KEKUASAAN YANG MENOLONG

Sebelum pemilihan berseliweran ajakan, informasi, dan desakan untuk memilih calon tertentu dengan alasan tertentu yang subjektif. Pilihannyalah yang terbaik. Pilihan memang tidak pernah objektif. Sulit menentukan dasar pilih dengan keterbukaan, dengan keyakinan bahwa pilihannya akan membawa kesejahteraan, bahwa pilihannya memang mempunya kelebihan dalam berbagai hal. Setiap orang mempunyai kemungkinan berbuat baik dan berbuat salah. Para pendukungnya yang membesarkan kelebihannya (menurut pendukungnya) dan meniadakan kelemahannya. Kampanye selalu mengarah kepada hal-hal baik yang akan dilakukan. Janji yang diucap begitu saja seketika dengan harapan rakyat memilihnya. Target peserta pilkada bertujuan bagaimana agar terpilih. Mereka melakukan berbagai cara yang mungkin atau tidak mungkin, yang baik atau agak buruk, yang irrasional di antara yang rasional.

Kampanye adalah hak peserta dan pendukungnya. Tujuan pencalonan selalu ditekankan pada kemenangan. Oleh karena itu, jalan berkampanye selalu cenderung pada pencarian jalan menang. Mereka sulit menerima kekalahan. Kekalahan harus dihindari dengan berbagai cara. Tekanan ini dipahami berhubungan dengan dana kampanye yang besar (mungkin lebih besar daripada penghasilan selama 5 tahun, jika terpilih). Dana yang telah dikeluarkan untuk kampanye dan lain-lain tidak boleh sia-sia. Jika tidak menang dana itu tidak akan kembali. Banyak  kasus bahwa calon bangkrut ketika kalah dalam pemilihan. Kekayaannya habis, utang menumpuk, terkadang teman-teman juga menjauh karena mereka menduga calon yang kalah itu tidak lagi mempunyai kekayaan, tidak memberikan keuntungan.

Apa yang diharapkan rakyat setelah pemilihan itu? Pada umumnya, mungkin rakyat tidak mempunyai harapan, atau harapannya tidak pernah dimunculkan. Rakyat memercayai bahwa demokrasi ini akan membawa kesejahteraan atau setidaknya proses yang akan mengubah kondisi menjadi lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Rakyat mengharapkan perubahan positif yang terjadi dan diterjadikan para pemimpin terpilih. Mungkin pada suatu saat kita mendapatkan pemimpin yang mempunyai tingkat tinggi kepedulian terhadap harapan rakyat.

Pergerakan tingkah laku pemimpin dipengaruhi banyak hal di samping peraturan yang mengikat. Pengaruh yang terkuat seharusnya niat. Niat ini yang beragam, tidak dapat ditebak, berubah-ubah mengikuti kondisi yang terjadi dan orang kuat. Padahal niat diri yang seharusnya dilekatkan pada Allah yang Mahakuasa. Jika pemimpin yang terpilih itu mencalonkan karena Allah, Insya Allah akan membantu orang yang memerjuangkan kebenaran. Pandangan terhadap jabatan merupakan titik awal perilaku penjabat dalam menjalankan kekuasaannya. Bagaimanakah karakter kekuasaan itu. Pertama, kekuasaan terbatas.  Peraturan membatasi gerak penguasa. Periode berkuasa 5 tahun dan boleh bertanding lagi pada periode kedua. Perilaku dalam menentukan kebijakan harus sesuai dengan SOP. Pelanggaran terhadap aturan dikenai sanksi. Pada posisi inilah banyak penguasa yang sengaja melanggar aturan karena desakan dari berbagai pihak, terutama kelompok yang mendukung, yang menagih. Pada posisi inilah seharusnya penguasa sejak awal mempunyai kemandirian dalam segala hal. Kemandirian yang sesungguhnya adalah taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Inilah kemerdekaan yang hakiki, tidak tunduk terhadap kemauan orang lain dan terhadap nafsunya. Gejala ini yang tampak menggejala di negara kita, kecuali sebagai kecil penguasa yang berpendirian kuat mengikuti aturan. Keterbatasan ini seharusnya digunakan untuk merancang program tepat sasaran. Batas itu seharusnya mendorong bergerak dengan kecepatan tinggi. Batas itu yang seharusnya program dilaksanakan tepat waktu, tidak ada penyia-nyiaan segala hal. Penguasa terkadang lupa mencantumkan masa kekuasaannya dalam jadwal kerjanya. Penguasa yang baik mesti ingat akan waktu. Dai tidak akan memasukkan dirinya ke dalam manusia yang merugi karena menyia-nyiakan waktu.

Kedua, kekuasaan perlu dipertanggungjawabkan. Sejak dilantik penguasa bertanggung jawab terhadap rakyat dalam segala perilaku dan peri kata terutama kebijakan yang ditetapkannya. Rakyat akan memerhatikannya tanpa memberi tahu. Rakyat menyimak setiap gerak. Rakyat membaca bukti yang telah dibuat penguasa. Infrastruktur, harga pasar, keamanan, kenyamanan, layanan administrasi, layanan kesehatan, kemudahan mengakses segala hal yang dibutuhkan rakyat. Rakyat akan memutuskan pada pemilihan berikutnya. Penguasa harus mempertanggungjawabkan segala urusannya kepada pihak yang berwenang (DPRD, misalnya). Penguasa yang menyadari adanya pihak lain yang memerhatikan gerak geriknya, akan menyusun segala hal dengan dasar hukum sesuai dengan aturan yang berlaku. Jika langkah ini diambil, ketenangan akan mendekapnya, ketakutan akan sirna karena di bertindak benar. Semua akan mendukung karena benar, bukti terjelaskan. Tanggung jawab itu mudah dilaksanakan dengan keterbukaan. Semua pihak bisa melihat, bisa memeriksa dengan mudah. Tanggung jawab yang berat adalah terhadap Allah Subhanawataala. Jika semua penguasa telah terhubung  ke kondisi akhirat yang diinginkan, Isya Allah semua tertib dan tentram karena jangkauannya melampaui dunia.

Ketiga, kekuasaan itu amanah. Amanah bermakna segala hal yang tercantum dalam jabatan itu harus dijalankan. Jabatan itu sesungguhnya amanah untuk menjalankan perintah sesuai dengan isi jabatan itu. Sebagai kepala daerah (bupati, walikota), dia harus menjalankan segala perintah, seperti mengatur kota/kabupaten dalam berbagai hal sehingga rakyat dapat menjalankan hidup dengan baik, lebih berkualitas dari sebelumnya dengan anggaran yang tersedia. Penguasa yang amanah takut memerkaya sendiri dan kelompoknya. Kebijakannya mesti diarahkan kepada kepentingan rakyat. Dia khawatir akan dosa. Dalam pikirannya hanya ada kata rakyat dan takut dosa. Oleh karena itu, semua instruksinya kepada seluruh stafnya menjalankan tugas dengan baik dan dengan bersih, tidak boleh menyakiti rakyat. Kebahagian rakyat tujuan utamanya karena dalam rasa dan pikirnya kebahagian rakyat adalah kebahagiannya dan keluarganya, karena dia adalah rakyat yang sedang dipercaya, yang didudukkan rakyat sebagai penguasa daerah.

Keempat, kekuasaan itu menjalankan ragam kepentingan. Penguasa cerdas selalu menggabungkan berbagai kepentingan yang melekat pada dirinya menjadi kebijakan yang sejalan dengan kepentingan orang banyak dan tidak menyalahi aturan. Berbuat seperti ini sangat sulit. Memang menjadi penguasa, sesungguhnya adalah memecahkan kesulitan menjadi kemudahan. Penguasa bukan orang biasa, bukan orang kebanyakan. Dia orang pilihan yang telah melalui proses panjang dan rumit. Penguasa yang terpilih hanya karena mempunyai jalur, mempunyai dana, mempunyai keinginan meningkatkan kekayaan akan terjerumus. Dia akan mencelakakan dirinya. Betapa banyak kepala daerah yang telah tertangkap tangan oleh KPK. Penguasa seperti ini tidak cerdas. Mereka mendahulukan kepentingan diri dan kelompoknya. Rakyat dijadikan nomor kesekian, hanya sebagai ganjalan agar program kepentingannya berjalan dengan baik. Kecerdasan penguasa terletak pada kemampuan membaca rinci semua yang terjadi di masyarakat. Dia menjabarkannya dalam program yang dapat dibaca rakyat. Unsur keterbukaan dia pegang yang digabungkan dengan unsur kesiapan menerima masukan dari siapa saja yang peduli terhadap kemajuan daerahnya.

Kelima, kekuasaan itu mempunyai kekuatan dan kelemahan. Kekuasaan memberikan harapan dan ketakutan. Penguasa yang menyadari ini akan berhati-hati. Dia akan melangkah dengan penuh perhitungan. Kekuatannya dijadikan sebagai penutup kelemahan-kelemahannya. Dia tidak akan bersedih jika targetnya tidak tercapai sempurna. Kesempurnaan bagi dia adalah menjalankan kekuasaan sesuai dengan aturan yang beraku dan rakyat mendukungnya atas dasar kecintaan. Kecintaan inilah yang dia ingin raih. Kekuasaan tidak akan dia cintai, tetapi dengan kekuasaan ini dia mempunyai sarana mencintai rakyatnya. Dengan kekuasaan itu dapat dibuat kebijakan yang menyejahterakan rakyat dan dengan kekuasaan itu dapat membelokkan segala hal menuju kesenangan sesaat dirinya, keluarganya, dan kelompoknya. Kelemahan itu hanya dapat ditutupi dengan kekuatan dan itu terletak pada hati penguasa. Ke manakah hati bergerak menentukan masa arah kekuatan atau kelemahan.

            Keenam, kekuasaan itu bermartabat. Kekuasaan itu membawa martabat. Pandangan orang berbeda terhadap penguasa. Orang meninggikan karena jabatannya. Hormat berbeda karena pengaruh kekuasaan. Orang mengharapkan terjadi sesuatu pada lingkungan kekuasaan. Banyak keinginan ditanamkan pada diri penguasa. Jika banyak hal baik terjadi martabat kekuasaan itu melekat pada penguasa. Pada akhirnya penghormatan itu berbalik pada aktivitas dan kebijakan yang dilahirkan penguasa. Pengausa yang terkena kasus hukum tertentu membuat dirinya hancur, martabatnya tidak lagi menempel dan kekuasaan tetap ada menunggu. Jadi, sesungguhnya martabat itu terletak pada perilaku penguasa, pada orangnya. Orang bermartabat tidak tergantung pada kekuasaan. Pada saat ia kembali sebagai rakyat martabat itu tetap melekat pada dirinya. Orang tetap menghormatinya.

Ketujuh, kekuasaan itu tiket ke surga atau ke neraka. Niat berkuasa menentukan pilihan. Penguasa yang memanfaatkan dirinya untuk kebahagiaan orang lain, Insya Allah menuju jalan ke surga. Dia hanya peduli terhadap kebahagiaan rakyatnya. Pikiran dan perasaannya ada pada kebahagiaan rakyatnya. Pertanyaan bangun tidur  adalah apakah rakyatnya bisa tidur dengan nyenyak hari ini, apakah rakyatnya bisa makan hari ini, apakah anak-anak dapat bersekolah. Pertanyaan-pertanyaan penguasa akan menjadi dasar kebijakan melalui program-progam sebagai jawaban. Penguasa yang tidak bertanya tidak akan mencari jawaban. Segalanya dianggap selesai, tidak ada masalah. Hidupnya untuk diri sendiri.

Pada akhirnya kita berharap semua penguasa yang terpilih menggunakan kekuasaanya untuk menolong; menolong dirinya mengaktualisasikan kemampuannya; menolong rakyat menuju kesejahteraan dunia dan akhirat. Para penguasa terpilih masuk dengan cara yang benar.“Ya, Rabbku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan kelaurkanlah  aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong” (Al-Israa (17):80)

Cirebon, 25/6/2018

Abdul Rozak, Guru Besar pada FKIP-Unswagati Cirebon.