TAKUT YANG MEMBAWA BAHAGIA

Mengapa kita harus mempunyai rasa takut? Rasa takut membuat kita berhati-hati. Takut adalah kondisi yang  tidak diinginkan terjadi. Kita selalu berusaha menghindari kondisi yang ditakuti. Pada umumnya takut mengarah pada rancangan masa depan. Masa depan yang belum pasti. Karena kita tidak mampu merencang masa depan dengan tepat, kita tidak mempunya kemampuan merancang apa yang akan dilakukan, bahlan hari esok sekalipun. Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dialah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (Surat Luqman; 34)”. Dalam kehidupan kita pada saat menjalani hidup sekarang dilimpahi rasa takut akan kehidupan masa depan yang belum pasti. Kita lebih takut akan kehidupan masa depan yang belum pasti daripada pada kehidupan masa depan yang sudah pasti.

Kita takut karena jenis informasi yang diterima. Kita membuka diri terhadap informasi apa pun. Kita jarang memeriksa dengan hati apa yang diperlukan. Sikap ini membuat informasi bertumpuk. Dengan gencarnya informasi yang masuk menjadikan kita merasa belum menyiapkan menghadapi hidup pada masa yang akan datang. Padahal kita tidak akan pernah hidup pada masa yang akan datang. Kata akan datang selalu beralih karena ada masa kini, selalu di depan. Ketakutan itu terkadang dibuat sendiri, dirancang seolah-olah akan terjadi seperti dibayangkannya. Jadi, kita terkadang ditakuti oleh rancangan sendiri. Padahal peristiwa terjadi selalu berhubungan dengan kondisi lain. Ada sesuatu yang ditakuti tidak terjadi atau terjadi. Ada peristiwa yang ditakuti terjadi juga karena tidak dapat dihindari. Orang takut akan kemacetan, berusaha menghindar dengan dari kemacetan. Akan tetapi, terjebak  juga karena semua jalan macet. Penghitungan matang terkadang terkendala atas kejadian di luar kekuasaan kita. Kita tidak dapat mengendalikan segala hal sesuai dengan keinginan kita. Kemampuan kita terbatas. Kita berada di tengah banyak orang yang memiliki kemampuan dan keinginan dan mereka menginginkan tujuannya tercapai.

Apakah dengan kemampuan terbatas menjadikan kita takut berbuat, khawatir tidak mempu melakukan sesuai dengan keinginan? Wajarlah kita mempunyai perasaan seperti itu. Khawatir itu harus disikapi dengan perasaan positif, tidak was-was. Rasa takut itu sesungguhnya menjadi senjata positif bagi kita untuk menyiapkan dengan baik agar apa yang kita takutkan itu tidak terjadi. Orang yang takut sakit akan menyiapkan segalanya agar daya tubuhnya kuat, terhindar dari penyakit. Orang yang takut salah melakukan suatu pekerjaan akan belajar tata cara melakukannya dengan baik. Orang yang takut tenggelam akan belajar berenang dengan sepenuh hati, balajar dan berlatih kepada orang yang ahli dan sabar. Jadi, sesungguhnya rasa takut itu positif pada intinya. Sudut pandang yang membedakan perilaku orang pada saat memandang rasa takut.

Apakah baik orang yang mempunyai rasa takut? Takut terhadap apa? Takut terhadap kemiskinan, kesengsaraan, kebesaran orang, tidak makan atau takut terhadap apa pun yang terkait dengan kehidupan di dunia. Orang-orang yang menyalahgunakan kekuasaan adalah orang yang tidak takut pada kekuasaan yang digenggamnya. Dia melakukan apa pun menurut aturan dia. Dia membaca aturan, memahaminya, dan melanggarnya karena memiliki kepentingan yang lebih besar dari aturan itu sendiri. Mereka membuka peluang untuk “disuap”, mengubah anggaran untuk kepentingan sendiri, memberikan layanan kepada orang yang menguntungkannya, mengutamakan pihak yang memenuhi kebutuhannya. Pejabat seperti ini tidak takut terhadap jabatannya sendiri. Banyak contoh jabatan yang mengantarkan pejabatnya ke penjara. Pada saat ditangkap KPK, misalnya mereka masih menduduki jabatan tertentu. Betapa baiknya jabatan itu karena mengingatkan pada “penduduknya” sehingga tidak keterusan, cukup sampai di sini. Akan tetapi, setelah itu kembali jabatan tu mengantarkan pejabatnya yang baru ke penjara. Banyak kepala daerah terkena OTT dan terjadi beruntun. Banyak pejabat yang tidak merasa takut terhadap akibat perilaku yang tidak sejalan dengan aturan amanah jabatan itu. Dia ditundukkan nafsunya dan menjalankan keinginannya di atas jabatan yang diamanahkan kepada dirinya.

Apa yang terjadi dengan sebagian di antara kita adalah kurang belajar dari peristiwa yang terjadi. Tidak bisa memaknai peristiwa yang menghampiri. Peristiwa itu lewat begitu saja di depan matanya. Peristiwa yang sama baru dilihatnya tidak dicermati, tidak pernah dianalisis. Peristiwa yang sama terjadi pada dirinya. Dua hari yang lalu tertangkap bupati A, 3 hari kemudian bupati C tertangkap dengan kasus yang sama, korupsi. Katakutan tidak ada pada dirinya karena tidak pernah belajar. Mengapa tidak ada rasa takut? Mungkin mereka tidak tahu. Mungkin mereka tahu akibatnya, tetapi mereka telah menyiapkan solusinya. Akan tetapi, mereka tidak tahu bahwa Allah Mahatahu, Dialah yang mengatur segala urusan. Kesadaran inilah yang hilang dari orang-orang yang berbuat salah. Mereka mengira telah menyusun skenario dengan tertib dan rapi. Mereka lupa bahwa Allah tidak pernah tidur (Albaqarah : 255). Manusai yang takut ketahun manusia, dia merancang cara menghindari dari manusia denga menyuguhkan kesenangan manusia. Dia lupa bahwa manusia sulit untuk menutupi rahasia. Orang yang takut kepada Allah, tidak akan pernah berbuat maksiat karena yakin akan ketahuan Allah. “Sesungguhnya Allah mengetahui yang tersembunyi di langit dan di bumi. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati.” Quran (Fathir : 38)”

Rasa takut itu energi positif (memang  tergantung pada sisi pandanganya, tetapi pada umumnya takut memunculkan positif). Banyak kesuksesan diawali dengan rasa takut gagal. Aktivitas belajar, kuliah, bekerja keras dan sejenisnya banyak didorong oleh rasa takut gagal. Orang-orang yang sukses dalam mengemban jabatan juga salah unsur pentignya adalah didorong dengan rasa takut gagal. Kita berharap dengan terus-menerus berdoa agar para menteri yang baru saja dilantik Presiden mempunyai rasa takut gagal yang mendorong mereka melakukan aktivitas kea rah kesuksesan. Semoag merera mempunya rasa takut berbuat dosa terhadap Allah. mengakali atasan sangat gampang karena kemampuan pengawasan atasan terbatas. Akan tetapi, sekali lagi pengawasan Allah terus berjalan hingga kita kembali kepada-Nya, tidak ada yang terlepas dari pengawas-Nya. “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang telah dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya.Yaitu ketika kedua malaikat mencatat amal perbuatannya, satu duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri.Tiada satu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. [Qâf/50:16-18]”. Keberhasilan menteri ditandai dengan membaiknya kehidupan semua bangsa Indonesai dalam segala hal. Keberhasilan tugas Menteri adalah membawa bangsa ini maju dalam segala bidang. Kemajuan Indonesia adalah ketenangan dan kenyaman bangsa ini menjalankan segala kebutuhannya, tenteram dalam beribadah, nyaman dalam berbisnis, mudah menemkan sekolah berkualitas, tenang mengaji.

Pada akhirnya semoga kita termasuk orang yang takut kepada Allah pada saat menjalan hidup di duni sehingga kita bahagia di akhirat.“Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, Aku tidak akan menghimpun pada diri hamba-hamba-Ku dua rasa aman dan dua rasa takut. Jika dia merasa aman dari-Ku di dunia, maka Aku akan beri rasa takut pada hari Aku menghimpun hamba-hamba-Ku. Dan jika dia takut kepada-Ku di dunia maka Aku akan berikan rasa aman pada hari Aku menghimpun hamba-hamba-Ku.” (HR. Abu Nu’aim dan dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullah di dalam ash-Shahihah no. 742).

Cirebon, 28 Oktober 2019

Abdul Rozak, Guru Besar FKIP-UGJ Cirebon

Sumber : Prof. Abdul Rozak, M.Pd