obituari

Obituari Djakaria Machmud (1946 – 2017)

Disiplin adalah Nafasku

Selepas salat Magrib, Selasa (10 Januari 2017) pesan pendek masuk. Isinya membuat saya tetegun, tidak bisa berkata. Setelah itu informasi berhamburan melalui WhatsApp. Isinya senada, yaitu mengucapkan doa untuk kebahagian di akhirat, guru kami, keluarga kami, sahabat kami, bapak kami; Djakaria Machmud. Beliau dipanggil Allah pada Selasa, 10 Januari 2017 pukul 18.25. Nama ini menempati lokus tertentu dalam hati saya. Saya hanya tertegun membaca pesan pendek itu. Saya belum membalas informasi itu karena ingin yakin. Saya kontak beberapa pihak tertentu. Berita itu menghambat langkah berpikir. Rasanya baru kemarin berbincang panjang di RSCM. Perbincangan kangen karena sekian lama tidak berbincang dari dekat. Selepas beliau menyelesaikan tugas sebagai rektor, kami sibuk dengan masing-masing kegiatan. Batin tetap berhubungan meski tanpa kata. Kaitan sekian lama masih tertancap. Nasihat yang diutarakan sambil gurau dan tawa serta keseriusan menjadi bagian berganti cara dalam kepemimpinan beliau. Berita yang menyesakkan dada itu muncul seketika. Memang begitulah kematian itu.

Kematian memang tidak pernah berkompromi. Ia siap membawa manusia menuju keabadian. Apa pun yang direncanakan pada awalnya, salalu berakhir pada ketentuan Allah Subhanahuwataala yang Mahakuasa. Kekuatan kita karena Allah yang memberinya. Kekayaan, kekuasaan ada pada kita sebagai titipan yang pada saatnya akan diambil, akan dipertanggungjawabkan. Kita hanya bagian kecil dari kekuasaan Allah yang Mahabesar, tak terbatas. Oleh karena itu, kita sangat rugi pada saat sempat tidak dimanfaatkan, pada saat sehat tidak digunakan dalam perilaku kebermanfaatan, pada saat berkuasa tidak berbuat untuk kemaslahatan, pada saat kaya tidak sempat berbagi dengan sesama. Insya Allah beliau telah menunaikan tugasnya dengan baik, dengan selalu mendahulukan kepentingan umat, dengan selalu berpedoman pada ketentuan Allah.

Banyak gagasan yang beliau lontarkan untuk kemajuan Unswagati. Saya teringat pertemuan intensif, komprehensif, dan kondusif dengan beliau pada tahun 2005. Obrolan yang kian ke mari berakhir pada permintaan agar saya membantu dari dalam. Saya diminta menjadi kepala sekretariat. Kepala sekretariat adalah gagasan beliau. Saya ditugasi untuk mengelola berbagai aktivitas beliau dan keuniversitasan. Pikiran kebirokratan berpengaruh terhadap perilaku kebijakan dalam mengelola ragam akademik. Tindak laku sehari-hari beliau menggambarkan kecepatan dalam menentukan dan melakukan kebijakan. Menjadi kepala sekretariat pengalaman yang menempa saya memahami bekerja mengikuti alur menuju target yang telah ditentukan. Saya harus tahu banyak hal tentang apa saja yang berkembang di sekitar kampus.

Beliau pekerja keras. Setiap pekerjaan harus diselesaikan tepat waktu dengan benar. Jika dapat diselesaikan hari ini,mengapa menunggu besok. Ini adalah prinsip yang pada mulanya menyusahkan kami sebagai staf rektorat. Terkadang saya pulang pada saat kantor telah sepi. Sering kali sebelum jam kantor saya diminta ke rumah untuk menyiapkan agenda hari itu. Kebiasaan bekerja secara teratur ternyata membuat saya merasa nyaman dan bahagia karena segalanya ada ukuran. Saya menjadi tahu apa yang harus dilakukan dan apa yang seharusnya tidak muncul. Saya menjadi tahu bagaimana cara berkomunikasi dalam lingkar birokrat. Kekakuan pada akhirnya saya tahu bukanlah ciri khas birokrat. Birokrat adalah keberjenjangan yang harus dilakukan untuk tertib perilaku administrasi dan akuntabilitas. Pengalaman ini yang tidak mungkin saya peroleh tanpa bersentuhan dengan aktivitas beliau, tanpa diajak bersama mengelola unversitas.Ilmu praktik dengan cara teladan lebih cepat menerap dalam diri dan hati.

Kebersamaan adalah perilaku yang sangat menonjol pada beliau. Perbincangan selalu mengawali segala tindakan. Kami sering berkumpul membicarakan langkah, masalah, dan segala hal untuk kebaikan dan kemajuan Unswagati Cirebon. Sering kali kami serius. Paling sering diselingi tersenyum dan tertawa. Beliau adalah teman bicara yang menyenangkan. Banyak cerita baru bagi saya. Pengalaman beliau yang beragam menjadi menarik untuk didengar. Gaya bercerita tidak membosankan. Cerita panjang sebagai birokrat selalu menarik saya. Bermula di Cirebon menuju Gedung Sate, terus ke Tangerang dan akhirnya kembali ke tanah kelahiran, menjadi Rektor Unswagati Cirebon selama 2 periode (2005 – 2013) adalah rangkaian kegiatan yang menarik. Kami senang mendengarkannya karena cara beliau bercerita. Nasihat-nasihat diselipkan tanpa terasa. Saya banyak berkaca pada pengalaman beliau. Banyak bekal yang saya terapkan dalam mengelola diri dalam kebersamaan.

Kami sering makan bersama-sama di rumah makan yang sederhana dan juga di rumah makan yang berkelas. Makan bersama menjadi momen untuk saling sapa, menyampaikan rasa tanpa merasa mencari kesalahan. Beliau selalu mengingatkan dengan cepat bila ada kesalahan yang akan mengganggu keberhasilan program. Beliau menegur seketika. Pada mulanya saya kaget. Setelah saya pelajari, banyak hikmah yang diperoleh. Saya selalu berhati-hati dalam bertindak. Komunikasi adalah kunci yang selalu beliau ingatkan dan jalankan. Putusan rektor telah dibicarakan berulang dan jika ada kesalahan, tidak pantang untuk diperbaiki, tidak malu untuk mengakui bahwa di satu sisi terdapat kesalahan. Kebersamaan dalam berbagai hal menjadikan kami kuat, menjadikan kami saling menjaga. Setiap masalah dibicarakan bersama untuk mendapatkan putusan. Setiap putusan diproses dengan mendasarkan pada ketentuan yang berlaku dansetiap putusan yang keluar menjadi tanggung jawab beliau.

Benar dan tepat adalah ketentuan yang diberlakukan. Beliau selalu bertanya dengan rinci setiap ajuan dari pimpinan universitas. Tidak ada putusan yang lepas dari daya kritisnya, daya telitinya, daya koreksinya. Surat-surat yang beliau tandatangani adalah surat yang telah berkali-kali bolak-balik beliau periksa. Kesalahan sekecil apa pun akan ditemukannya. Apalagi kesalahan konsep. Apa yang saya senangi dari beliau adalah selalu ada solusi, ada koreksi sehingga saya menjadi mudah memperbaikinya. Inilah kriteria pemimpin yang memperbaiki untuk kebaikan dan kemartabatan dirinya dan semua yang dipimpinnya. Beliau bukan tipe orang yang cepat percaya. Beliau akan baca seluruh surat, seluruh usulan, seluruh draf putusan. Corat-coret pada draf telah biasa saya temukan. Bahagianya jika surat tanpa coretan. Pada akhirnya saya memplejari gaya beliau dalam segala hal. Proses belajar inilah yang saya temukan pada sosok kepemimpinan beliau. Selalu ada hal yang menarik setiap mengobrol apa pun. Selalu ada celah yang membuat kita bisa memasukkan ke dalam pikiran dan hati, terutama kecerdasan dalam putusan, dalam obrolan. Rinci adalah hal yang beliau pegang. Alternatif adalah ketentuan pada setiap kegiatan.

Beliau ada pada setiap kegiatan. Pada saat wisuda, misalnya selalu saya diminta laporan rinci pada 3 hari sebelumnya dan 1 hari sebelumnya. Kewaswasan, dag-dig-dug karena takut salah, takut tidak sukses memicu saya memerhatikan rincian sebelum ditemukan beliau. Semua kegiatan harus dilaporkan dengan rinci. Saya menjadi sadar kini mengapa beliau selalu minta rincian. Beliau adalah penanggung jawab segala kegiatan di kampus. Beliau harus tahu rincian untuk mengevaluasi, untuk memberikan saran, untuk menjawab pertanyaan dari siapa pun. Inilah pemimpin yang mempunyai tanggung jawab. Undangan beliau periksa sejak awal. Beliau memberikan catatan pada acara apapun untuk kebaikan, agar terhindar dari kesalahan. Memang pada awalnya cape bekerja dengan beliau. Akan tetapi, dengan niat belajar rasa itu hilang  lenyap tanpa sisa.

Perilaku beliau di dalam dan di luar universitas selalu bertujuan untuk membesarkan Unswagati, untuk menarik minat masyarakat agar menitipkan anak-anaknya di Unswagati. Ada saja gagasan segarnya. Pada tahun 2005 dimulai pasar murah Ramadan. Acara ini dipersiapkan dengan matang. Berkali-kali rapat agar tidak terjadi kesalahan. Setiap rapat semua seksi yang bertanggung jawab dimintai laporannya. Alhamdulillah pada pelaksanaannya lancar, banyak dikunjungi masyarakat. Penerapan gaya kepemimpinan ala pimpinan daerah diadopsi dengan baik, dimodifikasi dengan cermat. Pasar murah Ramadan sampai tahun kemarin dilaksanakan, dilanjutkan oleh rektor sekarang. Untuk pertama kalinya saya terlibat dalam kegiatan yang menguras tenaga. Kami belum terbiasa dengan hentakan-hentakan kerja seperti ini. Alhamdulillah, saya dapat mengikuti dengan alur yang disiapkan beliau. Kata kuncinya adalah kepercayaan, berbaik sangka, menemukan kebaikan bagi kemaslahatan umat, dan tentu saja belajar terus menerus untuk meningkatkan kualitas diri.

Pada awal kepemimpinan beliau juga, saya dikejutkan dengan tarawih keliling, subuh keliling, dan Jumat keliling. Ini kebiasaan yang telah dilaksanakan pada saat beliau menjadi walikota Tangerang. Saya mengikuti dengan tenang, mencari hikmah di balik aktivitas ini. Selama dua periode kagiatan ini tidak pernah lepas. Pada setiap kunjungan ke masjid selalu ada bingkisan (sadaqoh) dari Yayasan Al-Machmud dengan tetap mengedepankan nama Unswagati. Kegiatan ini pada dasarnya adalah untuk membawa Unswagati ke tengah masyarakat. Alhamdulillah hampir pelosok kota dan kabupaten Cirebon tersentuh.

Membawa kampus ke luar dari wilayah diri adalah kebijakan yang membawa dampak positif terhadap perkembangan Unswagati. Persentuhan dengan pemerintah, dengan media dimainkan dengan baik. Kampus menjadi dekat dengan instansi daerah dan pusat, dengan media massa, dengan perguruan tinggi lain juga tidak dilupakan. Pada masa beliau memimpin Unswagati diperoleh izin penyelenggaraan Fakultas Kedokteran. Hubungan beliau dengan beberapa pejabat menjadi salah satu kunci keberhasilan pemerolehan izin tersebut. Saya selalu mendampingi beliau berkonsultasi dengan FK Undip dan dengan politisi Senayan, juga dengan pihak Dikti. Semua jalur dicoba, didekati untuk memuluskan kelahiran FK. Pada masa beliau juga lahir Prodi Magister Pendidikan Bahasa Indonesia.

Paparan ini dari sudut pandang pribadi. Tetapi itulah kesan saya. Itulah rasa hormat saya setelah 7,5 tahun mendampingi beliau. Terlalu banyak hal yang berkecamuk dalam diri dalam kondisi duka saat ini. Akan tetapi, saya perlu menyampaikan hal ini kepada khalayak. Insya Allah beliau banyak beramal yang menjadikan orang berbaik sangka, yang membuat orang belajar dari perilaku baik beliau. Semoga Allah Swt. menjadikan amal baik beliau sebagai wasilah mendapatkan surga, bertemu dengan orang-orang saleh di taman surga.

Selamat jalan guruku, sahabatku, saudaraku. Seluruh keluarga sivitas akademika Unswagati akan selalu berdoa, akan selalu mengenang jasamu yang luar biasa dalam pengembangan Unswagati. Insya Allah kami akan melanjutkan langkah yang telah engkau siapkan. Fasilitas kampus yang berkembang pesat, jumlah mahasiswa yang meningkat, sarana transportasi mobil kampus  bersliweran, kesejahteraan meningkat tajam adalah keberhasilan yang dicatat dalam hati seluruh sivitas akademika dan hal itu menjadi tantangan bagi penerusnya, bagi siapa pun. Kami akan selalu meneladani sikap disiplinmu dalam segala kegiatan. Engkau selalu mengatakan bahwa DISIPLIN ADALAH NAFASKU. Prinsip ini engkau terapkan dengan baik dalam segala hal.

Terima kasih Pak Djakaria, engkau telah memoles kampus kami tercinta menjadi cemerlang. Semoga kami dapat melanjutkan gagasan cerdas yang telah engkau terapkan dengan indah. Indah bersamamu, meski hanya sekilas, karena memang hidup kita di dunia sekedar mampir. Engkau, insya Allah telah menyelesaikan tugas di dunia dengan begitu indahnya. Semoga Allah Yang MahaPengasih rida terhadapmu. Selamat jalan karibku. Bekerja denganmu sangat menyenangkan, sangat membanggakan, terhormat, tidak takut bertindak karena engkau selalu mendukungku.  Ya, Allah masukkan sahabatku ke taman surga-Mu. Amin.

Penulis: Prof. Dr. H. Abdul Rozak, M.Pd (Dekan FKIP Unswagati)