RUMAH DIRINDUKAN

Abdul Rozak
Guru Besar FKIP-UGJ Cirebon
Anna Sabandina baru saja menutup surat kabar versi cetak (dia masih senang memegang kertas tinimbang “memolototi” layar gawai). Kabar utama selalu COVID19, virus corona. Perkembangannya masih mengkhawatirkan, masih bertambah, masih naik. Dia sangat menantikan berita berakhirnya kondisi yang makin mengkhawatirkan. Berita melaui televisi juga dia ikuti. Berita yang beredar masih berkisar usaha keras dari pemerintah untuk menangani virus ini. Dia memang menyayangkan masih ada masayarakat yang menganggap biasa masalah ini. Ajakan pemerintah dan lembaga-lembaga tertentu tidak dihiraukan. Mereka masih melakukan kegiatan yang mengkhawatirkan, seperti makan-makan di café, menghadiri hajatan, ke luar rumah tanpa perlindungan. Ketidakpedulian ini menyibukkan pihak lain, polisi disibukkan karenanya. Di samping itu, dia juga membaca,  banyak juga masyarakat yang sangat peduli dengan menyiapkan bantuan seadanya, menghimpun donasi untuk disumbangkan kepada yang berhak, terutama rumah sakit yang kekurangan APD.
Dia menyadari bahwa kondisi ini dapat berangsur hilang dengan kebersamaan, kepedulian, dan keinginan untuk mengembalikan ke kondisi yang diharapkan. Setiap orang harus berkontribusi menurut kemampuannya, menurut posisinya. Setiap orang harus bergerak, tidak banyak berkomentar. Silakan memberikan saran yang konstruktif, tidak mengkhawatirkan. Kabar yang membuat orang optimistis. Berita-berita yang tidak ilmiah sebaiknya tidak perlu dibagikan melalui grup-grup whatsapp. Info-info itu dapat membuat was-was. Kita harus menjaga hati kita masing-masing dan hati orang-orang yang kita cintai. Anna Sabandina berharap pemerintah satu kata dalam menyelesaikan masalah ini. Rakyat sangat percaya dan menantikan ikhtiar pemerintah. Rakyat telah resmi memberikan suara dan saatnya kini yang terpilih membuktikan bahwa mereka dapat membawa ketenangan dan keselamatan rakyat.
Anna Sabandina berusaha menjadi warga negara yang baik. Dia mencoba memahami kondisi yang terjadi saat ini. Dia tetap di rumah. Dia menjaga keluarga. Dia hanya keluar untuk memenuhi kebutuhan keluarga seminggu ke dapan. Dia melakukan pekerjaan dari rumah. Dia mulai belajar segala hal yang berhubungan dengan rumah. Selama ini karena sibuk bekerja di kantor, Senin hingga Jumat, pagi hingga sore, dia tidak terlalu memahami kondisi rumah secara utuh. Segala urusan rumah dia serahkan kepada istrinya. Pada saat “terpaksa” bekerja dari rumah dia agak gagap terus-menerus di rumah. Hari-hari pertama agak bingung juga. Dia memperhatikan saat-saat ketika tidak ada di rumah. Sebetulnya Sabtu dan Minggu dia di rumah, tetapi sering keluar juga, berlibur dengan keluarga. Jadi, tidak terlalu fokus pada kondisi rumah. Dia merasa rumah sudah cukup nyaman. Dia merasa enak tinggal di rumah. Dia orang yang senang kembali ke rumah. Setelah selesai urusan kontor dia langsung pulang ke rumah. Dia bersyukur kepada Allah Subhana Wataala karena dibertemukan dengan jodoh yang membahagiakannya dan anak-anaknya. Oleh karena itu, sejak diberlakukan belajar dari rumah dia menelusuri untuk lebih menikmati rumah dengan melengkapi instrumen agar lebih nyaman dan nikmat tinggal di rumah. Dia tidak tahu sampai kapan kondisi ini berakhir. Semoga Allah memudahkan kita keluar dari masa seperti ini dan Allah memberikan petunjuk agar kita berbuat benar sesuai dengan ajaran-Nya. Dia sangat yakin semuanya Allah yang menentukan, kita hanya berikhtiar. Dia yakin apa pun ketetapan Allah adalah yang terbaik. “Mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An-Nisa’: 19).
Dia belajar memerhatikan lingkungan rumah. Apa yang ada di rumah. Dia mulai memerhatikan ruangan yang ada di rumah dengan cermat. Dia kagum akan kreativitas istrinya. Dia berlama-lama di dapur. Asyik juga menemani istrinya masak. Dia hanya melihat. Dia tidak berbakat memasak. Kenikmatan yang selama ini lepas dari darinya adalah menemani istrinya masak setiap hari. Dia merasakan bagaimana susahnya menyiapkan makanan bagi anggota keluarga yang beragam dan pada kondisi sekarang yang harus betah di rumah. Tugas utama ibu rumah tangga pada masa kondisi sekarang adalah membuat betah anggota keluarga. Salah satu di antaranya menyiapkan makanan yang bervariasi dan cemilan sehat. “Pemaksaaan” seharian dan semalaman tinggal di rumah dalam jangka waktu yang belum tentu memerlukan pemikiran matang dari kepala keluarga dan ibu rumah tangga.
Anna Sabandina betul-betul setiap hari harus berdiam di rumah. Dia betul-betul belajar menikmati apa yang tersedia. Dia masuk ke kamar anak-anaknya secara bergantian. Dia ngobrol apa saja. Dia membuka ruang berbagi dengan anak-anaknya. Memang anaknya terlihat lelah, jenuh karena terus tinggal di rumah dengan tugas pelajaran yang tidak sedikit. Anaknya mengeluh. Dia lebih senang bertatap muka dengan gurunya, bercengkrama dan berdiskusi dengan teman-temannya. Tidak dapat dipungkiri berteman itu penting, bersilaturahmi itu penting, bertegur sapa itu penting, berjabatan tangan itu penting, mengobrol sambil makan di kantin itu penting. Aktivitas itu sekarang terhenti. Anna Sabandina sebagai ayah terus belajar memahami beban anaknya. Dia mengajak mengobrol. Perlahan setiap hari anaknya berangsur memahami persoalan. Dia hanya mengajak anaknya untuk berada dalam kondisi sekarang dan menikmatinya. Kita akan kalah kalau melawan kondisi yang tidak kita senangi. Pengakraban terhadap kondisi akan menyenangkan. Kita harus membuka hati, berdugaan baik. 
Anna Sabandina terus memahami kondisi dan permasalahan di rumah sekarang. Dia berbuat dan bekerja segala hal yang terdapat dala  pikiran dan tubuhnya agar tidak diam. Dia terus bergerak dan bergerak. Sudut-sudut rumah dia akrabi dan dilengkapinya apa yang seharusnya ada. Pernak-pernik yang dapat memantaskan kenyamaman dia kerjakan. Tentu saja dia diskusi dengan istrinya dan anak-anaknya sebelum memutuskan segalanya. Ternyata rumah itu tempat menyelesaikan banyak hal. Rumah itu tempat menyenangkan untuk bertukar pikiran. Sebagai kepala keluarga dia menyusun program harian dan mingguan. Istrinya bertanggungjawab atas makanan dan cemilan. Kerapian rumah tanggung jawab anaknya.
Dia akan belajar terus memahami rumah sebagai tempat beraktiviats menuju kebaikan. Dia ingin “menciptakan” suasana menyenangkan di rumah. Dia berusaha membendung pengaruh negatif. Dia ingin menjadikan rumah menjadi tempat pengamanan, perlindungan, dan kebersamaan. Rumah memang tempat yang seharusnya menjadikan nyaman bagi semua orang. Kita berasal dari rumah; lahir, menjadi tumbuh besar, menjadi matang. Rumah adalah tempat berkumpul yang sesungguhnya menyenangkan. “Allah menjadikan bagimu rumah-rumahmu sebagai tempat tinggal …” (Q.S. An-Nahl: 80). Dia akan menjadikan tempat tingal yang membetahkan. Dia akan membersihkan dari pengaruh negatif. Menurut dia rumah itu rentan bila tidak dilindungi. Pengaruh baik dan jelek dapat masuk melalui tayangan televisi, misalnya. Oleh karena itu, dia berkomitmen dengan anggota rumah memilih bersama acara yang ditonton (putusan ini akan terus diberlakukan meski kondisi darurat corona sudah berlalu). Kesepakatan juga meliputi waktu dan durasi. Pada saat tiba waktu salat (lima waktu) semua aktivitas berhenti termasuk menonton televisi. Durasi menonton sebanyak-banyak 30 menit dalam sekali menonton dan paling lama 1,5 jam selama sehari. Anak saya  semula berkeberatan atas durasi ini. Setelah diskusi panjang akhirnya menerima. Begitu juga dengan penggunaan telepon genggam, ( 1) tidak boleh digunakan pada saat sedang kebersamaan, misalnya makan, mengobrol, 2) setiap menggunakannya tidak boleh lebih dari 15 menit dan jarak penggunaan minimal 3 jam).
Masih banyak yang disiapkan oleh Anna Sabandina untuk menenteramkan kondisi rumah agar menjadi tempat beraktivitas membahagiakan, agar semua anggota betah berlama-lama di rumah bukan atas nama keterpaksaan seperti sekarang ini. Pada intinya dia sebagai kepala keluarga ingin membawa semua anggota keluarganya masuk surga, menjauhi neraka, “(Mereka berkata, ‘Sesungguhnya kami dahulu, sewaktu berada di tengah-tengah keluarga kami merasa takut (akan diadzab); Maka Allah memberikan karunia kepada kami dan memelihara kami dari adzab neraka’.” (QS At-Thur : 26-27)
Cirebon, 8 April 2020

Sumber : Prof. Dr. Abdul Rozak, M.Pd