AKHLAK WARGA ADALAH JAMINAN KEAMANAN KOTA

Apa yang terlintas dalam pikiran orang tua tentang peristiwa yang terjadi di jalanan akhir-akhir ini di Cirebon? Menakutkan dan mengerikan. Para orang tua menjadi ragu dan khawatir melepaskan anak-anaknya pada malam hari dengan tujuan apa pun. Mengapa masih terjadi peristiwa yang seharusnya tidak terjadi? Kita berharap terlindung dari akibat perbuatan seperti itu. Kita tidak meyakini orang dapat melakukan perbuatan seperti itu. Kok tega,ya? Apa yang membuat orang bisa melakukan itu? Apakah mereka menyadari apa yang dilakukannya? Mungkin pada saat melakukannya dalam keadaan tidak sadar. Dia tidak tahu siapa dirinya dan siapa orang lain. Akan tetapi, pada awalnya dia sadar segalanya dan pada akhirnya, biasanya sesal yang disampaikan.

Orang paling bodoh adalah melakukan pekerjaan jelek dan dia mengetahui akibatnya yang juga jelek. Banyak orang yang sekarang melakukan aktivitas seperti itu. Akibat pekerjaan itu tidak hanya merusak dirinya, tetapi lebih parah berakibat pada kerusakan orang lain yang tidak melakukannya. Betapa banyak orang yang melakukan tindakan korupsi dan menyengsarakan orang lain yang tidak tahu-menahu. Betapa banyak orang yang terlibat dalam narkoba yang membuat sibuk orang lain. Orang yang membakar hutan telah membuat repot lingkungan sekitarnya. Banyak orang yang sibuk. Berapa banyak kerugian negara, kerugian orang lain yang tidak berdosa. Banyak orang yang sakit karenanya. Asap bertebaran yang dibawa angin dapat melumpuhkan aktivitas bisnis, kegiatan pendidikan, kegiatan silaturahmi, kegiatan mencari nafkah, kegiatan beribadah dan sebagainya. Orang  yang tidak menaati aturan lalu lintas berakibat kepada pengguna jalan lain yang menaati aturan.

Laku kita akan selalu berakibat pada aktivitas orang lain. Banyak orang lupa tentang akibat yang ditimbulkan atas perilaku dan periucap kita yang tidak disengajakan karena fokus pada akibat pada dirinya. Koruptor, pelanggar lalu lintas, perampok adalah contoh yang mementingkan akibat pada dirinya. Kepentingan orang lain dijadikan sebagai media. Kita dihadapkan pada kondisi melebihdahulukan kepentingan diri di atas kepentingan orang lain dengan berbagai cara. Kita jarang bertanya kepentingan orang lain. Kita selalu menanyakan apakah kepentingan kita sudah tercapai dan seberapa banyak lagi kepentingan yang belum tercapai dan seberapa lagi kepentingan kita yang harus disusun lagi. Kita sering mementingkan diri daripada orang lain.  Orang lain tidak penting. Orang lain harus mengikuti kepentingan kita. Orang lain ada untuk mementingkan betapa pentingnya kita.

Banyak bisnis sehat, jula beli halal. Para penjual berniat membantu kepentingan orang banyak. Hajat orang banyak diperhatikan. Kita dapat dengan mudah memenuhi kebutuhan sehari-hari, misalnya dengan mendatangi toko atau pasar. Orang-orang itu menyediakan kepentingan orang lain bersamaan dengan kepentingan dirinya tanpa mencelakakan dan ada pula yang berniat mencelakakan, seperti menjual barang yang sudah kadaluarsa atau mencampuri dengan zat kimia tertentu. Penjual seperti itu mengetahui bahwa itu bahaya. Mereka mengetahui akibat yang dimunculkannya terhadap orang yang mengosumsinya. Akan tetapi, mereka tetap melakukannya karena kepentingannya lebih penting daripada kepentingan orang lain. Mereka memanfaatkan kepentingan orang lain utuk kepentingan dirinya. Begitu juga bandar narkoba. Mereka sangat mengetahui bahayanya, tetapi mereka menikmati di atas penderitaan orang lain (Perokok tidak merasa menderita. Mereka menikmati dengan senang. Mereka sadar sebetulnya lingkungan sekelilingnya menderita. Mereka sesungguhnya mengetahui badannya rusak akibat merokok.) Begitu juga dengan pabrik rokok. Mereka mengetahui bahaya rokok dan dituliskannya dengan jelas. Akan tetapi, para perokok menikmati bahaya itu. Begitu juga dengan para koruptor.  Mereka mengetahui bahwa korupsi itu salah, menyengsarakan rakyat, mengambil hak rakyat.(Koruptor tidak memertimbangkan rasa.) Akan tetapi, mereka melakukannya juga karena kepentingan dirinya lebih penting, menurutnya dibandingkan dengan kepentingan orang banyak.

Orang-orang yang merugikan pihak lain adalah orang yang berbuat dengan mendahulukan nafsu. Rasa dikalahkan dengan nafsu menguasai segalanya melalui cara-cara yang mudah (menurut mereka mudah). Padahal korupsi itu sulit, mencuri itu sulit, merokok itu sulit, menyakiti orang lain itu sulit. Berbuat “jahat” itu perlu rancangan yang rinci agar tidak ketahuan (tidak ketahuan manusia, Allah  Mahatahu, para pembuat kejahatan tidak takut akan kehidupan di akhirat kelak, mereka menikmati dunia sedalam-dalamnya). Perbuatan “jahat” memerlukan tempat sembunyi, karena pada dasarnya jauh di lubuk hatinya takut ketahuan pada saat melakukannya. Meskipun pada akhirnya ketahuan juga. Berapa banyak para koruptor yang tertangkap tangan. Berapa banyak penjahat  yang tertangkap dan dijebloskan ke penjara. Berapa banyak perokok yang masuk rumah sakit.

Kita memerlukan orang yang mempunyai kepedulian terhadap sesama dan lingkungan. Kita memerlukan orang yang saling memelihara terhadap diri masing-masing dan di luar dirinya. Kita memerlukan orang yang memahami dirinya dan diri orang lain. Kita memerlukan orang yang saling membutuhkan dengan berjalan dalam kebaikan dan untuk kebaikan. Kita memerlukan orang yang mengetahui keterbatasan dirinya dan orang lain untuk saling melengkapi dalam kebaikan dan dengan cara yang baik. Kita memerlukan orang yang siap saling menasihati dalam kebaikan dan dalam kesabaran. Banyak jalan menuju kondisi yang diharapkan seperti itu. Kita yakin bahwa bangsa kita adalah bangsa yang baik, santun, saling menolong, gotong royong, dan dasar semua itu adalah kita adalah bangsa beragama, bangsa yang memercayai adanya Allah dan Muhammad sebagai utusan-Nya.

Kita mengherankan bahwa ada orang yang tega “membunuh” karena meminta tidak diberi. Makin terheran karena pelakunya masih muda belia (usia 17 – 19 tahun). Apa yang terjadi dengan anak-anak muda kita? Apa yang ada dalam pikiran mereka sesungguhnya? Apa yang mempengaruhi perilaku buruk mereka ? Apakah kita peduli terhadap kondisi mereka atau kita biarkan kondisi ini berjalan terus hingga hancur? Kita yakin jauh dalam lubuk hati tidak ada seorang pun yang menginginkan keburukan terjadi. Kita ingin kondisi kota kita aman, tidak ada tindak kriminal, tidak ada kekhawatiran jalan sendiri pada malam hari. Hati nyaman berjalan kaki dengan membawa apa pun. Di dalam angkot merasa terlindugi, berjalan kaki merasa aman, di jalan sepi seperti ditemani, di jalan remain menjadi teman.

Kenyamanan dibangun dengan kebersamaan semua warga kota. Membangun kenyamaman bukan sekedar ditangani penguasa. Memang penguasa (walikota dan jajarannya, bupati dan para stafnya) yang bertanggung secara hukum karena merekalah yang menjadi penanggung jawab kota dan segala isinya. Pada akhirnya kepala negara yang bertanggung jawab terhadap kondisi negara. Kepala daerah dan kepala negara sangat tidak mungkin mengawasi perilaku warganya secara langsung. Media pengawasan dilakukan secara tidak langsung, yaitu dengan kebijakan yang membangun kepercayaan terhadap pembuat kebijakan itu. Oleh karena itu, para kepala daerah dan kepala negara seyogyanyanya menentukan kebijakan yang dapat dipahami masyarakat sebagai kepentingan keamaanan negara, jaminan keamanan untuk warga.

Hubungan kita diterjadikan dengan saling pemahaman bahwa berbuat sekecil apa pun berpengaruh terhadap sistem yang berjalan. Terkadang kita lupa tentang berrtinya diri sehingga bertindak tanpa timbangan dampak. Keterjadian yang tidak diinginkan selama ini karena kekurangan pamaknaan pada setiap tindakan kita. Kita bertindak dan berucap  menurut kehendak kita dengan tidak memertimbangkan kepentingan orang lain. Pemaksaan terhadap milik orang lain, pengambilan hak  orang lain, menyakiti hati orang  lain, memaksakan kehendak pada orang lain. Kita sering tidak menyadari bahwa keberhasilan itu ada dalam tindakan orang lain. Orang lain banyak mengantarkan kita ke tempat yang jadi tujuan. Pengemudi, pilot, masinis, tukang nasi, para guru adalah dari sekian orang yang berjasa pada kita. Pencapaian tujuan kita tidak perlu dengan menyakiti orang lain, dengan pamaksaan. Pada prinsipnya setiap orang mmempunyai keinginan membantu karena dengan itu membantu juga dirinya. Kesadaran itu dapat dibangun dengan  akhlak. Jadi, solusi hidup itu sebenarnya akhlak mulia.

Perbaikan akhlak harus dilakukan sepanjang zaman, sepanjang hidup. “Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan keshalihan akhlak.” (HR. Al-Baihaqi). Seluruh warga harus menjalankan perbaikan akhlak masing-masing diri dan keluarga. Akhlak adalah buah dari ibadah. Jadi, akhlak tidak mungkin terjadi dengan sendirinya. Akhlak hanya dimiliki oleh orang-orang yang menjalankan perintah Allah dan menjauh dari segala yang dilarang Allah. orang-orang yang selalu mengingat Allah selalu berperilaku baik.” Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu dia berkata: Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya Allah ta’ala itu baik, tidak menerima kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Allah memerintahkan orang beriman sebagaimana dia memerintahkan para rasul-Nya dengan firman-Nya:  Wahai Para Rasul makanlah yang baik-baik dan beramal shalehlah. 

Kota yang warganya taat kepada Allah, beribadah kepada Allah seperti dicontohkan Rasulullah berkontribusi kepada kemanaan negara. Orang-orang beriman takut melakukan kejahatan dan kerusakan karena yakin segala tindakannya diawasi Allah. Oleh karena itu, akhlak orang beriman memberi kemanaan bagi sesamanya. Jadi, sesungguhnya kemanaan dan kesejahteraan kota, negara, desa sangat tergantung kepada tingkat keimanan para penduduknya. “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri tersebut beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS: Al-A’raf [7]: 96)..  jika setiap keluarga mendidik anggotanya berakhlak mulai, Insya Allah tidak akan terjadi perampasan yang berakhir pada pembunuhan, tidak ada korupsi, warga nyaman berjalan malam dan siang. Kondisi ini adalah tanggung jawab kita, bukan sekedar pemerintah. Semua harus memerintahkan dirinya berakhlak mulai.

Kita sering lupa setiap mempunyai masalah tidak meminta pertolongan Allah yang Mahakuasa. Kita mengandalkan kemampuan diri yang sangat terbatas. Padahal segalanya yang mengatur alam dan segala isinya adalah Allah. Kita ingat pesan Rasulullah  “Mintalah kepada Allah, bahkan meminta tali sandal sekalipun” [HR. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman 2/42, Al Albani berkata: “mauquf jayyid” dalam Silsilah Adh Dha’ifah no. 1363]. Apalagi hal yang besar. Alah siap mengabulkan permintaan umat-Nya. “Wahai hamba-Ku. Kalian semua kelaparan, kecuali orang yang Aku berikan makan. Maka mintalah makan kepada-Ku, niscaya Aku akan berikan. Wahai hamba-Ku. Kalian semua tidak berpakaian, kecuali yang Aku berikan pakaian. Maka mintalah pakaian kepada-Ku, niscaya akan Aku berikan” [HR. Muslim no. 2577

Sumber : Prof. Abdul Rozak, M.Pd