mengukur-saja-tidak-cukup

Mengukur Saja Tidaklah Cukup

Baru-baru ini, siswa Singapura memperoleh nilai teratas dalam tes global untuk matematika, ilmu pengetahuan dan membaca dalam Programme for International Student Assessment (PISA). Sambil kita merayakan keberhasilan ini, kami juga harus meluangkan waktu untuk mempertimbangkan apakah pengukuran kuantitatif ini cukup untuk mengukur potensi pelajar.

Penilaian terhadap siswa umumnya dikaitkan dengan tes dan ujian formal, tetapi terlalu berlebihan menyandarkan penilaian pada ukuran kuantitatif tersebut dapat menyebabkan kita melupakan apa yang bernilai dalam pendidikan. Kami berbicara kepada Dosen National Institute of Education (NIE) Singapura Dr. Tay Hui Yong dalam rangka menambah wawasan para guru demi meningkatkan pembelajaran terhadap siswa terkait penilaian.   

Di Singapura di mana penerimaan siswa sekolah yang kompetitif sebagian besar didasarkan pada hasil siswa, nilai-nilai ujian merupakan komponen penting dari penilaian terhadap siswa. Tetapi nilai-nilai ujian tersebut tidak harus menjadi segalanya.

Mengukur Apa yang Kita Nilai

mengukur-saja-tidak-cukup

Tay Hui Yong ingin agar guru tahu bahwa mereka memiliki otonomi dan kekuatan untuk melakukan lebih dari sekedar membawa siswanya sukses pada ujian nasional.

“Sementara sekolah memiliki perhatian kepada apakah siswanya belajar, pertanyaannya adalah apakah bukti belajar hanya terletak pada pengukuran, terutama oleh nilai tes,” kata Hui Yong, yang berasal dari Kelompok Akademik Kurikulum, Pengajaran dan Pembelajaran serta melakukan penelitian di bidang penilaian (assessment).

Ketika pengukuran kuantitatif seperti yang telah ada dilaksanakan apa adanya, kita menjalankan risiko mereduksi belajar siswa hanya ke nilai angka-angka belaka. Sebaliknya, nilai ujian harus dilihat sebagai indikator kapasitas siswa saat ini untuk membantu guru merefleksikan bagaimana mereka dapat lebih membantu siswa tumbuh dalam potensinya.

“Kita kadang-kadang begitu sibuk dengan skor akademik sehingga kita lupa bahwa belajar tidaklah mudah untuk diukur,” kata Hui Yong. Ada juga kecenderungan faktor-faktor lain yang tidak ada dalam pengukuran – seperti karakter – untuk dapat diabaikan, sehingga pengukuran menghasilkan gambaran yang sempit tentang perkembangan anak.

“Guru harus berlatih melakukan penilaian tentang hal lain yang penting dan terlepas dari rubrik pengukuran yang saat ini digunakan,” kata Hui Yong. Mengajar yang baik membutuhkan kesadaran bahwa ada lebih banyak hal untuk dinilai daripada sekedar pengukuran kuantitatif.

“Kita tidak bisa mengajar dengan baik jika kita tidak bisa menilai dengan baik,” tambahnya.

Menilai Siswa dengan Baik

Ini berarti bahwa guru perlu bertanya: Apa makna dari skor? Apakah siswa saya berjuang keras (pada ujian) karena kurangnya latihan? Apakah mereka memiliki kesalahpahaman konsep?

Langkah berikutnya dalam menilai yang baik adalah untuk menentukan bagaimana membawa seorang siswa dari posisinya saat ini ke tempat ia seharusnya berada (dalam pembelajaran). “Diskusinya adalah tentang bagaimana cara untuk membantu siswa memaksimalkan potensi mereka,” kata Hui Yong.

Salah satu cara melakukannya adalah dengan membuat kriteria keberhasilan untuk tugas secara jelas kepada siswa sebelum mereka mulai mengerjakannya. Misalnya, jika tugas ini adalah untuk menulis komposisi, maka siswa harus menyadari hal apa saja yang membuat komposisi yang baik dan apa penanda keberhasilannya.

Hal ini memungkinkan siswa untuk menilai diri mereka sendiri dan menemukan solusi mereka sendiri untuk masalah baru. “Pada akhirnya, kita tahu anak-anak telah belajar ketika mereka mampu melakukan semua ini sendiri,” jelas Hui Yong.

Mendorong Belajar Mandiri

Menghadapi tantangan mempersiapkan para pemuda untuk dunia yang semakin kompleks dan tidak pasti, Hui Yong merasa bahwa peran guru saat ini lebih besar dari hanya mempersiapkan siswa untuk ujian.

“Saya sering mengatakan kepada guru bahwa mereka memiliki otonomi, mereka memiliki kekuatan dan yang lebih penting, mereka memiliki tanggung jawab untuk melakukan lebih dari sekedar menyiapkan siswa untuk ujian nasional,” katanya. “Guru yang baik di sekolah-sekolah sudah melakukan hal ini pada kegiatan sehari-hari.”

Membantu setiap siswa menjadi pembelajar mandiri adalah tujuan akhir. Siswa harus menjadi peserta aktif dalam pembelajaran mereka sendiri – secara aktif terlibat mengajukan pertanyaan untuk memahami konsep-konsep kunci dan ide-ide.

Untuk mencapai hal ini, umpan balik ketika melakukan penilaian harus membantu siswa dalam mengarahkan pembelajaran mereka sendiri dan mengembangkan kapasitas mereka sebagai yang memutuskan (hakim) pembelajaran mereka (Boud & Molloy, 2013).

“Umpan balik yang paling efektif adalah memberikan petunjuk atau penguatan kembali yang menunjukkan siswa bagaimana melakukan tugas lebih efektif,” kata Hui Yong. Tergantung pada kemampuan siswa, guru mungkin memutuskan untuk mengomentari apakah tugas dilakukan dengan benar atau salah, atau menggunakan petunjuk untuk meminta siswa, bukan untuk berpikir dengan cara tertentu.

Tingkat yang berbeda dari Umpan balik (Feedback) dan Bagaimana Dampaknya terhadap Pembelajaran

Bentuk umpan balik siswa dapat mempengaruhi sikap mereka terhadap tugas-tugasnya. Sebaiknya, umpan balik guru dapat membantu memperkuat self-efficacy dan berpikir kritis di kalangan siswa. Hui Yong berbagi empat tingkat umpan balik yang umum digunakan di kelas (Hattie & Timperley, 2007).

Personal: Tidak merujuk langsung ke tugas itu sendiri (seperti perkataan pujian), "Usaha yang Bagus!" Umpan balik pada tingkat pribadi jarang efektif.

Tugas: Memberitahu siswa secara langsung apa yang benar atau salah dan apa yang harus diperbaiki. Misalnya, "Di mana faktor ketiga?"

Proses: Memberitahu siswa bagaimana melakukan tugas lebih baik. Misalnya, "Harap mendukung poin dengan bukti dari teks." Umpan balik tersebut mengarah pada pembelajaran yang mendalam yang dapat diterapkan untuk tugas berikutnya.

Self-regulation: Anjuran kepada pelajar untuk membuat penilaian atas karyanya sendiri melalui pertanyaan-pertanyaan seperti, "Bagaimana Anda bisa menampilkan hubungan yang lebih jelas antara dua paragraf?".

Umpan balik pada self-regulation mengarah ke peningkatan self-efficacy dan keterlibatan.

Umpan balik juga dapat ditingkatkan melalui dialog yang melampaui suatu subyek untuk memasukkan tujuan-tujuan lain dimana anak dapat kerjakan. “Idealnya, ini juga harus menjadi semacam umpan balik yang masuk ke dalam buku laporan,” kata Hui Yong.

Untuk mendiagnosa dan memberikan jenis yang tepat dari umpan balik untuk setiap siswa, dia telah membantu guru membingkai ulang peran mereka, menekankan bahwa untuk menjadi guru yang baik, mereka perlu untuk memeriksa kemajuan siswa mereka secara teratur di dalam kelas. Guru yang baik juga bekerja untuk mengembangkan peserta didik menjadi mandiri.

Dia berbagi, “Saya selalu bertanya kepeda guru: Ketika Anda tidak ada, apakah Anda memiliki keyakinan bahwa siswa Anda akan dapat mengatasi dengan caranya sendiri?” Karena bahkan tanpa guru, siswa mandiri akan dapat menilai di mana dia dan mencari tahu bagaimana untuk mendapatkan apa yang ia perlu dan dimana mencarinya.

Diterjemahkan dari majalah Singteach issue 59 Desember 2016 (*wh)

Baca sumber asli artikel