KEPEDULIAN PEMIMPIN DALAM KERAGAMAN

Hubungan selalu dibangun dengan dasar saling membutuhkan. Kita pada umumnya akan memertahankan keterpeliharaan hubungan karena sesungguhnya dalam hubungan itu terdapat kekuatan yang terbangun. Putusan yang dibangun dengan kebersamaan akan mudah dijalankan atas dasar kesepakatan di antara yang terlibat. Setiap orang selalu berusaha agar hubungan tetap terjaga dan selalu berusaha tidak pecah. Keterjagaan hubungan dalam situasi berkomunikasi bergantung kepada niat awal dibentuknya hubungan itu. Pihak-pihak itu menentukan terjaganya hubungan. Salah satu tidak mengindahkan akan terjadi perpecahan  yang berakibat pada putusnya hubungan dengan tidak diawali dengan kesadaran bersama.

Hubungan komunikasi terjadi secara sengaja, karena ada perjanjian awal yang di antara yang terlibat dan menyepakati butir-butir tertentu. Para unsur yang terlibat di dalamnya harus mengikuti apa yang telah dinyatakan dalam perjanjian, tertulis ataupun tidak tertulis. Di samping itu secara otomatis terjadi hubungan antara orang yang sebenarnya tidak saling mengenal, tidak ada perjnajian awal, tidak ketentuan tertulis di antara yang telibat. Akan tetapi, secara otomatis memang terdapat hubungan, manusia yang masuk ke dalam satu masyarakat,  karena merupakan bagian dari kesepakatan wilayah tertentu yang tidak saling mengenal seluruh anggotanya. Wilayah luas, seperti negara, kabupaten, atau kota sesungguhnya merupakan wilayah komunikasi. Di antara kita sesungguhnya terjalin hubungan tanpa saling memberi tahu, tetapi di antara kita saling tahu dan bersuara pada saat terjadi sesuatu yang mengganggu  terhadap hubungan yang lebih besar. Hubungan dengan ikatan kesepahaman inilah sebenarnya yang rumit tetapi jelas pada saat menyatakan kebersamaan. Kesatuan rasa dan keinginan terjaganya prinsip yang dipandang benar memudahkan dipertemukan dalam satu kegiatan. Banyak contoh menjelaskan kepada kita; peristiwa unjuk rasa, misalnya adalah contoh nyata dari ribuan orang yang tidak saling mengenal, tetapi disatukan dengan keinginan yang sama, memperjuangkan keinginan baik. Peristiwa perjuangan bangsa kita pada saat melawan penjajah. Para pahlawan bangsa itu berjuang di daerahnya masing-masing dengan tidak saling mengenal. Inilah komunikasi batin yang muncul dari rasa bersih, hati nuarani berbasis ikhlas hanya karena Allah. Para pahlawan memperjuangkan kesamaan kehendak,yaitu merdekan dari segala penjajahan.

Komunikasi itu penting dalam hal saling menjaga dan saling peduli. Kepedulian itu dimunculkan dalam perilaku yang tidak menyakiti pihak lain. Pemahaman terhadap posisi kita masing-masing akan terlihat dalam implementasi laku-kata. Pihak-pihak yang terlibat dalam berkomunikasi berjenjang karena sistem seperti tingkat atas, menengah, dan lapisan bawah (rakyat yang jumlah sangat banyak, mayoritas, tetapi tidak mempunyai kekuatan rutin). Kepala negara, para menteri, gubernur, wali kota, anggota dewan adalah pihak-pihak yang dapat menentukan arah kebijakan negara. Rakyat pada umumnya menjalankan (baca menerima) kebijakan negara; mungkin menyenangkan, mungkin juga sebaliknya. Rakyat menjadi objek dan kadang-kadang menjadi subjek pada saat-saat tertentu. Pada saat pemungutan suara rakyat menjadi subjek yang mempunyai kebebasan memilih sesuai dengan keinginan dan keinginan itu sering  bergantung kepada siapa yang memberikan kontribusi kepada dirinya dan kepada wilayahnya, kepada bangsa dan negaranya. Kebebasan itu tidak menjadi pokok pada saat pilihannya tidak menjadi bagian dari kemenangan. Pada umumnya rakyat bermimpi pada saat memberikan hak suara, haknya juga diperhatikan oleh yang terpilih. Hubungan mereka tidak sekedar pada saat kampanye.

Komunikasi antara rakyat dan para pemimpin terputus pada saat usai pemilihan. Calon pemimpin gencar turun ke lapangan pada saat kampanye. Mereka menyapa rakyat dengan sopan, dengan membawa angin segar, dengan menggambarkan program jika terpilih. Rakyat mendengar dengan baik, hanya mendengar karena kurang yakin jika menang akan menenangkan rayat. Komunikasi yang seharusnya terjalin adalah bagian batin. Para pejabat memahami keinginan rakyatnya. Mereka tidak berperilaku dan berperikata yang menyebabkan rakyat bereaksi. Ucapan-ucapan yang dilontarkan pada berbagai acara dan diberitakan melalui media massa atau kicauan melalui medsos diperhatikan rakyat, berjalan begitu saja tanpa kendali.

Di samping ucapan para pejabat, ucapan orang biasa atau luar biasa pun harus menentramkan rakyat. Setiap kata akan dicerna dengan berbagai makna dan kepentingan. Kata-kata yang terucapkan dengan pikiran dan timbangan rasa, Insya Allah tidak akan memunculkan reaksi tidak baik. Apa yang baru-baru ini terjadi (tentang puisi Sukmawati) harus menjadi perhatian para pejabat, apra tokoh, atau pada umumnya kita. Kita tidak sendirian di dunia ini. Segala hal gerakan kita diperhatikan. Oleh karena itu, kita berusaha untuk bertindak yang tidak mengundang perhatian dari masyarakat banyak. Mengapa tidak menggunakan kata yang menyejukan alih-alih menggunakan kata yang memancing “kemarahan”. Jika kata telah diucapkan, kata maaf memang dapat disampaikan, tetapi tidak menyelesaikan masalah karena masalahnya telah terlanjur ada. Orang bijak akan selalu memertimbangkan segala akibat yang ditimbulkan dengan munculnya kata-kata itu. Bahasa akan selalu membawa dampak; positif atau negatif. Oleh karena itu, mengapa tidak dirasakan sendiri sebelum orang lain merasakan.

Setiap orang memeroleh hak kebebasan bersuara dalam bentuk apa pun. Tulisan esai, deskripsi, eksposisi, narasi atau dalam bentuk syair (puisi). Kebebasan itu dalam arti yang sebebas-bebasnya tidak mungkin ada. Batasan di luar keinginan diri selalu ada. Orang bebas berpakaian, tetapi dibatasi dengan tata sopan pada saat berinterkasi dengan orang lain, pada saat ada hak orang lain yang harus dihargai. Gagasan seseorang dapat saja disajikan melalui berbagai cara dan media, tetapi harus diingat pada kata-kata itu memiliki kemampuan bermakna yang luas dari segi wilayah dan kepastian dari segi makan, meskipun orang yang berkepentingan memaknai sendiri. Kata  bisa lepas dari makna semula, makna yang direncanakan pengujar.  Kata memang netral, niat yang megendalikan dan niat terkadang bisa dibelokkan pada saat terkena kendala.niat terkadang ditafsrikan ornag lain yang mempunyai niat lain terhadap niat seseorang. Alasan dimunculkan untuk menutupi niat. Padahal niat itu dapat diketahui para pembaca/pendengar melalui rangkaian kata. Kata-kata itu sinyal yang memuat gagasan. Apakah orang sengaja menggunakan kata tertentu atau muncul begitu saja tanpa dipikirkan.

Bahasa itu olahan berbagai unsur yang saling berkaitan. Bahasa hanya sebuah media yang dikendalikan pengguna, tetapi pada saat tertentu akan membalik, meminta pertangungjawabn pengguna. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. (Q.S. Qaf:18). Berhati-hati pada saat mengucapkan kata,  karena itu menunjukkan dasar kuat dalam hal pengetahuan, perasaan, dan kepedulian. Pertimbangan hubungan dalam banyak hal menggambarkan kedewasaan. Prediksi terhadap segala hal yang akan terjadi pada masa depan sesungguhnya selalu menjadi perhatian bagi kita. Bahasa yang telah dipublikasikan akan cepat meluas tanpa kendali karena ia telah menjadi milik publik. Orang baijka tidak pernah berpikir apa yang diucapkannya hanya milik sekitar pada saat ucapan itu dikeluarkan. Bahasa (mulut dan kata) itu mampu menembus batas-batas wailayah fisik, mendunia. Semua orang berhak mendengarnya dan mengomentarinya jika bersentuhan dengan dirinya, bersentuhan dengan kelompok yang bergabung atas nama pribadi dalam satu keyakinan. Contoh telah banyak memberi tahu kita bahwa ketersentuhan masalah keyakinan, misalnya membangkitkan kesatuan tanpa  kenal nama, wilayah, suku dan pendidikan. Mereka menyatukan dalam satu keinginan untuk mempertanyakan, untuk mempertegas bahwa ada yang salah, bahwa ada yang harus diluruskan, bahwa yang harus diberitahukan, bahwa harus berhati-hati menyentuh wilayah yang sudah pasti. Ucapan yang ditujukan pada lingkup terbatas tidak dapat dibatasi karena ucapan adalah bunyi yang bebas mengudara, masuk ke telinga terbuka, membangun pikiran, perasaan dan tekad untuk merespons. Kondisi ini menuntut kita harus berhati-hati menggunakan bahasa. Banyak pertimbangan yang harus dilakukan dengan matang, dengan kedewasaan, dengan pengetahuan dan pengalaman serta perasaan yang melingkupi semua kepentingan. Pertimbangan dilakukan agar tidak menyinggung perasaan pihak lain, yang kenal maupun tidak. Pertimbangan jangkaun bahasa tidak dapat dilalukan karena tidak dapat dibatasi. Bahasa tidak mengenal batas wilayah. Bahasa dikenal langsung oleh pendengar yang berkepentingan atau menjadi berhubungan karena ada koneksi atas dasar tertentu yang tersentuh oleh bahasa.

Persentuhan antara pihak yang berkomunikasi terjadi. Hubungan diri, gagasan, dan itikad terjadi dalam silang kata bermakna. Semua ucapan merupakan wakil diri yang memberitahukan pikiran dan perasaan. Persentuhan itu diharapkan membawa kebaikan dan perbaikan bagi semua yang terlibat dalam wilayah komunitas. Dalam bentuk apa pun ungkapan dinyatakan seharusnya mewakili niat baik dan dinyatakan denagan cara yang terbaik. “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk” (An-Nahl: 125). Cara menentukan tersampaikannya tujuan secara mudah atau susah atau mungkin tujuan tidak tercapai. Apa yang dikatakan berhubungan dengan bagaimana mengatakannya. Orang bijak selalu mengedapankan penghormatan, pendugaan bahwa pihak yang ditujunya cerdas, mempunyai pengetahuan. Orang bijak tidak akan menyamakan orang lain dengan dirinya dalam hal tertentu, tetapi menyamakannya dalam hal umum; orang sakit bila disakiti, orang senang bila dihormati, orang senang bahagia, dan seterusnya. Oleh karena itu, ucapan sejuk, penuh makna menutupi ucapan kasar dan suwung makna.

Apa yang harus diberi tahu jika kita tidak tahu. Apakah orang akan menjadi tahu, jika kita tidak tahu? Mengapa ketidaktahuan itu harus diungkapkan dengan membandingkan yang tidak sejajar yang justru menjauhkan dari maksud? Jika tidak tahu, kewajiban kita mencari tahu, mencari ilmu. Ucapan ketidaktahuan tidak selalu bijak ditutupi dengan yang diketahui. Cara ini tidak menyelesaikan masalah. bahkan memunculkan masalah baru yang tidak diperkirakan muncul lebih besar. Perbincangan di wilayah bebas selalu terjadi. Semua orang seolahterlibat, seolah tahu tentang berbagai hal, seolah mempunyai kuasa untuk mengatakan apa pun menurut versinya dan menyebarkannya karena mengenal beberapa orang, karena mempunyai kelompok tempat berbagi. Percekcokan akan selalu terjadi selama kita tidak menyadari batas wilayah jangkauan dan kepedulian terhadap tetangga, terhadap keluarga, dan negara. Rasa hormat terhadap sesama dapat membuat kondisi komunikasi kondusif, perbincangan membangunkan kedewasaan, ucapan pemnuh hikmah. Semua ihak yang terlibat dalam komuitas itu bahagia karena menjaga mulut dan tanggnya. Kedua unsur itu hanya digunakan untuk saling menjaga, menghormati, dan membahagiakan. Ucapan yang mengjak kepada kebaikan. “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi shodaqoh atau berbuat ma’ruf atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.” (Annisa: 114)

Dimuat pada Kabar Cirebon, 17 April 2018

Abdul Rozak, Guru Besar pada FKIP-Unswagati Cirebon.