisi terdapat kesalahan. Kebersamaan dalam berbagai hal menjadikan kami kuat, menjadikan kami saling menjaga. Setiap masalah dibicarakan bersama untuk mendapatkan putusan. Setiap putusan diproses dengan mendasarkan pada ketentuan yang berlaku dansetiap putusan yang keluar menjadi tanggung jawab beliau.

Benar dan tepat adalah ketentuan yang diberlakukan. Beliau selalu bertanya dengan rinci setiap ajuan dari pimpinan universitas. Tidak ada putusan yang lepas dari daya kritisnya, daya telitinya, daya koreksinya. Surat-surat yang beliau tandatangani adalah surat yang telah berkali-kali bolak-balik beliau periksa. Kesalahan sekecil apa pun akan ditemukannya. Apalagi kesalahan konsep. Apa yang saya senangi dari beliau adalah selalu ada solusi, ada koreksi sehingga saya menjadi mudah memperbaikinya. Inilah kriteria pemimpin yang memperbaiki untuk kebaikan dan kemartabatan dirinya dan semua yang dipimpinnya. Beliau bukan tipe orang yang cepat percaya. Beliau akan baca seluruh surat, seluruh usulan, seluruh draf putusan. Corat-coret pada draf telah biasa saya temukan. Bahagianya jika surat tanpa coretan. Pada akhirnya saya memplejari gaya beliau dalam segala hal. Proses belajar inilah yang saya temukan pada sosok kepemimpinan beliau. Selalu ada hal yang menarik setiap mengobrol apa pun. Selalu ada celah yang membuat kita bisa memasukkan ke dalam pikiran dan hati, terutama kecerdasan dalam putusan, dalam obrolan. Rinci adalah hal yang beliau pegang. Alternatif adalah ketentuan pada setiap kegiatan.

Beliau ada pada setiap kegiatan. Pada saat wisuda, misalnya selalu saya diminta laporan rinci pada 3 hari sebelumnya dan 1 hari sebelumnya. Kewaswasan, dag-dig-dug karena takut salah, takut tidak sukses memicu saya memerhatikan rincian sebelum ditemukan beliau. Semua kegiatan harus dilaporkan dengan rinci. Saya menjadi sadar kini mengapa beliau selalu minta rincian. Beliau adalah penanggung jawab segala kegiatan di kampus. Beliau harus tahu rincian untuk mengevaluasi, untuk memberikan saran, untuk menjawab pertanyaan dari siapa pun. Inilah pemimpin yang mempunyai tanggung jawab. Undangan beliau periksa sejak awal. Beliau memberikan catatan pada acara apapun untuk kebaikan, agar terhindar dari kesalahan. Memang pada awalnya cape bekerja dengan beliau. Akan tetapi, dengan niat belajar rasa itu hilang  lenyap tanpa sisa.

Perilaku beliau di dalam dan di luar universitas selalu bertujuan untuk membesarkan Unswagati, untuk menarik minat masyarakat agar menitipkan anak-anaknya di Unswagati. Ada saja gagasan segarnya. Pada tahun 2005 dimulai pasar murah Ramadan. Acara ini dipersiapkan dengan matang. Berkali-kali rapat agar tidak terjadi kesalahan. Setiap rapat semua seksi yang bertanggung jawab dimintai laporannya. Alhamdulillah pada pelaksanaannya lancar, banyak dikunjungi masyarakat. Penerapan gaya kepemimpinan ala pimpinan daerah diadopsi dengan baik, dimodifikasi dengan cermat. Pasar murah Ramadan sampai tahun kemarin dilaksanakan, dilanjutkan oleh rektor sekarang. Untuk pertama kalinya saya terlibat dalam kegiatan yang menguras tenaga. Kami belum terbiasa dengan hentakan-hentakan kerja seperti ini. Alhamdulillah, saya dapat mengikuti dengan alur yang disiapkan beliau. Kata kuncinya adalah kepercayaan, berbaik sangka, menemukan kebaikan bagi kemaslahatan umat, dan tentu saja belajar terus menerus untuk meningkatkan kualitas diri.

Pada awal kepemimpinan beliau juga, saya dikejutkan dengan tarawih keliling, subuh keliling, dan Jumat keliling. Ini kebiasaan yang telah dilaksanakan pada saat beliau menjadi walikota Tangerang. Saya mengikuti dengan tenang, mencari hikmah di balik aktivitas ini. Selama dua periode kagiatan ini tidak pernah lepas. Pada setiap kunjungan ke masjid selalu ada bingkisan (sadaqoh) dari Yayasan Al-Machmud dengan tetap mengedepankan nama Unswagati. Kegiatan ini pada dasarnya adalah untuk membawa Unswagati ke tengah masyarakat. Alhamdulillah hampir pelosok kota dan kabupaten Cirebon tersentuh.

Membawa kampus ke luar dari wilayah diri adalah kebijakan yang membawa dampak positif terhadap perkembangan Unswagati. Persentuhan dengan pemerintah, dengan media dimainkan dengan baik. Kampus menjadi dekat dengan instansi daerah dan pusat, dengan media massa, dengan perguruan tinggi lain juga tidak dilupakan. Pada masa beliau memimpin Unswagati diperoleh izin penyelenggaraan Fakultas Kedokteran. Hubungan beliau dengan beberapa pejabat menjadi salah satu kunci keberhasilan pemerolehan izin tersebut. Saya selalu mendampingi beliau berkonsultasi dengan FK Undip dan dengan politisi Senayan, juga dengan pihak Dikti. Semua jalur dicoba, didekati untuk memuluskan kelahiran FK. Pada masa beliau juga lahir Prodi Magister Pendidikan Bahasa Indonesia.

Paparan ini dari sudut pandang pribadi. Tetapi itulah kesan saya. Itulah rasa hormat saya setelah 7,5 tahun mendampingi beliau. Terlalu banyak hal yang berkecamuk dalam diri dalam kondisi duka saat ini. Akan tetapi, saya perlu menyampaikan hal ini kepada khalayak. Insya Allah beliau banyak beramal yang menjadikan orang berbaik sangka, yang membuat orang belajar dari perilaku baik beliau. Semoga Allah Swt. menjadikan amal baik beliau sebagai wasilah mendapatkan surga, bertemu dengan orang-orang saleh di taman surga.

Selamat jalan guruku, sahabatku, saudaraku. Seluruh keluarga sivitas akademika Unswagati akan selalu berdoa, akan selalu mengenang jasamu yang luar biasa dalam pengembangan Unswagati. Insya Allah kami akan melanjutkan langkah yang telah engkau siapkan. Fasilitas kampus yang berkembang pesat, jumlah mahasiswa yang meningkat, sarana transportasi mobil kampus  bersliweran, kesejahteraan meningkat tajam adalah keberhasilan yang dicatat dalam hati seluruh sivitas akademika dan hal itu menjadi tantangan bagi penerusnya, bagi siapa pun. Kami akan selalu meneladani sikap disiplinmu dalam segala kegiatan. Engkau selalu mengatakan bahwa DISIPLIN ADALAH NAFASKU. Prinsip ini engkau terapkan dengan baik dalam segala hal.

Terima kasih Pak Djakaria, engkau telah memoles kampus kami tercinta menjadi cemerlang. Semoga kami dapat melanjutkan gagasan cerdas yang telah engkau terapkan dengan indah. Indah bersamamu, meski hanya sekilas, karena memang hidup kita di dunia sekedar mampir. Engkau, insya Allah telah menyelesaikan tugas di dunia dengan begitu indahnya. Semoga Allah Yang MahaPengasih rida terhadapmu. Selamat jalan karibku. Bekerja denganmu sangat menyenangkan, sangat membanggakan, terhormat, tidak takut bertindak karena engkau selalu mendukungku.  Ya, Allah masukkan sahabatku ke taman surga-Mu. Amin.

Penulis: Prof. Dr. H. Abdul Rozak, M.Pd (Dekan FKIP Unswagati)

Bawalah Kami ke Jalan yang Benar

Apa yang tergambar dalam benak dan laku para pejabat dan para penguasa padasaat menerima amanah? Kita tidak dapat menebak karena itu adalah masalah hati,bersifat rahasia di antara dirinya dan Allah Swt. Akan tetapi, Allah yang MahaBerkuasa menunjukkan melalui perilaku pejabat itu, penguasa itu. Amanah dapat dimaknaisebagai pertanggungjawaban terhadap pihak yang memilihnya. Dengan demikian,pejabat dan penguasa yang benar akan selalu menanyakan setiap langkah dankebijakan yang diputuskan kepada pihak yang memilihnya. Pemilihannya tentu sajaberdasarkan kriteria tertentu. Seseorang diamanahi sebagai Menteri Pendidikandan Kebudayaan karena dipercayakan untuk menjalankan berbagai kebijakan presidendi bidang pendidikan dan kebudayaan. Presiden tentu sebaiknya dan seharusnyatelah meraba dalam dirinya apa yang dibutuhkan rakyat dan apa yang diperlukanuntuk memartabatkan di bidang pendidikan dan kebudayaan. Jadi, terjadi kesalingkaitan.,tidak bisa mandiri, kebebasan terbatas. Terbatas dalam menentukan pilihan dankebebasan dalam menerapkan kebijakannya.

Para kepala daerah yang diamanahi para rakyatnya semestinya telahmengetahui secara mendalam apa kehendak rakyatnya, bagaimana kehidupan rakyatsekarang dan apa yang harus dilakukannya agar kehidupan rakyat menjadisejahtera, aman, dan nyaman. Kehendak rakyat itu sederhana, bawalah kami ke jalan yang benar dengan carayang benar. Permintaan sederahana ini susah untuk diterjadikan. Beberapakepala daerah mampu menjalankannya dengan baik. Mereka mengabdi pada rakyatdengan menjalankan program prorakyat. Rakyat mengelu-elukannya dengan semangat dan memercayai pada periodeberikutnya. Akan tetapi, banyak kepala daerah yang lupa janji, lupa diri, matirasa. Mereka asyik dengan rencana sendiri yang telah disiapkan sejak dini,sebelum terpilih jadi kepala daerah atau anggota dewan. Janji masa kampanyehanya sebagai pembuka untuk menutup niat sesungguhnya yang tersembunyikan.

Ke manakah mata, telinga, dan hati para pejabat dan penguasa yang selamaini tidak ada di tengah-tengah rakyat?Pejabat dan penguasa yang seperti iniasyik dengan gayanya sendiri. Mereka asyik dengan narkoba, dengan gaya hidup mewah,dengan mengambil hak rakyatnya, memerkaya diri tanpa kerja lelah dan keras,sibuk mengedarkan proposal, sibuk meminta proyek. Apa yang terjadi di lapanganditinggalkan begitu saja, tidak pernah ditengok, ditanya. Waktu mereka habisuntuk menjalankan segala hal yang akan berdampak pada kehidupan dirinya dankeluarganya serta lingkungan yang mendukungnya. Pikiran tentang rakyatnya tidakdimunculkan karena tertutup dengan kepentingan dirinya. Bahkan kepentingandirinya tidak pernah selesai. Oleh karena itu, KPK atau BNN yangmenyelesaikannya.

Mementingkan diri sendiri memang tidak akan pernah selesai. Diri sendiriyang dibiarkan berjalan seiring dengan nafsu cenderung tidak terkuasai. Hatidan pikiran tidak sejalan. Apa yang terjadi pada masa yang akan datang padadirinya dihiasa dengan kekuasaan, keenakan, keinginan menguasai orang lain demikepentingan dirinya, nafsu dilayani lebih besar dibandingkan dengan keingianmelayani. Padahal mereka adalah pelayan rakyat yang semestinya mengabdi padakepentingan rakyat.

Peristiwa yangsekarang terjadi sangat memprihatinkan. Peristiwa korupsi betul-betul di luarnalar kita yang berpikiran sederhana. Peristiwa pejabat militer, bupati yang terkenanarkoba mencengangkan rasa kita. Keinginan para pejabat berganti mobil dinasjuga menghenyak naluri yang sedang asyik merenungi hidup. Mau dibawa ke mananegeri ini? Apa yang salah dengan negeri ini? Apakah kita kurang bersyukur?Apakah kita salah menerapkan sistem? Apakah kita salah menempatkan pikir danhati dalam tubuh ini?Apakahkita tidak berbuat apa-apa? Kita dapat menyusun sekian pertanyaan tentangkondisi negeri tercinta kita.

Rakyat tidak akan pernah mengajukan keinginan secara nyata, berterusterang. Ia akan menyikapi dengan diam. Akan tetapi, sebagian rakyat menyatakandengan lantang kehendak melalui berbagai media. Pernyataan kehendak berubahbanyak disuarakan akademisi, tokoh penting negeri. Akan tetapi, memang banyakyang tidak mau berubah karena telah memeroleh kenyamanan dalam kondisi kini.Kita khawatir bahawa pernyataan itu sekedar pada surat kabar, pada berita.Tampaknya banyak pejabat atau penguasa yang tidak akrab dengan bacaan, denganberita. Banyak di antara mereka yang tidak mengetahui bahwa teman-teman pejabatdan pengausa ditangkap KPK karena pada hari berikutnya dialah yang ditangkapKPK, yang ditangkap BNN, yang dibicarakan para ahli. Setiap hari dimuattulisan-tulisan kritik-positif-konstruktif pada surat kabar tentang berbagaikebijakan pemerintah dan peristiwa yang berlangsung, masih aktual. Tentangkondisi sosial yang berkembang dan tulisan itu berkehendak ke arah yang baik.Analisis para ahli cukup tajam dan beralasan. Kritikan yang dimuat melalui mediaelektronik juga cukup baik, cukup tajam dan sebentulnya dapat dijadikan sebagaipengingat. Para pejabat dan penguasa itu terkadang hilang ingatan. Pada saatmasa kampanye fasih melafalkan janji dan kelu mulut pada saat diminta janji.

Ada di manakah para pejabat atau penguasa pada saat berita disiarkan dankoran diedarkan. Kepekaan para pejabat dan penguasa tampaknya telah terkikis. Kondisimasyarakat, negara, dan bangsa tidak menjadi perhatian untuk diselesaikan.Bagaimanakah membayangkan anggota dewan menerima uang 1 miliar, 2 miliar secaratunai. Bagaimanakah membayangkan annggota partai meminta jatahsekian persen dari proyek yang digarap. Apa yang terjadi dengan hati mereka.Perhatikan pada saat koruptor itu keluar dari kantor KPK, tidakada tampak sesal, masih bisa senyum, masih dapat mengatakan (Silakan tanyakan kepada pengacara saya).Bagaimana membayangkan koruptor menyatakan bahwa yang terjadi pada dirinyaadalah takdir. Apa yang mereka tahu tentang takdir. Allah adalah Mahabaik (Wahai orang-orang yang beriman, makanlah makanan yang baikdari rezeki yang Kami berikan kepada kalian (Q.S Al Baqoroh:172).Pada saat tertangkap selalu ada pihak yang disalahkannya. Dijadikankambing hitam. Kata-kata yang meluncur dengan mudahnya tidak dipikirkanmaknanya. Perilaku ini sebenarnya bagian dari pribadinya yanng sebenarnya,bahwa pada umumnya pejabat yang korup itu tidak melandaskan perbuatannya padakekuatan kata dan iman. Mereka melakukan segala halyang dapat memberikan keuntungan kepada dirinya. Hidupmereka hanya mencari keuntungan, kelebihan dengan tidak mempertimbangkan baikdan buruknya. Perhitungan halal dan haram tidak digunakan meskipun sebetulnyamereka mengetahuinya.

Berbuatmesti dimulai dengan kemampuan memahami jalan yang akan ditempuh. Kita yakin bahwapara koruptor itu mengetahui korupsi itu merugikan rakyat, tidak sesuai denganhukum. Pencandu narkoba itu tahu bahwa perbuatan itu salah, menyalahi aturan,menyiksa dirinya, merugikan orang lain. Mengapa mereka berbuat juga? Logikamereka tidak bersambung dengan hati. Perhitungan mereka miring ke kiri,keinginan keuntungan sendiri, tidak memerhatikan kondisi yang bakaldialami orang lain.Mereka takut tidak dapat menjalankan hidup denganbaik tanpa harta yan banyak. Mereka tidak mengkhawatirkan kehidupan orang lain.Perihal hidup orang lain bukan bagian dari rencananya menjadi pejabat ataupenguasa.

Perubahan orientasi dapatdijalankan dengan begitu mudahnya oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawabterhadap dirinya dan orang lain. Jabatan bagi mereka adalah menaikkan peringkatsosial dalam pandangan masyarakat. Mendapat posisi yang memudahkan melakukansegala hal yang diinginkannya, dapat merancang program yang dapat membahagiakandirinya dan kelompoknya, dapat membelokkan program untuk keuntungan dirinya.Jabatan tidak dipandang sebagai media pengabdian, sebagai ibadah untukmengumpulkan bekal kelak di akhirat. Mereka sibuk dengan membekali dirinyauntuk kehidupan selanjutnya, kehidupan setelah selesai menjabat. Kata selesaibagi mereka sangat penting, karena berhubungan dengan waktu. Perburuan kekayaanmesti dilakukan. Tampaknya tujuan hidup bagi orang-orang seperti ini adalahmembahagiakan dirinya di dunia semata. Orientasi ini menjadikan hidup merekapendek, pikiran dan hati sempit, tidak menyisakan bagi rakyatnya yang banyakberharap.

Para pejabat yang korupmemberitahukan kepada kita sebagai rakyat untuk berhati-bati dalam menentukanpilihan. Begitu banyak orang yang mencalonkan kepala daerah atau anggota dewandengan tujuan yang sangat jelas pada keinginan menduduki jabatan saja tanpamengetahui apa yang harus dilakukan dalam jabatan tersebut. Berapa banyakpejabat yang berhasil menjalankan tugasnya? Tidak terlalu banyak dan lebihbanyak yang tidak berhasil. Mereka hanya bangga disebut sebagai pejabat tanpamengenal karakter daerahnya serta kondisi rakyatnya. Apa yang mereka lakukanselama satu periode adalah mencari bekal untuk menutup dana kampanye atau  untuk menyiapkan dana kampanye berikutnya.

Dana menjadi pemimpin itumenjadi alasan bagai pejabat dan angota dewan berperilaku mengumpulkandibanding dengan mengabdi, memerhatikan kehidupan rakyatnya. Sistem kita memaksa para calon kepala daerah atau calon anggota dewanmenyiapkan dana sebelum menduduki jabatan itu. Jadi, jabatan itu berharga sertamempunyai harga. Ia harus dibeli dengan usaha dan uang. Orang-orang cerdas,jujur, dan berkaraktei  tidak serta mertaakan jadi kepala daerah atau anggota dewan tanpa didukung dengan dana yangcukup besar. Dengan sistem ini tidak dapat dihindari jabatan sebagai bagiandari nafkah. Berbakti dengan memeras tenaga dan pikiran tidak menjadi alangandibayar karena aturannya jelas. Akan tetapi, tidak boleh membayangkan bahwadengan jabatan itu kekayaan akan bertambah. Akan tetapi,  pada kenyatannya banyak pejabat bertambahkekayaannya berlipat. Penambahan kekayaan sering kali tidak masuk akal, tidaksejalan dengan gaji yang diterimanya. Pada banyak kasus kekayaan ini diperolehmelalui korupsi. Oleh karena itu, banyak pejabat dan para anggota dewan yangtertangkap KPK.

Tampaknyakita harus menarik orang-orang yang cerdas untuk membantu mengembangkan negaradengan mempertimbangkan kesejahteraan rakyat sebagi tujuan utamanya. Orng-orangcerdas, bertanggung jawab, berkarakter masih banyak, masih bertebaran di negarakita. Kita dorong orang-orang yang bekepekaan tinggi untuk menduduki jabatankepala daerah atau anggota dewan. Kita ketuk hati rakyat, hati kita untukmendanai menuju jabatan tertentu. Kitaharus mengapresiasi teman-teman di Jakarta dan di Yogyakarta. Mereka telahmemerlihatkan kepekaan dan kepedulian terhadap kondisi bangsa ini. Kita yakinbahwa bangsa dan negara ini akan maju bila kepala daerah dan anggota dewanbersepakat untuk memajukan rakyatnya, bukan memajukan dirinya. Insya Allahbangsa kita adalah bangsa yang mampu bergotong royong dalam kebaikan jika adatokoh yang memerlihatkan kepeduliannya. Tokoh pengerak yang kini kurang. Kitabelum mempunyai tokoh ikhlas yang memerlihatkan kepedulian terhadap kemajuanbangsa. Kita harus yakin bahwa tokoh ituada. Kita harus mencari bersama-sama. Tokoh yang terbebas dari rasa inginmemiliki kekayaan berlebihan, mementingkan kesejahteraan rakyat, tidak akanpernah menyentuh narkoba, benci pada ketidakadilan, tidak takut pada preman,hanya takut pada Allah semata. Pemimpin memang harus diberikan kepada orangyang dipilih karena memenuhi kriteria, Ketika sahabat NabiSAW, Abu Dzarr, meminta suatu jabatan, Nabi saw bersabda: “Kamu lemah, danini adalah amanah sekaligus dapat menjadi sebab kenistaan dan penyesalan dihari kemudian (bila disia-siakan)”. (H. R. Muslim). Sikap yangsama juga ditunjukkan Nabi saw ketika seseorang meminta jabatan kepada beliau, dimanaorang itu berkata: “Ya Rasulullah, berilah kepada kamijabatan pada salah satu bagian yang diberikan Allah kepadamu.”Maka jawab Rasulullah saw: “Demi Allah Kamitidak mengangkat seseorang pada suatu jabatan kepada orang yangmenginginkan atau ambisi pada jabatan itu”.(H. R. Bukhari Muslim).

Semoga Allah memberikan petunjuk kepada kita dalam menentukan pilihan pada pemilu dan semogaAllahmenyadarkan pejabat dan anggota dewan untuk selalu mendahulukan kesejateraan rakyat sesuai dengan amanahyang diembannya. Amin.

12/4/16. Dimuat pada Radar(Selasa, 12 April 2016)

Abdul Rozak, Guru Besar pada FKIP-Unswagati Cirebon.