mengukur-saja-tidak-cukup

Mengukur Saja Tidaklah Cukup

Baru-baru ini, siswa Singapura memperoleh nilai teratas dalam tes global untuk matematika, ilmu pengetahuan dan membaca dalam Programme for International Student Assessment (PISA). Sambil kita merayakan keberhasilan ini, kami juga harus meluangkan waktu untuk mempertimbangkan apakah pengukuran kuantitatif ini cukup untuk mengukur potensi pelajar.

Penilaian terhadap siswa umumnya dikaitkan dengan tes dan ujian formal, tetapi terlalu berlebihan menyandarkan penilaian pada ukuran kuantitatif tersebut dapat menyebabkan kita melupakan apa yang bernilai dalam pendidikan. Kami berbicara kepada Dosen National Institute of Education (NIE) Singapura Dr. Tay Hui Yong dalam rangka menambah wawasan para guru demi meningkatkan pembelajaran terhadap siswa terkait penilaian.   

Di Singapura di mana penerimaan siswa sekolah yang kompetitif sebagian besar didasarkan pada hasil siswa, nilai-nilai ujian merupakan komponen penting dari penilaian terhadap siswa. Tetapi nilai-nilai ujian tersebut tidak harus menjadi segalanya.

Mengukur Apa yang Kita Nilai

mengukur-saja-tidak-cukup

Tay Hui Yong ingin agar guru tahu bahwa mereka memiliki otonomi dan kekuatan untuk melakukan lebih dari sekedar membawa siswanya sukses pada ujian nasional.

“Sementara sekolah memiliki perhatian kepada apakah siswanya belajar, pertanyaannya adalah apakah bukti belajar hanya terletak pada pengukuran, terutama oleh nilai tes,” kata Hui Yong, yang berasal dari Kelompok Akademik Kurikulum, Pengajaran dan Pembelajaran serta melakukan penelitian di bidang penilaian (assessment).

Ketika pengukuran kuantitatif seperti yang telah ada dilaksanakan apa adanya, kita menjalankan risiko mereduksi belajar siswa hanya ke nilai angka-angka belaka. Sebaliknya, nilai ujian harus dilihat sebagai indikator kapasitas siswa saat ini untuk membantu guru merefleksikan bagaimana mereka dapat lebih membantu siswa tumbuh dalam potensinya.

“Kita kadang-kadang begitu sibuk dengan skor akademik sehingga kita lupa bahwa belajar tidaklah mudah untuk diukur,” kata Hui Yong. Ada juga kecenderungan faktor-faktor lain yang tidak ada dalam pengukuran – seperti karakter – untuk dapat diabaikan, sehingga pengukuran menghasilkan gambaran yang sempit tentang perkembangan anak.

“Guru harus berlatih melakukan penilaian tentang hal lain yang penting dan terlepas dari rubrik pengukuran yang saat ini digunakan,” kata Hui Yong. Mengajar yang baik membutuhkan kesadaran bahwa ada lebih banyak hal untuk dinilai daripada sekedar pengukuran kuantitatif.

“Kita tidak bisa mengajar dengan baik jika kita tidak bisa menilai dengan baik,” tambahnya.

Menilai Siswa dengan Baik

Ini berarti bahwa guru perlu bertanya: Apa makna dari skor? Apakah siswa saya berjuang keras (pada ujian) karena kurangnya latihan? Apakah mereka memiliki kesalahpahaman konsep?

Langkah berikutnya dalam menilai yang baik adalah untuk menentukan bagaimana membawa seorang siswa dari posisinya saat ini ke tempat ia seharusnya berada (dalam pembelajaran). “Diskusinya adalah tentang bagaimana cara untuk membantu siswa memaksimalkan potensi mereka,” kata Hui Yong.

Salah satu cara melakukannya adalah dengan membuat kriteria keberhasilan untuk tugas secara jelas kepada siswa sebelum mereka mulai mengerjakannya. Misalnya, jika tugas ini adalah untuk menulis komposisi, maka siswa harus menyadari hal apa saja yang membuat komposisi yang baik dan apa penanda keberhasilannya.

Hal ini memungkinkan siswa untuk menilai diri mereka sendiri dan menemukan solusi mereka sendiri untuk masalah baru. “Pada akhirnya, kita tahu anak-anak telah belajar ketika mereka mampu melakukan semua ini sendiri,” jelas Hui Yong.

Mendorong Belajar Mandiri

Menghadapi tantangan mempersiapkan para pemuda untuk dunia yang semakin kompleks dan tidak pasti, Hui Yong merasa bahwa peran guru saat ini lebih besar dari hanya mempersiapkan siswa untuk ujian.

“Saya sering mengatakan kepada guru bahwa mereka memiliki otonomi, mereka memiliki kekuatan dan yang lebih penting, mereka memiliki tanggung jawab untuk melakukan lebih dari sekedar menyiapkan siswa untuk ujian nasional,” katanya. “Guru yang baik di sekolah-sekolah sudah melakukan hal ini pada kegiatan sehari-hari.”

Membantu setiap siswa menjadi pembelajar mandiri adalah tujuan akhir. Siswa harus menjadi peserta aktif dalam pembelajaran mereka sendiri – secara aktif terlibat mengajukan pertanyaan untuk memahami konsep-konsep kunci dan ide-ide.

Untuk mencapai hal ini, umpan balik ketika melakukan penilaian harus membantu siswa dalam mengarahkan pembelajaran mereka sendiri dan mengembangkan kapasitas mereka sebagai yang memutuskan (hakim) pembelajaran mereka (Boud & Molloy, 2013).

“Umpan balik yang paling efektif adalah memberikan petunjuk atau penguatan kembali yang menunjukkan siswa bagaimana melakukan tugas lebih efektif,” kata Hui Yong. Tergantung pada kemampuan siswa, guru mungkin memutuskan untuk mengomentari apakah tugas dilakukan dengan benar atau salah, atau menggunakan petunjuk untuk meminta siswa, bukan untuk berpikir dengan cara tertentu.

Tingkat yang berbeda dari Umpan balik (Feedback) dan Bagaimana Dampaknya terhadap Pembelajaran

Bentuk umpan balik siswa dapat mempengaruhi sikap mereka terhadap tugas-tugasnya. Sebaiknya, umpan balik guru dapat membantu memperkuat self-efficacy dan berpikir kritis di kalangan siswa. Hui Yong berbagi empat tingkat umpan balik yang umum digunakan di kelas (Hattie & Timperley, 2007).

Personal: Tidak merujuk langsung ke tugas itu sendiri (seperti perkataan pujian), "Usaha yang Bagus!" Umpan balik pada tingkat pribadi jarang efektif.

Tugas: Memberitahu siswa secara langsung apa yang benar atau salah dan apa yang harus diperbaiki. Misalnya, "Di mana faktor ketiga?"

Proses: Memberitahu siswa bagaimana melakukan tugas lebih baik. Misalnya, "Harap mendukung poin dengan bukti dari teks." Umpan balik tersebut mengarah pada pembelajaran yang mendalam yang dapat diterapkan untuk tugas berikutnya.

Self-regulation: Anjuran kepada pelajar untuk membuat penilaian atas karyanya sendiri melalui pertanyaan-pertanyaan seperti, "Bagaimana Anda bisa menampilkan hubungan yang lebih jelas antara dua paragraf?".

Umpan balik pada self-regulation mengarah ke peningkatan self-efficacy dan keterlibatan.

Umpan balik juga dapat ditingkatkan melalui dialog yang melampaui suatu subyek untuk memasukkan tujuan-tujuan lain dimana anak dapat kerjakan. “Idealnya, ini juga harus menjadi semacam umpan balik yang masuk ke dalam buku laporan,” kata Hui Yong.

Untuk mendiagnosa dan memberikan jenis yang tepat dari umpan balik untuk setiap siswa, dia telah membantu guru membingkai ulang peran mereka, menekankan bahwa untuk menjadi guru yang baik, mereka perlu untuk memeriksa kemajuan siswa mereka secara teratur di dalam kelas. Guru yang baik juga bekerja untuk mengembangkan peserta didik menjadi mandiri.

Dia berbagi, “Saya selalu bertanya kepeda guru: Ketika Anda tidak ada, apakah Anda memiliki keyakinan bahwa siswa Anda akan dapat mengatasi dengan caranya sendiri?” Karena bahkan tanpa guru, siswa mandiri akan dapat menilai di mana dia dan mencari tahu bagaimana untuk mendapatkan apa yang ia perlu dan dimana mencarinya.

Diterjemahkan dari majalah Singteach issue 59 Desember 2016 (*wh)

Baca sumber asli artikel

 

obituari

Obituari Djakaria Machmud (1946 – 2017)

Disiplin adalah Nafasku

Selepas salat Magrib, Selasa (10 Januari 2017) pesan pendek masuk. Isinya membuat saya tetegun, tidak bisa berkata. Setelah itu informasi berhamburan melalui WhatsApp. Isinya senada, yaitu mengucapkan doa untuk kebahagian di akhirat, guru kami, keluarga kami, sahabat kami, bapak kami; Djakaria Machmud. Beliau dipanggil Allah pada Selasa, 10 Januari 2017 pukul 18.25. Nama ini menempati lokus tertentu dalam hati saya. Saya hanya tertegun membaca pesan pendek itu. Saya belum membalas informasi itu karena ingin yakin. Saya kontak beberapa pihak tertentu. Berita itu menghambat langkah berpikir. Rasanya baru kemarin berbincang panjang di RSCM. Perbincangan kangen karena sekian lama tidak berbincang dari dekat. Selepas beliau menyelesaikan tugas sebagai rektor, kami sibuk dengan masing-masing kegiatan. Batin tetap berhubungan meski tanpa kata. Kaitan sekian lama masih tertancap. Nasihat yang diutarakan sambil gurau dan tawa serta keseriusan menjadi bagian berganti cara dalam kepemimpinan beliau. Berita yang menyesakkan dada itu muncul seketika. Memang begitulah kematian itu.

Kematian memang tidak pernah berkompromi. Ia siap membawa manusia menuju keabadian. Apa pun yang direncanakan pada awalnya, salalu berakhir pada ketentuan Allah Subhanahuwataala yang Mahakuasa. Kekuatan kita karena Allah yang memberinya. Kekayaan, kekuasaan ada pada kita sebagai titipan yang pada saatnya akan diambil, akan dipertanggungjawabkan. Kita hanya bagian kecil dari kekuasaan Allah yang Mahabesar, tak terbatas. Oleh karena itu, kita sangat rugi pada saat sempat tidak dimanfaatkan, pada saat sehat tidak digunakan dalam perilaku kebermanfaatan, pada saat berkuasa tidak berbuat untuk kemaslahatan, pada saat kaya tidak sempat berbagi dengan sesama. Insya Allah beliau telah menunaikan tugasnya dengan baik, dengan selalu mendahulukan kepentingan umat, dengan selalu berpedoman pada ketentuan Allah.

Banyak gagasan yang beliau lontarkan untuk kemajuan Unswagati. Saya teringat pertemuan intensif, komprehensif, dan kondusif dengan beliau pada tahun 2005. Obrolan yang kian ke mari berakhir pada permintaan agar saya membantu dari dalam. Saya diminta menjadi kepala sekretariat. Kepala sekretariat adalah gagasan beliau. Saya ditugasi untuk mengelola berbagai aktivitas beliau dan keuniversitasan. Pikiran kebirokratan berpengaruh terhadap perilaku kebijakan dalam mengelola ragam akademik. Tindak laku sehari-hari beliau menggambarkan kecepatan dalam menentukan dan melakukan kebijakan. Menjadi kepala sekretariat pengalaman yang menempa saya memahami bekerja mengikuti alur menuju target yang telah ditentukan. Saya harus tahu banyak hal tentang apa saja yang berkembang di sekitar kampus.

Beliau pekerja keras. Setiap pekerjaan harus diselesaikan tepat waktu dengan benar. Jika dapat diselesaikan hari ini,mengapa menunggu besok. Ini adalah prinsip yang pada mulanya menyusahkan kami sebagai staf rektorat. Terkadang saya pulang pada saat kantor telah sepi. Sering kali sebelum jam kantor saya diminta ke rumah untuk menyiapkan agenda hari itu. Kebiasaan bekerja secara teratur ternyata membuat saya merasa nyaman dan bahagia karena segalanya ada ukuran. Saya menjadi tahu apa yang harus dilakukan dan apa yang seharusnya tidak muncul. Saya menjadi tahu bagaimana cara berkomunikasi dalam lingkar birokrat. Kekakuan pada akhirnya saya tahu bukanlah ciri khas birokrat. Birokrat adalah keberjenjangan yang harus dilakukan untuk tertib perilaku administrasi dan akuntabilitas. Pengalaman ini yang tidak mungkin saya peroleh tanpa bersentuhan dengan aktivitas beliau, tanpa diajak bersama mengelola unversitas.Ilmu praktik dengan cara teladan lebih cepat menerap dalam diri dan hati.

Kebersamaan adalah perilaku yang sangat menonjol pada beliau. Perbincangan selalu mengawali segala tindakan. Kami sering berkumpul membicarakan langkah, masalah, dan segala hal untuk kebaikan dan kemajuan Unswagati Cirebon. Sering kali kami serius. Paling sering diselingi tersenyum dan tertawa. Beliau adalah teman bicara yang menyenangkan. Banyak cerita baru bagi saya. Pengalaman beliau yang beragam menjadi menarik untuk didengar. Gaya bercerita tidak membosankan. Cerita panjang sebagai birokrat selalu menarik saya. Bermula di Cirebon menuju Gedung Sate, terus ke Tangerang dan akhirnya kembali ke tanah kelahiran, menjadi Rektor Unswagati Cirebon selama 2 periode (2005 – 2013) adalah rangkaian kegiatan yang menarik. Kami senang mendengarkannya karena cara beliau bercerita. Nasihat-nasihat diselipkan tanpa terasa. Saya banyak berkaca pada pengalaman beliau. Banyak bekal yang saya terapkan dalam mengelola diri dalam kebersamaan.

Kami sering makan bersama-sama di rumah makan yang sederhana dan juga di rumah makan yang berkelas. Makan bersama menjadi momen untuk saling sapa, menyampaikan rasa tanpa merasa mencari kesalahan. Beliau selalu mengingatkan dengan cepat bila ada kesalahan yang akan mengganggu keberhasilan program. Beliau menegur seketika. Pada mulanya saya kaget. Setelah saya pelajari, banyak hikmah yang diperoleh. Saya selalu berhati-hati dalam bertindak. Komunikasi adalah kunci yang selalu beliau ingatkan dan jalankan. Putusan rektor telah dibicarakan berulang dan jika ada kesalahan, tidak pantang untuk diperbaiki, tidak malu untuk mengakui bahwa di satu sisi terdapat kesalahan. Kebersamaan dalam berbagai hal menjadikan kami kuat, menjadikan kami saling menjaga. Setiap masalah dibicarakan bersama untuk mendapatkan putusan. Setiap putusan diproses dengan mendasarkan pada ketentuan yang berlaku dansetiap putusan yang keluar menjadi tanggung jawab beliau.

Benar dan tepat adalah ketentuan yang diberlakukan. Beliau selalu bertanya dengan rinci setiap ajuan dari pimpinan universitas. Tidak ada putusan yang lepas dari daya kritisnya, daya telitinya, daya koreksinya. Surat-surat yang beliau tandatangani adalah surat yang telah berkali-kali bolak-balik beliau periksa. Kesalahan sekecil apa pun akan ditemukannya. Apalagi kesalahan konsep. Apa yang saya senangi dari beliau adalah selalu ada solusi, ada koreksi sehingga saya menjadi mudah memperbaikinya. Inilah kriteria pemimpin yang memperbaiki untuk kebaikan dan kemartabatan dirinya dan semua yang dipimpinnya. Beliau bukan tipe orang yang cepat percaya. Beliau akan baca seluruh surat, seluruh usulan, seluruh draf putusan. Corat-coret pada draf telah biasa saya temukan. Bahagianya jika surat tanpa coretan. Pada akhirnya saya memplejari gaya beliau dalam segala hal. Proses belajar inilah yang saya temukan pada sosok kepemimpinan beliau. Selalu ada hal yang menarik setiap mengobrol apa pun. Selalu ada celah yang membuat kita bisa memasukkan ke dalam pikiran dan hati, terutama kecerdasan dalam putusan, dalam obrolan. Rinci adalah hal yang beliau pegang. Alternatif adalah ketentuan pada setiap kegiatan.

Beliau ada pada setiap kegiatan. Pada saat wisuda, misalnya selalu saya diminta laporan rinci pada 3 hari sebelumnya dan 1 hari sebelumnya. Kewaswasan, dag-dig-dug karena takut salah, takut tidak sukses memicu saya memerhatikan rincian sebelum ditemukan beliau. Semua kegiatan harus dilaporkan dengan rinci. Saya menjadi sadar kini mengapa beliau selalu minta rincian. Beliau adalah penanggung jawab segala kegiatan di kampus. Beliau harus tahu rincian untuk mengevaluasi, untuk memberikan saran, untuk menjawab pertanyaan dari siapa pun. Inilah pemimpin yang mempunyai tanggung jawab. Undangan beliau periksa sejak awal. Beliau memberikan catatan pada acara apapun untuk kebaikan, agar terhindar dari kesalahan. Memang pada awalnya cape bekerja dengan beliau. Akan tetapi, dengan niat belajar rasa itu hilang  lenyap tanpa sisa.

Perilaku beliau di dalam dan di luar universitas selalu bertujuan untuk membesarkan Unswagati, untuk menarik minat masyarakat agar menitipkan anak-anaknya di Unswagati. Ada saja gagasan segarnya. Pada tahun 2005 dimulai pasar murah Ramadan. Acara ini dipersiapkan dengan matang. Berkali-kali rapat agar tidak terjadi kesalahan. Setiap rapat semua seksi yang bertanggung jawab dimintai laporannya. Alhamdulillah pada pelaksanaannya lancar, banyak dikunjungi masyarakat. Penerapan gaya kepemimpinan ala pimpinan daerah diadopsi dengan baik, dimodifikasi dengan cermat. Pasar murah Ramadan sampai tahun kemarin dilaksanakan, dilanjutkan oleh rektor sekarang. Untuk pertama kalinya saya terlibat dalam kegiatan yang menguras tenaga. Kami belum terbiasa dengan hentakan-hentakan kerja seperti ini. Alhamdulillah, saya dapat mengikuti dengan alur yang disiapkan beliau. Kata kuncinya adalah kepercayaan, berbaik sangka, menemukan kebaikan bagi kemaslahatan umat, dan tentu saja belajar terus menerus untuk meningkatkan kualitas diri.

Pada awal kepemimpinan beliau juga, saya dikejutkan dengan tarawih keliling, subuh keliling, dan Jumat keliling. Ini kebiasaan yang telah dilaksanakan pada saat beliau menjadi walikota Tangerang. Saya mengikuti dengan tenang, mencari hikmah di balik aktivitas ini. Selama dua periode kagiatan ini tidak pernah lepas. Pada setiap kunjungan ke masjid selalu ada bingkisan (sadaqoh) dari Yayasan Al-Machmud dengan tetap mengedepankan nama Unswagati. Kegiatan ini pada dasarnya adalah untuk membawa Unswagati ke tengah masyarakat. Alhamdulillah hampir pelosok kota dan kabupaten Cirebon tersentuh.

Membawa kampus ke luar dari wilayah diri adalah kebijakan yang membawa dampak positif terhadap perkembangan Unswagati. Persentuhan dengan pemerintah, dengan media dimainkan dengan baik. Kampus menjadi dekat dengan instansi daerah dan pusat, dengan media massa, dengan perguruan tinggi lain juga tidak dilupakan. Pada masa beliau memimpin Unswagati diperoleh izin penyelenggaraan Fakultas Kedokteran. Hubungan beliau dengan beberapa pejabat menjadi salah satu kunci keberhasilan pemerolehan izin tersebut. Saya selalu mendampingi beliau berkonsultasi dengan FK Undip dan dengan politisi Senayan, juga dengan pihak Dikti. Semua jalur dicoba, didekati untuk memuluskan kelahiran FK. Pada masa beliau juga lahir Prodi Magister Pendidikan Bahasa Indonesia.

Paparan ini dari sudut pandang pribadi. Tetapi itulah kesan saya. Itulah rasa hormat saya setelah 7,5 tahun mendampingi beliau. Terlalu banyak hal yang berkecamuk dalam diri dalam kondisi duka saat ini. Akan tetapi, saya perlu menyampaikan hal ini kepada khalayak. Insya Allah beliau banyak beramal yang menjadikan orang berbaik sangka, yang membuat orang belajar dari perilaku baik beliau. Semoga Allah Swt. menjadikan amal baik beliau sebagai wasilah mendapatkan surga, bertemu dengan orang-orang saleh di taman surga.

Selamat jalan guruku, sahabatku, saudaraku. Seluruh keluarga sivitas akademika Unswagati akan selalu berdoa, akan selalu mengenang jasamu yang luar biasa dalam pengembangan Unswagati. Insya Allah kami akan melanjutkan langkah yang telah engkau siapkan. Fasilitas kampus yang berkembang pesat, jumlah mahasiswa yang meningkat, sarana transportasi mobil kampus  bersliweran, kesejahteraan meningkat tajam adalah keberhasilan yang dicatat dalam hati seluruh sivitas akademika dan hal itu menjadi tantangan bagi penerusnya, bagi siapa pun. Kami akan selalu meneladani sikap disiplinmu dalam segala kegiatan. Engkau selalu mengatakan bahwa DISIPLIN ADALAH NAFASKU. Prinsip ini engkau terapkan dengan baik dalam segala hal.

Terima kasih Pak Djakaria, engkau telah memoles kampus kami tercinta menjadi cemerlang. Semoga kami dapat melanjutkan gagasan cerdas yang telah engkau terapkan dengan indah. Indah bersamamu, meski hanya sekilas, karena memang hidup kita di dunia sekedar mampir. Engkau, insya Allah telah menyelesaikan tugas di dunia dengan begitu indahnya. Semoga Allah Yang MahaPengasih rida terhadapmu. Selamat jalan karibku. Bekerja denganmu sangat menyenangkan, sangat membanggakan, terhormat, tidak takut bertindak karena engkau selalu mendukungku.  Ya, Allah masukkan sahabatku ke taman surga-Mu. Amin.

Penulis: Prof. Dr. H. Abdul Rozak, M.Pd (Dekan FKIP Unswagati)

k3qj7

Bawalah Kami ke Jalan yang Benar

Apa yang tergambar dalam benak dan laku para pejabat dan para penguasa padasaat menerima amanah? Kita tidak dapat menebak karena itu adalah masalah hati,bersifat rahasia di antara dirinya dan Allah Swt. Akan tetapi, Allah yang MahaBerkuasa menunjukkan melalui perilaku pejabat itu, penguasa itu. Amanah dapat dimaknaisebagai pertanggungjawaban terhadap pihak yang memilihnya. Dengan demikian,pejabat dan penguasa yang benar akan selalu menanyakan setiap langkah dankebijakan yang diputuskan kepada pihak yang memilihnya. Pemilihannya tentu sajaberdasarkan kriteria tertentu. Seseorang diamanahi sebagai Menteri Pendidikandan Kebudayaan karena dipercayakan untuk menjalankan berbagai kebijakan presidendi bidang pendidikan dan kebudayaan. Presiden tentu sebaiknya dan seharusnyatelah meraba dalam dirinya apa yang dibutuhkan rakyat dan apa yang diperlukanuntuk memartabatkan di bidang pendidikan dan kebudayaan. Jadi, terjadi kesalingkaitan.,tidak bisa mandiri, kebebasan terbatas. Terbatas dalam menentukan pilihan dankebebasan dalam menerapkan kebijakannya.

Para kepala daerah yang diamanahi para rakyatnya semestinya telahmengetahui secara mendalam apa kehendak rakyatnya, bagaimana kehidupan rakyatsekarang dan apa yang harus dilakukannya agar kehidupan rakyat menjadisejahtera, aman, dan nyaman. Kehendak rakyat itu sederhana, bawalah kami ke jalan yang benar dengan carayang benar. Permintaan sederahana ini susah untuk diterjadikan. Beberapakepala daerah mampu menjalankannya dengan baik. Mereka mengabdi pada rakyatdengan menjalankan program prorakyat. Rakyat mengelu-elukannya dengan semangat dan memercayai pada periodeberikutnya. Akan tetapi, banyak kepala daerah yang lupa janji, lupa diri, matirasa. Mereka asyik dengan rencana sendiri yang telah disiapkan sejak dini,sebelum terpilih jadi kepala daerah atau anggota dewan. Janji masa kampanyehanya sebagai pembuka untuk menutup niat sesungguhnya yang tersembunyikan.

Ke manakah mata, telinga, dan hati para pejabat dan penguasa yang selamaini tidak ada di tengah-tengah rakyat?Pejabat dan penguasa yang seperti iniasyik dengan gayanya sendiri. Mereka asyik dengan narkoba, dengan gaya hidup mewah,dengan mengambil hak rakyatnya, memerkaya diri tanpa kerja lelah dan keras,sibuk mengedarkan proposal, sibuk meminta proyek. Apa yang terjadi di lapanganditinggalkan begitu saja, tidak pernah ditengok, ditanya. Waktu mereka habisuntuk menjalankan segala hal yang akan berdampak pada kehidupan dirinya dankeluarganya serta lingkungan yang mendukungnya. Pikiran tentang rakyatnya tidakdimunculkan karena tertutup dengan kepentingan dirinya. Bahkan kepentingandirinya tidak pernah selesai. Oleh karena itu, KPK atau BNN yangmenyelesaikannya.

Mementingkan diri sendiri memang tidak akan pernah selesai. Diri sendiriyang dibiarkan berjalan seiring dengan nafsu cenderung tidak terkuasai. Hatidan pikiran tidak sejalan. Apa yang terjadi pada masa yang akan datang padadirinya dihiasa dengan kekuasaan, keenakan, keinginan menguasai orang lain demikepentingan dirinya, nafsu dilayani lebih besar dibandingkan dengan keingianmelayani. Padahal mereka adalah pelayan rakyat yang semestinya mengabdi padakepentingan rakyat.

Peristiwa yangsekarang terjadi sangat memprihatinkan. Peristiwa korupsi betul-betul di luarnalar kita yang berpikiran sederhana. Peristiwa pejabat militer, bupati yang terkenanarkoba mencengangkan rasa kita. Keinginan para pejabat berganti mobil dinasjuga menghenyak naluri yang sedang asyik merenungi hidup. Mau dibawa ke mananegeri ini? Apa yang salah dengan negeri ini? Apakah kita kurang bersyukur?Apakah kita salah menerapkan sistem? Apakah kita salah menempatkan pikir danhati dalam tubuh ini?Apakahkita tidak berbuat apa-apa? Kita dapat menyusun sekian pertanyaan tentangkondisi negeri tercinta kita.

Rakyat tidak akan pernah mengajukan keinginan secara nyata, berterusterang. Ia akan menyikapi dengan diam. Akan tetapi, sebagian rakyat menyatakandengan lantang kehendak melalui berbagai media. Pernyataan kehendak berubahbanyak disuarakan akademisi, tokoh penting negeri. Akan tetapi, memang banyakyang tidak mau berubah karena telah memeroleh kenyamanan dalam kondisi kini.Kita khawatir bahawa pernyataan itu sekedar pada surat kabar, pada berita.Tampaknya banyak pejabat atau penguasa yang tidak akrab dengan bacaan, denganberita. Banyak di antara mereka yang tidak mengetahui bahwa teman-teman pejabatdan pengausa ditangkap KPK karena pada hari berikutnya dialah yang ditangkapKPK, yang ditangkap BNN, yang dibicarakan para ahli. Setiap hari dimuattulisan-tulisan kritik-positif-konstruktif pada surat kabar tentang berbagaikebijakan pemerintah dan peristiwa yang berlangsung, masih aktual. Tentangkondisi sosial yang berkembang dan tulisan itu berkehendak ke arah yang baik.Analisis para ahli cukup tajam dan beralasan. Kritikan yang dimuat melalui mediaelektronik juga cukup baik, cukup tajam dan sebentulnya dapat dijadikan sebagaipengingat. Para pejabat dan penguasa itu terkadang hilang ingatan. Pada saatmasa kampanye fasih melafalkan janji dan kelu mulut pada saat diminta janji.

Ada di manakah para pejabat atau penguasa pada saat berita disiarkan dankoran diedarkan. Kepekaan para pejabat dan penguasa tampaknya telah terkikis. Kondisimasyarakat, negara, dan bangsa tidak menjadi perhatian untuk diselesaikan.Bagaimanakah membayangkan anggota dewan menerima uang 1 miliar, 2 miliar secaratunai. Bagaimanakah membayangkan annggota partai meminta jatahsekian persen dari proyek yang digarap. Apa yang terjadi dengan hati mereka.Perhatikan pada saat koruptor itu keluar dari kantor KPK, tidakada tampak sesal, masih bisa senyum, masih dapat mengatakan (Silakan tanyakan kepada pengacara saya).Bagaimana membayangkan koruptor menyatakan bahwa yang terjadi pada dirinyaadalah takdir. Apa yang mereka tahu tentang takdir. Allah adalah Mahabaik (Wahai orang-orang yang beriman, makanlah makanan yang baikdari rezeki yang Kami berikan kepada kalian (Q.S Al Baqoroh:172).Pada saat tertangkap selalu ada pihak yang disalahkannya. Dijadikankambing hitam. Kata-kata yang meluncur dengan mudahnya tidak dipikirkanmaknanya. Perilaku ini sebenarnya bagian dari pribadinya yanng sebenarnya,bahwa pada umumnya pejabat yang korup itu tidak melandaskan perbuatannya padakekuatan kata dan iman. Mereka melakukan segala halyang dapat memberikan keuntungan kepada dirinya. Hidupmereka hanya mencari keuntungan, kelebihan dengan tidak mempertimbangkan baikdan buruknya. Perhitungan halal dan haram tidak digunakan meskipun sebetulnyamereka mengetahuinya.

Berbuatmesti dimulai dengan kemampuan memahami jalan yang akan ditempuh. Kita yakin bahwapara koruptor itu mengetahui korupsi itu merugikan rakyat, tidak sesuai denganhukum. Pencandu narkoba itu tahu bahwa perbuatan itu salah, menyalahi aturan,menyiksa dirinya, merugikan orang lain. Mengapa mereka berbuat juga? Logikamereka tidak bersambung dengan hati. Perhitungan mereka miring ke kiri,keinginan keuntungan sendiri, tidak memerhatikan kondisi yang bakaldialami orang lain.Mereka takut tidak dapat menjalankan hidup denganbaik tanpa harta yan banyak. Mereka tidak mengkhawatirkan kehidupan orang lain.Perihal hidup orang lain bukan bagian dari rencananya menjadi pejabat ataupenguasa.

Perubahan orientasi dapatdijalankan dengan begitu mudahnya oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawabterhadap dirinya dan orang lain. Jabatan bagi mereka adalah menaikkan peringkatsosial dalam pandangan masyarakat. Mendapat posisi yang memudahkan melakukansegala hal yang diinginkannya, dapat merancang program yang dapat membahagiakandirinya dan kelompoknya, dapat membelokkan program untuk keuntungan dirinya.Jabatan tidak dipandang sebagai media pengabdian, sebagai ibadah untukmengumpulkan bekal kelak di akhirat. Mereka sibuk dengan membekali dirinyauntuk kehidupan selanjutnya, kehidupan setelah selesai menjabat. Kata selesaibagi mereka sangat penting, karena berhubungan dengan waktu. Perburuan kekayaanmesti dilakukan. Tampaknya tujuan hidup bagi orang-orang seperti ini adalahmembahagiakan dirinya di dunia semata. Orientasi ini menjadikan hidup merekapendek, pikiran dan hati sempit, tidak menyisakan bagi rakyatnya yang banyakberharap.

Para pejabat yang korupmemberitahukan kepada kita sebagai rakyat untuk berhati-bati dalam menentukanpilihan. Begitu banyak orang yang mencalonkan kepala daerah atau anggota dewandengan tujuan yang sangat jelas pada keinginan menduduki jabatan saja tanpamengetahui apa yang harus dilakukan dalam jabatan tersebut. Berapa banyakpejabat yang berhasil menjalankan tugasnya? Tidak terlalu banyak dan lebihbanyak yang tidak berhasil. Mereka hanya bangga disebut sebagai pejabat tanpamengenal karakter daerahnya serta kondisi rakyatnya. Apa yang mereka lakukanselama satu periode adalah mencari bekal untuk menutup dana kampanye atau  untuk menyiapkan dana kampanye berikutnya.

Dana menjadi pemimpin itumenjadi alasan bagai pejabat dan angota dewan berperilaku mengumpulkandibanding dengan mengabdi, memerhatikan kehidupan rakyatnya. Sistem kita memaksa para calon kepala daerah atau calon anggota dewanmenyiapkan dana sebelum menduduki jabatan itu. Jadi, jabatan itu berharga sertamempunyai harga. Ia harus dibeli dengan usaha dan uang. Orang-orang cerdas,jujur, dan berkaraktei  tidak serta mertaakan jadi kepala daerah atau anggota dewan tanpa didukung dengan dana yangcukup besar. Dengan sistem ini tidak dapat dihindari jabatan sebagai bagiandari nafkah. Berbakti dengan memeras tenaga dan pikiran tidak menjadi alangandibayar karena aturannya jelas. Akan tetapi, tidak boleh membayangkan bahwadengan jabatan itu kekayaan akan bertambah. Akan tetapi,  pada kenyatannya banyak pejabat bertambahkekayaannya berlipat. Penambahan kekayaan sering kali tidak masuk akal, tidaksejalan dengan gaji yang diterimanya. Pada banyak kasus kekayaan ini diperolehmelalui korupsi. Oleh karena itu, banyak pejabat dan para anggota dewan yangtertangkap KPK.

Tampaknyakita harus menarik orang-orang yang cerdas untuk membantu mengembangkan negaradengan mempertimbangkan kesejahteraan rakyat sebagi tujuan utamanya. Orng-orangcerdas, bertanggung jawab, berkarakter masih banyak, masih bertebaran di negarakita. Kita dorong orang-orang yang bekepekaan tinggi untuk menduduki jabatankepala daerah atau anggota dewan. Kita ketuk hati rakyat, hati kita untukmendanai menuju jabatan tertentu. Kitaharus mengapresiasi teman-teman di Jakarta dan di Yogyakarta. Mereka telahmemerlihatkan kepekaan dan kepedulian terhadap kondisi bangsa ini. Kita yakinbahwa bangsa dan negara ini akan maju bila kepala daerah dan anggota dewanbersepakat untuk memajukan rakyatnya, bukan memajukan dirinya. Insya Allahbangsa kita adalah bangsa yang mampu bergotong royong dalam kebaikan jika adatokoh yang memerlihatkan kepeduliannya. Tokoh pengerak yang kini kurang. Kitabelum mempunyai tokoh ikhlas yang memerlihatkan kepedulian terhadap kemajuanbangsa. Kita harus yakin bahwa tokoh ituada. Kita harus mencari bersama-sama. Tokoh yang terbebas dari rasa inginmemiliki kekayaan berlebihan, mementingkan kesejahteraan rakyat, tidak akanpernah menyentuh narkoba, benci pada ketidakadilan, tidak takut pada preman,hanya takut pada Allah semata. Pemimpin memang harus diberikan kepada orangyang dipilih karena memenuhi kriteria, Ketika sahabat NabiSAW, Abu Dzarr, meminta suatu jabatan, Nabi saw bersabda: “Kamu lemah, danini adalah amanah sekaligus dapat menjadi sebab kenistaan dan penyesalan dihari kemudian (bila disia-siakan)”. (H. R. Muslim). Sikap yangsama juga ditunjukkan Nabi saw ketika seseorang meminta jabatan kepada beliau, dimanaorang itu berkata: “Ya Rasulullah, berilah kepada kamijabatan pada salah satu bagian yang diberikan Allah kepadamu.”Maka jawab Rasulullah saw: “Demi Allah Kamitidak mengangkat seseorang pada suatu jabatan kepada orang yangmenginginkan atau ambisi pada jabatan itu”.(H. R. Bukhari Muslim).

Semoga Allah memberikan petunjuk kepada kita dalam menentukan pilihan pada pemilu dan semogaAllahmenyadarkan pejabat dan anggota dewan untuk selalu mendahulukan kesejateraan rakyat sesuai dengan amanahyang diembannya. Amin.

12/4/16. Dimuat pada Radar(Selasa, 12 April 2016)

Abdul Rozak, Guru Besar pada FKIP-Unswagati Cirebon.