OTOBIOGRAFI KITA

Abdul Rozak

Guru besar FKIP-UGJ

Buku adalah dokumen. Isi buku bisa apa pun. Buku menerima apa pun yang dikehendaki penulisnya. Kertas-kertas atau layar-layar itu siap menerima curahan dari para penulis. Gagasan apa pun atau informasi apa pun yang dituliskan tidak akan mendapat perlawanan. Apa yang dituliskan, itulah yang tercatat di dalam buku. Kertas atau layar komputer terbentang luas dan terbuka untuk diisi apa pun sesuai denga kinginan penulis. Sesungguhnya tidak sekedar penulis, siapa pun boleh menggunakan peluang untuk mengisi kerta atau layar komputer ini. Apalagi zaman sekarang setiap orang memeroleh kemudahan untuk menuliskan kehendaknya. Banyak media yang dapat dipergunakan dan itu gampang. Akan tetapi, tidak setiap tulisan menjadi buku. Banyak orang sekedar menuliskan komentar atas isu yang sedang berkembang, atau banyak orang yang sekedar mengisi waktu menuliskan yang sebenarnya tidak perlu. Menulis buku tetap milik beberapa orang yang serius, yang mempunyai niat.

Buku menjadi media bagi kebanyakan orang untuk berkomunikasi. Miliaran buku yang telah dipublikasikan di seluruh dunia. Betapa banyak penulis yang menghasilkan buku lebih dari 1 buah. Betapa banyak bidang yang telah menjadi perhatian para penulis. Banyak yang menulis dan sesungguhnya lebih banyak orang yang tidak menulis. Menulis memerlukan keterampilan khusus. Oleh karena itu, tidak semua orang dapat menulis. Tidak semua orang berhasrat menjadi penulis. tidak semua orang butuh menulis. Ada penulis, ada pembaca. Banyak buku yang dipublikasikan. Oleh karena itu, harus banyak pembaca yang memanfaatkan tulisan itu. Negara kita tidak terlalu banyak penulis dan sedikit yang hobi baca.

Menulis harus dipaksanakan karena memerlukan pengorbanan waktu, dana, dan kamauan keras untuk mewujudkannya. Menulis tidak sekedar menuliskan apa pun yang dikehendaki. Kehendak penulis bisa berbeda dengan kehendak pembaca. Penulis dapat dikendalikan oleh pihak tertentu yang memintanya menulis. Penulis juga dapat dikendalikan niat baik berdasarkan landasan kehendak Allah. Memang beragam kehendak keterjadian sebuah tulisan. Hal ini terbukti dengan begitu betapa banyaknya bidang yang termuat di buku.

Menulis bukan kegiatan pokok dalam kehidupan. Oleh karena itu, tidak semua orang melakukan kegiatan menulis. Hanya beberapa orang saja yang berminat dan mendalami profesi penulis. Orang belajar dengan sungguh-sungguh untuk menjadi penulis dan menjadikannya sebagai nafkah. Mereka berkarya, memublikasikannya, mendapat honor. Berbeda dengan penulis zaman dahulu, pada masa  perkembangan Islam, para ulama menulis untuk membantu umat memahami Quran dan hadis, untuk memudahkan umat beribadah sesuai dengan syariat berlandaskan Quran dan hadis. Para ulama, kaum salafus shalih mengkaji ilmu syariat untuk membantu para muridnya agar mudah memahami ajarannya, untuk membantu umat memahami pesan Allah dan Rasul-Nya sehingga mudah diiplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hatinya tidak terbesit memeroleh keuntungan lahiriah. Mereka melaksanakannya karena Allah, karena mencintai Allah, mencintai Rasulullah dan mengharapkan umat Islam mudah menemukan jalan ke surga. Mereka tidak mengharapkan keterkenalan. Akan tetapi, justru mereka menjadi dikenal oleh seluruh umat Islam dunia sampai sekarang. Kita kenal Imam Al-Nawawi, Ibu Katsir, Imam Syafei, IAhmada bin Hambal (Imam Hambal),  Muhammadg bin Ismail (Imam Al-Bukhori), Imam Qutubi, Ibnu Hajar Al-Asqolani, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, dan lain-lain. Siapakah yang mengenalkan mereka. Yakinlah bahwa Allah memerhatikan hamba-Nya yang ikhlas beribadah, berniat mencari rida-Nya. Oleh karena itu, untuk urusan apa pun berniatlah karena Allah.

Buku akan menjadi media pengingatan seseorang meski sudah meninggal. Sampai sekarang kita masih mengingat Buya Hamka, Idrus, Pramoedya Ananta Toer, W.S. Rendra, Arifin C. Noer, Ramadhan K.H., Mochtar Lubis, dan lain-lain karena tulisannya. Para penulis itu tidak meniatkan untuk diingat. Mereka menulis karena ingin menyumbangkan kebaikan kepada bangsa dan negara. Mereka menginginkan rakyatnya cerdas. Bangsa yang cerdas diawali dengan banyak baca. Bangsa yang rajin baca akan menjadi cerdas karena banyak pengetahuan yang diserap. Para penulis sekarang sebenarnya berniat sama. Mereka ingin berkontribusi terhadap kecerdasan rakyat Indonesia. Akan tetapi, mereka mendapat penghargaan dari segi finansial, meski tidak merata. Penerimaan penghargaan tergantung pada sebaran yang diserap oleh pembeli.

Perbedaan itu wajar terjadi karena perkembangan masyarakat. Satu hal yang tidak berbeda bahwa pada prinsipnya banyak orang terbantu dengan publikasi tulisan. Apalagi sekarang terbantu dengan kemudahan teknologi. Penyebaran tulisan sangat mudah. Para pembaca mudah mengakses apa pun melalui internet dan banyak penyedia informasi yang diperlukan pembaca. Pada umumnya tidak berbayar. Kita dapat dengan bebas memanfaatkan berbagai kemudahan yang tersedia pada zaman melinial ini.

Sebetulmya semua orang mempunyai potensi menjadi penulis dan sesungguhnya semua manusia sedang menjadi penulis otobiografi. Sejak menjadi mukalaf hingga meninggal terus manusia menulis cerita dirinya. Setiap orang berbeda, karena perjalanan hidup kita tidak sama. Setiap orang mempunyai rencana perjalanan hidupnya. Kita memang tidak menulis. Akan tetapi, apa pun yang kita kerjakan ditulis. Kita sedang diperhatikan. Setiap laku dan kata kita tidak ada yang hilang. Semuanya tercatat dengan lengkap. Kita akan membacanya kelak pada hari kiamat. “Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatan­nya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya. Dan Kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah kitab yang dijumpainya terbuka.”Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu.” (QS Al-Israa: 13-14)”

Kita akan menerima buku yang terbuka. Semua yang kita kerjakan akan tertulis. Dengan kasih sayang-Nya, Allah memberi tahu kita sejak awal. Kita diminta mengisinya sejak sekarang. Apa yang dibaca saat nanti harus dipersiapkan sekarang. Allah memberikan peluang kepada kita untuk mengisi buku itu. Apakah buku itu akan berisi kebaikan atau keburukan bergantung kepada kita. Apakah buku itu berisi ketaatan kita kepada Allah dan Rasulullah atau kepada yang lain, bergantung kepada kita. "Hiduplah sesukamu karena sungguh engkau pasti mati. Cintailah siapa pun yang engkau suka karena sungguh kalian pasti berpisah. Berbuatlah sesukamu karena sungguh engkau pasti menemui (balasan) perbuatanmu itu.” [HR al-Baihaqi] . Kita diberikan peluang untuk melakukan apa pun, tetapi jangan lupa semua harus dpertanggungjawabkan. Mari kita menulis otobiografi dengan benar sejak sekarang. Kita pelajari kisah hidup Rasulullah, para sahabat, para ulama salafus shalih. Kita harus meneladani, karena memang itu yang kita minta setiap rakaat salat kita. “Tunjukilah kami jalan yang lurus,  (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.”  (Al-Fatihah; 6-7). Menelusuri jalan orang yang telah diberi kenikmatan oleh Allah adalah cara tepat belajar. Banyak membaca pesan Allah (dengan membaca Quran) dan berkomunikasi dengan Allah (dengan melaksanakan salat wajib dan sunah) adalah cara tepat agar kita dapat menyusun otobiografi dengan benar, sejalan dengan kehendak Allah.

Biografi kita dicatat dengan teliti, tidak mungkin salah dan kita tidak mungkin mengingkari. “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang telah dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya. Yaitu ketika kedua malaikat mencatat amal perbuatannya, satu duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada satu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. [Qâf/50:16-18].” Bersikap dan belajar ihsan pada dirinya sendiri adalah tindakan bijak agar kita selamat dunia dan akhirat. Hidup kita yang sebenarnya bukan di dunia. Hidup kita kelak di akhirat. Oleh karena itu, kita pilih akhirat bukan dunia.”Dari Zaid bin Tsabit Radhiyallahu anhu, ia mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda Barangsiapa tujuan hidupnya adalah dunia, maka Allâh akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran di kedua pelupuk matanya, dan ia tidak mendapatkan dunia kecuali menurut ketentuan yang telah ditetapkan baginya. Barangsiapa yang niat (tujuan) hidupnya adalah negeri akhirat, Allâh akan mengumpulkan urusannya, menjadikan kekayaan di hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina.”. Mari kita berniat hidup di dunia sebagai bekal di akhirat.

Rabu, 29 April 2020

Sumber : Prof. Abdul Rozak, M.Pd