MARHABAN, YA RAMADAN

Abdul Rozak
Guru Besar FKIP-UGJ Cirebon

Anna Sabandina membolak-balik kalender mejanya. Dia tidak tahu mengapa tiba-tiba ingin melihat kalender. Mungkin mencari selingan, beralih pandangan dari layar laptop. Sejak pagi dia mengerjakan tugas kantor. Dia berusaha mencari keseimbangan. Da mengatur diri antara kerja, istirahat, olah raga, berjemur, asupan makanan, beramal urusan dunia dan beramal urusan akhirat. Dia berusaha segala pekerjaannya diniatkan untuk bekal akhirat. Sangat rugi bila memisahkan perilaku dunia dan akhirat. Dia berusaha dengan segenap kemampuan dan pengetahuannya (ilmu agama) beribadah dalam berbagai kesempatan. Dia sedang mengumpulkan bekal untuk akhirat,  “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Hasyr: 18). Dia ingat-ingat firman Allah ini. Dia khawatir terlena dengan urusan dunia yang tidak akan dibawa ke akhirat. Hidup di dunia hanya sebentar dan di akhirat kekal, tidak akan pernah putus. Dia selalu berusaha menjadikan dunia sebagai bekal hidup di akhirat.


Dia kembali melihat kelender mejanya. Perlahan-lahan dia menelusuri angka dan matanya berhenti pada tanggal 24 April 2020. Dia melihat di bawah angka itu, tanggal 1 Ramadan 1441 (Dia membaca kalender masehi, bukan hijriah). Dia berbisik dalam hati, apa yang telah disiapkan menghadapi Ramadan tahun ini. Akhir-akhir ini umat sedang dihadapkan pada masalah penghindaran terjangkit virus korona. Pikiran, perasaan, dan tubuh semua orang sedang tercurah pada virus ini. Kita sedang berusaha agar dapat terhindar dari terjangkitnya virus ini. Segala usaha dicurahkan pada pencegahan ini. Perilaku disesuaikan dengan ketentuan agar kita tidak terinfeksi oleh virus itu. Kondisi ini menganggu banyak aktivitas rutin. Rutinitas beralih kepada hidup yang dapat membuat virus itu tidak mampir pada tubuh kita. Seolah kita diarahkan oleh kemauan virus ini. Seolah virus ini berkata,”Jangan begini, jangan begitu, harus begini, harus begit”, kalau kamu tidak mau kumasuki.” Kita tidak mengelak karena itu pengalaman, tilikan keilmuah medis. Kita harus menyelamatkan diri dari infeksi virus itu dan kita harus mengikuti prosedur tetapnya seperti itu.


Beberapa saat Anna Sabandina “terjerumus” pada pikiran sesaat, mengikuti kondisi yang sedang dihadapi. Dia sadar bahwa ikut arus tidak akan mampu berpikir dengan baik. Kita akan tersedot. Kemampuan akan habis memikirkan cara mengikuti arus yang sedang berjalan. Dalam hal tertentu dia sudah mengikuti aturan yang berlaku. Sebagai warga dia mengikuti aturan pemerintah dan dari keilmuan yang dimiliki terbatas dia mamahami hal itu. Akan tetapi, dia harus menyusun program di atas kondisi yang dihadapi. Dia harus memikirkan solusi, tidak berkutat pada masalah. Dia berpikir lokal keluarga. Masalah besar telah dipikirkan oleh yang berhak memikirkannya; negara dan pemerintah daerah. Dia menyerahkan kepercayaan kepada para pejabat yang berhak untuk mengurus masalah besar ini. Dia akan memikirkan kebutuhan rumah tangganya. Dia sudah wanti-wanti kepada anggota keluarganya untuk tidak membicarakan hal yang bukan bagiannya. Pembicaraan kita harus sederhana, yaitu dapat diterapkan sesuai dengan kebutuhan kita. Dia sering mendengar teman-temannya di kantor atau di lingkungan tempat tinggalnya sering membicarakan hal-hal besar yang bukan bagiannya. Atau mungkin kita sering membincangkan hal-hal yang tidak mungkin terjangkau sehingga kita asyik hanya mengobrol tanpa isi; pepesan kosong. Kita merasa asyik membicarakan hal di luar diri kita. Kita jarang membicarakan masalah sendiri dengan serius karena khawatir tidak menemukan solusinya.


Anna Sabandina berpikir sederhana. Dia merancang bagaimana menjalankan ibadah puasa Ramadan dengan khusyuk dalam kondisi seperti sekarang ini. Puasa adalah ibadah yang tidak boleh berkurang takarannya karena sebab-sebab tertentu. Ibadah puasa Ramadan hanya setahun sekali. “Dulu para sahabat, selama enam bulan sebelum datang bulan Ramadhan, mereka berdoa agar Allah mempertemukan mereka dengan bulan Ramadhan. Kemudian, selama enam bulan sesudah ramadhan, mereka berdoa agar Allah menerima amal mereka selama bulan Ramadhan.” (dalamislam.com). Anna Sabandina malu membaca pernyataan ini. Dia bertanya-tanya ke mana selama ini. Apa yang dia lakukan selama ini. Apakah setiap menghadapi puasa Ramadan dia sering menyiapkan lahir dan batin.  Dia mencari hikmah di balik musibah yang dikirimkan Allah pada tahun ini. Banyak pelajaran yang diperolehnya. Dari bacaaan, dari berita banyak hal yang dijadikan sebagai cermin untuk menjalankan hidup dengan lebih baik. 


Puasa Ramadan bukan lagi bulanan, tinggal harian. Apa yang harus dia siapkan dalam beberapa hari ini? Puasa pada bulan Ramadan sudah terbiasa dia lakukan. Sejak kecil dia telah melakukannya. Dia beranggapan kewajiban yang harus dilakukan oleh setiap muslim, oleh orang-orang beriman. Setiap menghadapi puasa Ramadan yang terjadi adalah periapan lahiriah. Apa yang harus disiapkan untuk makan sahur, tajil, buka puasa. Istri sibuk menyusun menu agar anggota keluarga tidak bosan. Setiap pagi istri ke pasar. Anak-anak bersekolah seperti biasa. Malamnya ikut salat tarawih berjamaah di masjid. Kadang-kadang ikut tadarus bersama tetangga. Bada salat subuh ikut pengajian. Rutinitas seperti itu sudah dia jalani berpuluh tahun bersama keluarga, bersama tetangga. Di kantor dia menyiapkan buka bersama dengan pegawai dan mengundang pejabat di daerahnya. Menjelang hari raya kesibukan bertambah; menyiapkan busana utuk salat ied, kue untuk para tamu, makanan enak untuk menjamu para tamu, menyiapkan kamar atau hotel untuk keluarga yang datang dari berbagai daerah. Sepuluh hari terakhir disbukkan dengan urusan dunia, memersiapkan peryaan Idul Fitri. 


Anna Sabandina menerawang masa lalu. Tahunan dia menjalani hidup pada bulan Ramadan terasa masih jauh dari segala hal yang dicontohkan Rasulullah Salallahu Waalaihi Wassalam. Dia meyakini apa yang telah dilakukannya sangat banyak kekurangan. Dia jadi berpikir apa yang diketahuinya tentang puasa Ramadan itu. Ilmu tentang itu tidak pernah bertambah. Jangan-jangan menjalankan agama tanpa ilmu yang mencukupi, sekedara mengikutiapa yang dijalankan oleh orang tuanya.  Dia membatin. Muncul rasa perih. Betapa dia kurang memerhatikan kesibukan dalam mencari ilmu agama. Kajian tentang fikih jarang diikutinya. Pengetahuan tentang ibadah tidak pernah bertambah. Hidupnya selama ini disibukkan memenuhi kebutuhan menjalankan hidup di dunia; rumah, kendaraan, hiburan, rekreasi, busana indah. Dia dan keluarga selalu menjalankan ibadah pokok; salat, puasa, zakat, terkadang ikut pengajian, alhamdulillah dia dan istri sudah melaksanakan ibadah haji.


Ramadan tahun ini berbeda. Berbeda berperilaku ke arah yang lebih baik. Atas tuntutan hidup sehat dan bersih untuk menghindari terjangkit virus korona. Kegiatan menjalankan puasa Ramadan tahun ini sangat berbeda. Anna Sabandina menemukan begitu banyak hikmah dalam kondisi seperti ini. Salah satu hikmah yang jelas adalah keluangan waktu di rumah. Kita disarankan dengan tekanan ke arah harus berada di rumah. Godaan terbesar pada bulan Ramadan adalah berkeliaran di rumah, jalan-jalan untuk menjemput sore, berangkat sore untuk menjemput magrib. Diam di rumah pada saat menjalankan puasa adalah cobaan yang cukup besar. 


Dia mulai merancang kegiatan yang berpahala dalam menjalankan puasa Ramadan tahun ini. Tahun ini sebagai titik balik untuk memerbaiki perilaku puasa pada Ramadan berpuluh tahun yang lalu. Dia merancang progam puasa di rumah. Puasa adalah ibadah kebersamaan, kita “dipaksa” menjalankan berbagai aktivitas untuk bersama memeroleh pahala yang disediakan Allah untuk umatnya. Ibadah puasa mulai dengan makan sahur. Dari Anas bin Maalik Radhiyallahu anhu beliau berkata: Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Bersahurlah kalian karena dalam sahur ada keberkahan. ”https:// almanhaj.or.id/3949-keberkahan-sahur.html. Makan pada saat sahur memerlukan motivasi sesama anggota keluarga, Kenikmatan dan keberkahan diperoleh pada saat kebersamaan terwujud. Kita makansahur Bersama karena waktu terbatas. Oleh karena itu, dalam keterbatasan diwujudkan keberssamaan. Dalam kondisi seperti ini akan terjadi saling mengingatkan. Suami mengingatkan istri bersiap menyiapakan makanan. Ayah mengingatkan anak-anak untuk bangun segera agar tidak telat. Inilah keindahan.
Dia akan mengajak semua anggota keluarga salat berjamaah di rumah dilanjutkan membacakan hadis atau ayat Quran. Sejak di rumah saja, Anna Sabandina belajar menjadi imam. Dia belajar membaca Quran dengan sungguh-sungguh. Dia menghapal ayat-ayat pendek agar tidak mengulang-ngulang surat yang sama dan yang terutama adalah ingin lebih mendekatkan diri kepada Allah. Dia mengingatkan anggota keluarganya untuk tidak tidur setelah salat subuh. Dia akan menyerahkan aktivitas anak-anaknya menjelang matahari terbit. Dia dan istri akan tadarus. Dia bertekad akan mengkhatamkan Quran minimal 2 kali.


Kendala tahun-tahun yang lalu adalah masalah waktu. Sejak pukul 8.00 sampai dengan pukul 16.00 dia bekerja di kantor. Kini waktu di rumah lebih panjang. Insya Allah dia akan memanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Sebelum tahun ini dia juga sering buka di luar rumah karena banyak undangan makan bersama. Tahun ini dia Insya Allah setiap hari buka bersama di tengah keluarga. Beribu kenikmatan makan di tengah keluarga dengan apa pun lauknya. makan nikmat bukan karena lauk pauk yang mewah. Hatilah yang membuat nikmat. Kebersamaan menikmati keseadaan. Selama “ngantor” di rumah dia telah mempraktikkan makan bersama dengan lauk pauk seadanya. Rasanya nikmat. Apalagi pada saat berbuka puasa bersama kelaurga di rumah kecintaanya. Dalam hadis qudsi Allah Ta’ala berfirman, “Bagi orang yang melaksanakan puasa ada dua kebahagiaan; kebahagiaan ketika berbuka, dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabbnya.” (muttafaq ‘alaihi). Dia dan keluarga ining meraih kebahagian itu.


Hal terakhir yang disampaikan kepada keluarganya adalah ingin bersama-sama mendaftar ke surga. Karena pada bulan Ramadan pintu surga dibuka dan pintu nereka ditutup.“Jika telah datang bulan Ramadhan, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu” [Muttafaqun ‘alaihi]. Alhamdulillah semua anggota keluarga menyetujui program Ramadan tahun ini. MARHABAN, YA RAMADAN.

Cirebon, 14 April 2020

Sumber : Prof. Dr. Abdul Rozak, M.Pd