berita

MENYAMBUT TAMU AGUNG

Abdul Rozak
Guru Besar FKIP-UGJ Cirebon

Ana Sabandina sering melihat sambutan meriah atas kedatangan tokoh atau pejabat tertentu. Segala hal diurus untuk memeroleh kesan baik, kesan menghormati tamu. Memang kita harus menghormati tamu dengan baik dan sebaik-baiknya. Akan tetapi, penghormatan yang berlebihan, yang membuat semua orang sibuk menyiapkannya sehingga melupakan kerja utamanya. Pertanyaan mengapa,  selalu dijawab dengan POS (Prosedur Operasional Sistem). Kekakuan POS memiliki kekuatan sehingga orang merasa takut mengingkarinya. Oleh karena itu, dengan segala kemampuan dan di luar kemampuan segalanya disiapkan. Kita takut gagal yang berakibat pada banyak hal. Berkali ulang segalanya dicek. Pengecekan berulang terus dilakukan. Segala urusanya harus tepat. Kesalahan dilarang terjadi. Kealfaan ditiadakan. Semua unsur yang terlibat bertanggung jawab atas kesuksesan sambutan.
Ana Sabandina membayangkan dirinya ada dalam aktivitas itu. Kucur keringat, lelah tubuh, pikiran buntu merasuk pada dirinya. Dia tidak akan sanggup menyandangnya. Dia kagum terhadap orang-orang yang terlibat di dalamnya. Betapa kuatnya memegang tradisi penyambutan dengan penuh yakin. Ketaatannya berlebih terhadap sesuatu yang diyakininya dapat berpengaruh terhadap sesuatu yang belum tentu pada dirinya. Kesuksesan penyambutan milik para pejabat tertentu yang memiliki tujuan di balik peristiwa itu. Pejabat tertentu memerlukan perhatian tamu kehormatan itu. Oleh  karena itu, dia meyiapkan segala kebutuhan pejabat itu dengan sepenuh hati, dengan mengerahkan kekuasaannya, dengan memerintahkan bawahannya untuk berbuat lebih daripada biasanya dan menjajikan bonus kepada siapa pun untuk keberhasilannya.  
Dalam pikiran Ana Sabandina banyak orang yang mempertaruhkan segalanya untuk meraih hal tertentu yang belum tentu membahagiakan dirinya. Bayangan tertentu, keinginan tertentu selalu menggoda kita untuk meraihnya. Kita selalu membayangkan sesuatu yang belum tentu cocok dengan pribadi kita. Kabanyakan di antara kita memaksakan kecocokan dengan diri. Padahal banyak hal yang belum terpikirkan. Bahkan mungkin sering kali kita tidak memikirkan dengan matang. Pada posisi inilah sering terjadi kesalahan penerimaan pada saat ada tawaran. Kita sebetulnya tidak mengetahui juga alasan orang menawari kita sebagai calon legislatif, misalnya. Kita langsung tersanjung, menerima dengan penuh kehormatan karena legislatif itu kedudukan terhormat dan hanya seharusnya orang terhormat yang ada di situ. Kehormatan karena kedudukannya bukan karena orang yang mendudukinya. Perilaku orang-orang tertentu yang duduk di situ menjauhkan kehormatan kedudukan itu dari yang seharusnya. Kehormatan selalu identik dengan perilaku, dengan akhlak. Tugas para pejabat sesungguhya untuk menjaga kehormatan kedudukannya. Dengan lak kurang pantas pejabat tertentu kedudukan itu tetap terhormat dan orang yang mendudukinya terjerat, masuk ke wilayah yag tidak terpuji. Sekali lagi para pejabat seharusnya menyesuaikan laku dan bijaknya dengan kedudukan yang diembannya.
Ana Sabandina tidak pernah berhenti berpikir, mengapa banyak orang yang bekehendak menjadi pejabat. Semoga niatnya dari hati bersih. Niat itu penting karena akan menggerakkan arah segala anggota badan; mata, telinga, kaki, tangan, mulut dan sebagainya. Dia bersih akan mengarahkan mata memandang. Mata tidak akan melihat hal-hal yang menyebabkan hatinya terganggu. Mata akan mengarah kepada segala hal yang berhubungan dengan kepentingan masyarakat. Dia akan melihat jalan  raya seperti terlihat adanya, tidak dipoles karena mendapat uang tertentu. Dia akan melaporkan seadanya dan seharusnya. Dia akan melihat hak dan kewajibannya. Dia tidak akan melihat hak orang lain diakui sebagai miliknya. Matanya cepat melihat kondisi yang dibutuhkan rakyatnya. Dia selalu melihat untuk kepentingan rakyatnya.
Telinganya tajam mendengar keluhan rakyatnya, tajam juga mendengar perbicangan anak buahnya yang tidak berguna dan dia meluruskannya. Telinganya terlatih mendengarkan suara hati rakyatnya seluruhnya dari semua tingkatan, semua unsur, semua wilayahnya. Telinganya mampu membedakan dengan segara apa yang seharusnya dilakukan dan apa yang seharusnya tidak dilakukan. Telinganya terlatih mendengarkan yang seharusnya didengarkan. Telinganya hanya memasukkan semua kebaikan dan menolak kejahatan, terutama suara yang akan menyengsarakan rakyatnya.
Pada saat mata dan telinga pejabat hanya diarahkan kepada kebaikan hidupnya dibimbing ke arah kesederhanaan dan kemanfaatan. Dia takut pada gugatan rakyatnya kelak di akhirat. “Abu Ja’la (Ma’qil) bin Jasar r.a berkata: saya telah mendengar Rasulullah sallalahu alaihi wassalam bersabda: tiada seorang yang diamanati oleh Allah memimpin rakyat kemudian ketika ia mati ia masih menipu rakyatnya, melainkan pasti Allah mengharamkan baginya surga. (Bukhari, Muslim)”. Rasa takut inilah yang membimbingnya ke arah yang benar. Dia tidak melirik ke arah yang menyebabkan dia terperosok ke jurang kehinaan. Dia tidak akan mendengar ajakan yang menyebabkan dia masuk penjara karena korupsi. Dia memerhatikan kepentingan rakyat seperti yang diamanahkan pada saat mengikrarkan sumpah jabatan.
Pejabat yang berkarakter seperti dia atas, bisik Ana Sabandina mesti tidak ingin dihormati berlebihan. Dia akan datang menemui masyarakat tanpa diundang. Dia akan mengunjungi rakyatnya dengan membawa berita bahagia, bukan meminta. Dia akan terus memerhatikan rakyatnya agar sejahtera lahir dan batinnya. Penghormatan bagi dia adalah diakui sebagai sahabat menuju jalan hidup bahagia di dunia dan di akhirat. Dia ingat pesan Rasulullah SAW, "Imam [kepala negara] itu laksana penggembala, dan dialah penanggung jawab rakyat yang digembalakannya.". Pesan ini yang selalu diingat oleh pejabat yang berakhlak. Dia selalu menghormati rakyatnya, bukan minta dihormati. Kehormatan bagi dia adalah diakui kinerjanya oleh rakyat yang memilihnya. Kita berharap dan mempunyai harapan kepada para pejabat berakhlak “memuliakan” jabatannya dengan menjalankan tugasnya mendahulukan rakyat dan hanya untuk rakyat dengan landasan karena Allah. Pejabat yang berakhlak seperti itu, bisik Ana Sabandina biasanya pada malam hari menyiapkan segalanya dengan bersih hati untuk menerima kehadiran tamu Mahaagung yang setiap malam berkunjung. ”Rabb kita turun ke langit dunia pada setiap malam yaitu ketika sepertiga malam terakhir. Allah berfirman, ’Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan. Barangsiapa yang meminta kepada-Ku, niscaya Aku penuhi. Dan barangsiapa yang memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku ampuni.” (HR. Bukhari no. 1145 dan Muslim no. 1808). Setiap malam dia mendoakan untuk rakyat yang dipimpinnya, dimudahkan membawa rakyatnya ke jalan Allah, mengikuti teladan Rasulullah.
September 22, 2019

Sumber : Dekan FKIP