DINDING

Abdul Rozak
Guru besar FKIP-UGJ Cirebon

Manusia itu rentan dan lemah. “Dan manusia diciptakan dalam keadaan lemah’” (An Nisa: 2). Manusia mudah terpengaruh. Kondisinya tertarik pada unsur luar yang menjadikan reaksi tertentu pada dirinya. Unsur luar dapat masuk dengan mudah. Oleh karena itu, manusia butuh penguatan dirinya. Segala yang dibutuhkan manusia sebagian besar berada di luar dirinya. Kekuatan yang dibutuhkan hanya diperoleh dengan mendapatkannya di luar dengan segala risikonya. Risiko yang paling berat adalah pengaruh negatif. Tahapan pengaruh itu berjalan dalam waktu bias selamanya, yaitu mulai pada saat manusia memerlukan interaksi dengan pihak lain sampai dia meninggal. Manusia tidak dapat mandiri. Kata mandiri pada manusia sebenarnya tidak dapat dikatakan sepenuhnya. Mandiri mungkin dalam pemutusan sesuatu. Itu pun sebenarnya setelah berproses melalui masukan dari pihak lain. Jadi, selalu manusia membutuhkan sesuatu yang berada di luar kemampuannya. Kebutuhan terus dicarinya karena karakternya begitu.  Sesungguhnya pencarian kebutuhan itu berseiringan dengan dimasukkannya pengaruh tertentu; positif atau negatif. 
Kelemahan manusia ditandai dengan ketidakmampuan mandiri. Sejak bayi sampai tutup usia manusia harus dibantu dan saling bantu. Penjalanan hidupnya selalu harus meminta bantuan orang lain. Oleh karena itu, manusia selalu harus hidup dalam kerumunan yang di dalamnya terjadi saling memerlukan dengan segala kepentingannya. Berbagai kepentingan yang dijalankan  dapat memunculkan kekuatan kerja sama. Hubungan timbal balik dapat diterjadikan dengan keikhlasan atau dengan keterpaksaan. Sifat bantuan ditentukan posisi. Kesejalanan dalam posisi menerjadikan kerja sama setara, saling mengisi saling menguatkan. Akan tetapi, pada saat hubungan tidak sejajar (antara majikan dan pembantu, pengusaha dan pegawai, penguasa dan petugas) akan terjadi bantuan “keterpaksaan” atau “keikhlasan” bergantung pada kekayaan hati antara pihak yang berkerja sama. Akan tetapi, tetap dalam lingkup saling membutuhkan.
Hubungan manusia akan selalu sarat dengan kepentingan yang jelas atau tersembunyi. Kepentingan memertahankan hidup harus dengan interaksi. Selamanya kita tidak akan mampu menjalankan keinginan atau kepentingan tanpa bekerja sama dengan kepentingan pihak lain. Kondisi itulah yang menyebabkan kepentingan bekerja sama. Kerja dalam kebedaan kepentingan, tetapi saling berkontribusi untuk keberhasilan masing-masing kepentingan. Tentu saja kepentingan itu dapat menjadikan hubungan positif dan negatif. Setiap kepentingan berisi niat yang menggerakkan arah kerja sama. 
Hubungan kerja sama terjadi karena direncanakan pihak-pihak yang berkepentingan, dapat terjadi begitu saja, dapat terjadi karana masing-masing menyediakan kepentingan pihak lain, atau keinginan kuat kepentingan pihak untuk membantu pihak lain. Kepentingan berbisnis, supaya memeroleh keuntungan, terjadi antara pedagang dan pembeli. Kepentingan tumpukan kerjaan antara majikan dan pembantu berjalan karena tekanan antara kedua pihak. Tentu saja pembantu banyak ditekan karena banyak kebutuhan (meskipun majikan tanpa pembantu tidak akan mampu berbuat, tidak mampu melakukan aktivitas yang beragam dan berkelanjutan). Sesungguhnya hubungan antara kepentingan itu pada dasarnya didasarkan pada saling menguatkan, saling memerlukan, saling mengikat antara yang berkentingan pada saat itu. Keterikatan antara pihak selalu berubah, berpindah bergantung kepada kepntingan yang harus diselesaikan.
Manusia memerlukan gerak setiap saat untuk memenuhi kebutuhannya. Dia tidak dapat berdiam pada saat harus bergerak. Manusia memerlukan pemenuhan kebutuhan pengetahuan dan pengalaman karena manusia dilahirkan dalam keadaan tidak tahu apa pun. “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” (An-Nahl : 78)” . Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang memberikan alat agar manusia dapat hidup, yaitu telinga, mata, dan hati. Dengan peralatan itu manusia berinteraksi dan berkomunikasi. Melalui saluran itu manusia membukakan diri, mengundang unsur luar masuk ke dalam dirinya. Melalui apa yang dilihat dan apa yang didengar masuk ke dalam hati dengan pertimbangan atau terkadang tanpa pertimbangan. Pada posisi inilah ragam kebutuhan banyak pihak masuk ke dalam hati seseorang. Inilah yang terjadi dengan anak-anak kita. Berapa ribu kata setiap hari anak-anak kita, misalnya menerima dari orang tua, dari para guru, atau pihak lainnya. Anak-anak kita menerima informasi secara teratur dari para  guru, dari orang tua atau dari temannya. Kontak anak-anak kita dengan pihak lain terjalin dengan sepengetahuan kita atau sering di luar pengawasan orang tua. Pada saat bersama guru semua informasi yang masuk kepada anak-anak dapat dipantau. Para guru memberikan materi sesuai dengan ketentuan yang terdapat pada kurikulum. Sebelum ke sekolah anak-anak bersama keluarganya. Mereka berbincang dengan orang tua, adik -adiknya atau kakak-kakaknya. Corak kondisi setiap keluarga berbeda. Kondisi yang tercipta ditentukan oleh kebiasaan keluarga. Mungkin juga anak-anak keluarga tertentu tidak ada kumpul sarapan bareng, tidak prnah mengobrol bersama, tidak pernah liburan bersama. Dapat terjadi dalam keluarga yang terdiri dari unsur itu bersepihak, masing-masing mempunyai urusannya sendiri.
Anak-anak kita berjalan setiap hari ke arah yang baik atau tidak baik. Arah itu secara tidak sadar sebetulnya telah ditentukan oleh kondisi keluarga. Bekal utama anak-anak kita adalah kondisi keluarga. Dinding utama ana-anak kita adalah didikan keluarga. Bagaimana kondisi yang “diciptakan” orang tuanya. Apa pun putusan orang tua berpengaruh terhadap kehidupan anak-anak pada masa selanjutnya. Pengaruh kuat orang tua, terutama ibu dapat dijadikan prediksi akan seperti apakah anak-anak kita selanjutnya. Ibu adalah madrasah utama. Penyair ternama Hafiz Ibrahim mengungkapkan bahwa Al-Ummu madrasatul ula, iza a’dadtaha a’dadta sya’ban thayyibal a’raq”.(Ibu adalah madrasah  pertama bagi anaknya. Jika engkau persiapkan ia  dengan baik, maka sama halnya engkau persiapkan bangsa yang baik pokok pangkalnya.). Orang tua sering kaget pada saat anak-anaknya melakukan kekerasan, misalnya atau melakukan tindakan kriminal. Mereka merasa tidak mengajarkan perilaku seperti itu. Para guru juga sering kaget mengapa anak didiknya bisa berbuat hal yang tidak diajarkannya. Masyarakat sering kali “mengutuk” tindakan brutal para anak didik. Peristiwa yang terjadi di tengah kita dan tidak kita kehendaki selalu menjadi bagian pembicaraan. Kondisi itu selalu beralih pada mengapa terjadi, salah siapa, dan sebgainya.perbincangan itu tidak berkualitas karena tidak menyelesaikan masalah (atau mungkin juga kebisaan kita bahwa setiap masalah dibncangkan, dipadang dari sudut beragam, meminta pendapat ahli dan setelah itu selesai, tidak menjadi kebijakan).

Kita sering lupa memberikan dinding kepada anak-anak kita. Pada saat memberikan kendaraan bermotor kita lupa menunjukkan cara menggunakannya, untuk apa dan ke mana saja diperbolehkan menggunakan motor. Pada saat memberikan telepon pintar, kita tidak memberikan petunjuk cara menggunakannya (lokasi; di mana boleh digunakna, durasi; berapa lama boleh menggunakannya, aplikasi; apa saya yang boleh digunakan). Petunjuk tu sebagai dinding yang akan membentengi anak-anak kita dari serbuan dari luar yang kini cenderung sangat halus. Kita sering melihat anak-anak yang mengendari motor tanpa helm. Pemandangan biasa anak-anak sekolah merokok di sembarang tempat. Perilaku itu pencobaan sedikit-sedikit yang tidak terasa memupuk masuk ke wilayah yang lebih besar. Peristiwa kekerasaan yang terjadi kini adalah bagian dari asupan tidak terasa dari salah lihat (berapa jam setiap hari anak-anak bermain aplikasi di teleponnya, di komputer jinjing atau di tempat penyewaan), dari salah dengar (berapa kaliat yang tidak baik masuk ke dalam dirinya setiap hari, berapa kata melalui lagu atau perbincangan yang seharusnya belum waktunya di dengarnya). Mereka terdorong mempraktikkan apa yang dilihatnya. Kita lupa membat dinding dengan menyuarakan kalimat-kalimat indah (quran, pengajian). Kita  lupa mengarahkan tototan televisi. Kita lupa menemani anak-anak kita. Kita masing-masing sibuk mengurus kepentingan masing-masing yang tidak terkait dengan pertumbuhan masa depan anak-anak kita. Kita wajib memasang dinding.
Kita pasang dinding yang akan selalu menjaga anak-anak kita dari serbuan informasi yang tidak baik. Kebebasan harus dijaga dengan dinding yang kokoh. Komunikasi dengan tepat dan teratur akan saling mengingatkan antara kita dan anak-anak.  Anak perlu sentuhan yang tepat waktu, tepat kata, tepat hati. Berbicara antara hati akan menentramkan hubungan anak dengan orang tua, dengan guru. Sentuhan melalui hati dengan memeragakan akhlak mulia, Insya Allah akan memahamkan anak untuk selalu memilih yang terbaik bagi dirinya, bagi orang tuanya, dan bagi bangsanya. Kita pasang dinding besi pada hati kita masing-masing. Kita bangun dinding kokoh, yaitu akhlakulkarimah.
Monday, 30 March 2020

Sumber : Prof. Dr. Abdul Rozak, M.Pd