berita

KETERDIDIKAN LINGKUNGAN

Kemajuan pendidikan sebuah negara ditentukan oleh tingkat kualitas kepedulian masyarakatnya, bukan sekedar negaranya. Tentu saja negara sebagai pelopor, pihak yang merencanakan dan melaksanakan dengan kekuatan martabatnya. Negara adalah yang pertama-tama menentukan arah desain corak hidup bangsanya pada masa yang akan datang; 20 tahun, 30 tahun, atau 100 tahun. Pendidikan seharusnya termasuk yang diolah dengan kematangan. Pendidikan merupakan indikator kemajuan negara. Orang-orang terdidik sesungguhnya yang menggerakkan roda seluruh bidang kehidupan negara. Keterdidikan itu memerlukan waktu juang yang sangat panjang dan harus terencana dengan kematangan pikiran dan kekuatan niat ikhlas seluruh penyelengara negara.
Pendidikan sering dan berulang kali dijadikan sebagai sebab terjadinya berbagai peristiwa yang kurang baik, misalnya tawuran antara pelajaran, kekerasan di antara remaja, perundungan, kenakalan remaja, bahkan korupsi juga dikaitkan dengan wajah pendidikan kita. Pendapat seperti itu muncul karena pandangan tentang pendidikan yang diartikan sempit. Kita sering menerjemahkan pendidikan adalah kegiatan proses belajar mengajar yang terjadi di kelas. Pendidikan bertanggung jawab terhadap segala peristiwa yang terjadi di masyarakat. Kita beharap terlalu  besar terhadap pendidikan. Kita beranggapan pendidikan adalah solusi bagi kamajuan negara, karena tanpa pendidikan masyarakat akan runtuh perlahan karena kebodohan. 
Pendidikan yang berkualitas akan memertahankan negara berdaulat. Pembangunan pendidikan berkualitas tidak mudah. Pemerintah yang bertanggung jawab terhadap model persekolahan yang akan membentuk manusia Indonesia pada masa yang akan datang. Tanpa perencanaan matang dan berkelanjutan tidak mungkin memeroleh keinginan yang diharapkan terjadi. Berkali kurikulum diganti, berkali itu kita sering kaget. Segala hal  “buruk” yang terjadi di masyarakat sering mengagetkan kita. Peristiwa AU di Pontianak “meributkan” semua pihak dari yang ahli sampai dengan yang tidak ahli berkomentar. Melihat kasus itu, beberapa mata kita diarahkan kepada apa yang terjadi di sekolah. Bagaimana dengan pendidikan karakter kita? Sistem digugat tanya. Pendidikan karakter kita terus berjalan dengan berbagai perbaikan.  Kita sering membicarakan peristiwa yang terjadi di masyarakat dengan pandangan berbagai ahli dan setelah dibincangan selesai, tidak ada bincangan solusi nyata dalam bentuk kebijakan dan aturan yang dapat mencegah terjadinya peristiwa itu.
Pendidikan di sekolah tidak dapat bekerja sendirian. Secara tidak sadar pendidikan sering kali dibiarkan berjalan sendiri. Pada saat terjadi peristiwa yang tidak diinginkan di masyarakat yang pertama-tama ditengok adalah kinerja lembaga pendidikan. Pertanyaan yang sering diajukan adalah bagaimana guru mendidik anak-anak di kelas. Kita sering lupa guru berada di kelas karena perintah kurikulum. Mereka menjalankan amanah kurikulum. Guru dengan bersungguh-sungguh telah berusaha menjalankan segala perintah kurikulum, seperti yang tertata dalam silabus, dalam buku teks yang semuanya telah disiapkan oleh pemerintah (Kemendikbud). Kemungkinan ada keragaman yang terjadi di kelas, bisa terjadi. Akan tetapi, jika ditarik garis kesamaan, tampaknya tidak terlalu jauh (silakan lakuka riset yang komprehensif). Selama ini evaluasi terhadap guru lebih pada kognitifnya dan hasil UNBK siswa. Padahal di kelas diamanahkan penilai proses juga.  Peningkatan kualitas guru harus dijalankan melalui program berkelanjutan dengan bimbingan yang tidak terputus. Terjadinya kondisi yang tidak diinginkan sebaiknya dijadikan sebagai bahan kajian; muhasabah.
Di samping itu hal yang penting adalah melihat pendidikan secara komprehensif. Sekolah selalu berusaha memberikan pengajaran dan pembelajaran setiap saat. Guru memberikan bimbingan ke arah yang benar dan dengan cara yang benar. Usaha sekolah perlu didukung dengan kepedulian terciptanya lingkungan yang terdidik. Para siswa berada di sekolah dalam waktu terbatas. Mereka lebih banyak  hidup di dunia luas, seluas-luasnya dunia. Mereka dapat melihat dunia di tangannya (telepon genggam dapat mengatar keinginannya dalam waktu sekejap, dan internet). Anak-anak kita masa kini; milenial) mampu hidup sendiri (sebenarnya tidak pernah sendiri, mereka berada di kerumunan banyak orang yang tidak dikenalnya). 
Pendidikan berkualitas itu terwujud dengan usaha bersama, mengedepankan kepedulian seluruh unsur masyaakat,  terutama perwujudan niat pemerintah dalam berbagai kebijakan yang mendorong masyarakat berketaaan. Sekedar pemikiran yang dapat dijadikan timbangan untuk kebaikan anak-anak kita pada masa yang akan datang. Pendidikan adalah media andal untuk menyiapkan anak-anak kita menjalani hidup dengan baik, dengan benar, dan dengan bermartabat. Pemerintah selalu mengingatkan lembaga pendidikan untuk selalu mengikuti apa yang terjadi pada masa yang akan datang. Seperti saat ini pendidikan selalu dikaitkan dengan revolusi industri 4.0. Pendidikan berlomba menyiapkan segalanya agar tidak tertinggal. Di samping itu, sebenarnya ada hal yang harus dipelihara setiap saat. Hasil pendidikan tidak terhindar dari dampak yang direncanakan ataupun yang tidak direncanakan. Dampak yang sulit diprediksi adalah segala hal yang muncul akibat lingkungan sekitar. Lingkungan membentuk anak-anak dengan cepat karena tempat beraktivitas. Lingkungan sekarang tidak terlalu membahagiakan dan sesungguhnya menambah beban pendidikan, terutama para guru yang menjadi teman berdiskusi anak-anak. Demikian juga dengan perkemabngan teknologi. Kita “bertaat” pada kemauan tenknologi
Perhatikan lingkungan rumah. Aktivitas anak seharusnya lebih banyak di rumah. Rumah seharusnya tempat yang menyenangkan bagi anak-anak. Apakah rumah-rumah kita telah menjadi tempat yang dirindukan anak. Penciptaan situasi rumah adalah tanggung jawab kepala rumah tangga yang didesain ibu rumah tangga. Apakah selama ini orang tua banyak di rumah, terutama para ibu rumah tangga. Ibu sebagai pemelihara situasi di rumah. Kondisi berkualitas atau tidak berguna ditentukan kemampuan ibu rumah tangga. Rumah adalah sekolah utama para anak. Sejak kecil bahkan sebelum lahir bertumpu pada perilaku ibu. Oleh karena itu, ibulah yang seharusnya mengatur segala hal yang baik agar terjadi di rumah dan dengan demikian anak dapat masuk ke arena situasi yang menjadikan dirinya berkembang menjadi pribadi luhur. Orang tua menjadi contoh berperilaku. Perbincangan menyejukan, kalimat-kalimat menyenangkan, tidak ada sinentron, hanya ada siraman rohani menjadi bekal kehidupan, interaksi antara anggota keluarga diatur dengan tata laku sopan santun yang menyejukan. “Di dalamnya mereka tidak mendengar perkataan yang sia-sia dan tidak (pula) perkataan dusta”. [Surat An-Naba’ 35]. Betapa indahnya keluarga yang bersuasana surga. Jika suasana ini yang terjadi di setiap kelurga, berdampak pada masyarakat, kelaurga menajadi tiang negara. Kepedulian orang tua membangunkan suasana terididik seperti ini membantu tugas semua yang terlibat dalam pendidikan, unsur kepedulianlah yang mewujudkan negara bermatabat karena anak-anak bangsa kuat bertahan dalam kebenaran. 
Pelihara situasi di luar rumah. Kondisi di luar rumah saat ini sangat kompleks. Segala hal dapat menerjunkan anak-anak ke arah yang tidak menyenangkan. Banyak pihak yang terlibat. Banyak kontribusi yang tidak teratur masuk memasok gagasan dan perilaku. Banyak orang berkepentingan dengan niatnya masing-masing. Manusia dengan ragam laku, ragam tingkat pendidikan, ststaus ekonomi-sosial berbeda berentuhan dengan maksud berbeda dan sama-sama menjalankan niat sendiri. Pada posisi ininlah situasi di luar rumah setiap saat berberak dan berbeda. Banyak tawaran, banyak bujukan, masuk ke wilayah pergaulan yang beragam. Anak-anak masuk ke wilayah seperti ini dengan bekal pengkondisian di rumah dan di kelas. Pada tahapan ini bergelut pengaruh. Penguatan di sekolah dan di rumah mungkin dapat mengalahkan kondisi di luar rumah atau mungkin terkalahkan. 
Dalam situasi ini sering kita cenderung “meminta pertanggungjawaban” pendidikan dan pembelajaran di sekolah. Kekompakan dalam berkepedulian diahrapkan akan menentramkan. Kita harus berpikir komprehensif menjawab kondisi terkini. Arah bidikan kita terlalu cenderung pada duniawi. Padahal unsur terpenting perbaikan adalah hati (“Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung)” (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599). Perbaikan hati dapat memulihkan kondisi lingkungan fisik. Para pejabat, para guru, orang tua, para pedagang, para pebisnis, dan semua yang teribat di lingkungan masyakat luas jika menggunakan hati, membuka ruang hati untuk orang lain, insya Allah keterdidikan lingkungan akan terwujud. Anak-anak kita terkendali dalam merespons kemajuan. Mereka dapat menggunakan teknologi untuk kepentingan hidup berkualitas. Insya Allah. Semoga  pada Hari Pendidikan Nasional  tahun ini harapan bertambah membesar dan menjadikan kita bersenang karena pendidikan dipedulikan berbagai pihak, menyiapkan kondisi lingkungan terdidik. Hidup bermartabat, dihormati bangsa lain.

Sumber : Prof. Dr. Abdul Rozak, M.Pd